Fisika Dasar dalam Mindset Bisnis Saya

Udah tau kan kalo saya jualan kaos? Hehehe. Nah, di suatu kelas kuliah ‘Metode Pengukuran Fisika’, dosen saya berkata “Itu mas Fadly, stress belajar fisika, malah sekarang jualan kaos. Umm, saya sih senyum-senyum saja mendengar apa yang beliau sampaikan dan menjadi bahan tertawaan teman-teman di kelas. Atau ada teman saya berkata, “Kamu kan mahasiswa fisika, kok gak nyambung banget, malah jualan kaos? Ya ilmunya gak bermanfaat“. Seringnya sih saya gak mau ambil pusing dengan apa yang orang lain sampaikan, utamanya asumsi-asumsi negatif tentang aktivitas saya. Selama saya senang menjalaninya, halal, dan tidak merugikan orang lain, ya sah-sah saja. :D Namun belakangan, saya pun jadi ikut berpikir, “Apa benar ilmu fisika yang saya pelajari di kelas itu sama sekali tidak bermanfaat jika saya terjun menjadi pengusaha?” Let me think for a while. Halah. :D

Saya lantas mencoba merenungi perkataan dosen saya tadi. Saya bertanya dalam hati. “Apakah aktivitas saya berbisnis itu karena saya stress belajar fisika? atau ada sebab lain?”. Pertama yang harus diketahui, belajar fisika memang seringkali membuat saya stress. Seringkali.  Bukan selalu. Itu tak lain karena saya tidak terlalu suka dengan hal-hal yang abstrak. Dan Anda tahu betapa banyak hal yang abstrak dalam mata kuliah fisika?  :p (Sebenarnya bukan abstrak, hanya saja penglihatan kita belum mampu menjangkaunya. Hehehehe) Jawabannya seperti lapisan dalam Wafer Tango, yaa.. ratusaaaannnn.. lebiiih….. :p   Dan setelah agak lama saya merenung, ahaaa.. saya temukan juga jawabnya. Dosen saya tadi tidak mutlak salah. Bukankah sudah menjadi tabiat manusia saat dirinya merasa jenuh dengan satu hal, ia akan beralih kepada hal lain? (termasuk hubungan percintaan? :-P ) Umm.. jadi saya jenuh nih belajar  fisika? Kadang sih. :D . Lebih jauh lagi, sejak remaja (FYI, usia saya sekarang sudah 22 tahun, jadi dapat dimengerti donk kenapa saya sertakan kata ‘sejak’ :D ) saya suka dengan uang.  (Anda juga kan?) Bagi saya, ada u-a-n-g dalam kata ‘peluang’.  Tapi nampaknya pragmatis sekali kalau saya menjadikan uang sebagai alasan saya berbisnis. Terus apa donk? Baca selebihnya »

Saya Rindu Setahun yang Lalu

Hari ini tanggal 26 Oktober 2011. Bagi saya, sudah setahun berlalu sejak Merapi mulai meletus di utara Jogja 2010 silam. Di jam-jam seperti ini, saya ingat masih sedang sibuk men-chat teman-teman saya di facebook untuk membantu para korban letusan. Saya juga masih ingat tentang hujan abu yang begitu tebal dari pagi hingga malam tiada henti. Menutup jalanan dengan lapisan debu yang beraroma khas belerang. Ketika apotek-apotek kehabisan stok masker. Pun saya masih ingat, ketika orang-orang berbondong-bondong tinggalkan Jogja karena khawatir keadaan Merapi semakin memburuk. Kala itu, saya memilih tinggal di sini. Berkawan dengan abu Merapi.

Hari itu saya menelepon ibu saya di rumah untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa pulang. Ibu waktu itu hanya berpesan, “Yang penting kamu sehat di sana dan selamat”. Ahh, pesan yang membuat buliran air mata saya jatuh tak tertahan. Sebegitu mengkhawatirkan kah? Seakan ini adalah akhir kehidupan?  Saya tak juga berhenti berpikir, “Kalau saya pulang seperti halnya ribuan orang lain tinggalkan Jogja, siapa yang akan membantu orang-orang di sini?” Berat memang.  Tapi naluri saya berkata lain. Satu per satu kawan, saya hubungi. Di saat seperti kala itu, butuh lebih dari sekadar doa untuk membantu ringankan beban. Dari hari ke hari, saya banyak terima bantuan melalui apapun bagi korban di sini. Dari pagi hingga sore, saya masih ingat membawa uang tiga juta rupiah di saku celana untuk pergi ke Hypermart membeli sembako. Sejak hari itu hingga dua minggu setelahnya, aktivitas saya praktis berubah. Kuliah diliburkan dan Jogja ditinggal para perantaunya. Di pagi hari saya catat kebutuhan pengungsi sembari menunggu nominal yang cukup untuk belanja, di sore hari saya ke supermarket dekat kampus untuk membeli kebutuhan pengungsi dan saya antarkan seketika itu juga.

Saya lakukan semuanya itu sendirian. Kepuasan melakukan aktivitas positif bagi orang lain sendirian rasanya melampaui apapun. Kesana kemari, sibuk mencatat posko mana yang masih kekurangan. Atau saat pada akhirnya saya hafal letak barang-barang di supermarket karena setiap hari selama dua minggu nyaris tak berhenti belanja berkardus-kardus. Saya pun pada akhirnya berkenalan dengan banyak orang yang mengabdikan dirinya untuk mereka para korban  Merapi. Juga orang-orang yang bahkan saya tidak kenal dan mereka pun tidak kenal saya, serta merta mau memberikan bantuan lewat aksi swadaya untuk Merapi. Memang benar, Merapi kala itu membuat saya dan semua orang menjadi pribadi yang humanis.

Setahun yang lalu, memberi itu bukan berarti kita punya sesuatu dan orang lain tidak punya sesuatu itu. Kala itu, memberi bermakna berempati dengan apa yang pengungsi alami. Mencoba sedikit merasakan nikmatnya bersyukur dengan apa yang didapati selama ini. Nasib orang lain yang tak seberuntung kita dan membayangkan akankah kita setegar mereka jika diuji dengan musibah yang sama. Tentu tak banyak dari kita yang kehilangan sanak saudara dan kampung halaman dalam waktu bersamaan, bukan? Lebih jauh dari itu, bayang-bayang yang menyelimuti mareka tentang kehidupan nyaris pupus karena Merapi meletus. Rutinitas yang biasanya saya lakukan setelah selesai antarkan bantuan  adalah duduk di sudut barak pengungsian mengamati orang-orang dengan nasibnya masing-masing. Memang benar kata Allah, semua yang terjadi di dunia itu bukanlah sia-sia. Ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak terkecuali musibah. Kesabaran, mungkin?

Setahun yang lalu, saya masih ingat saat saya ke sebuah posko di lereng Merapi di Boyolali antarkan bantuan, saya menangis sesenggukan. Ratusan orang yang ternyata belum tersentuh bantuan hanya berbekal 1 liter beras dan sekardus indomie. Atau saat saya ke posko pengungsi di Sleman melihat orang-orang tua dengan tatapan kosong akan harapan. Atau bayi-bayi yang kehabisan sarapan di Muntilan?  Semua itu mengajarkan saya arti ketulusan. Betapa saya hidup di atas kecukupan dan tidak sepantasnya mengeluh saat kekurangan. Agaknya saya kini terlalu sering menjadi manusia pelupa. Dan perlu untuk kembali mengingat saat-saat kehidupan itu juga ada saatnya menderita. Dan saya berpikir, ada kalanya musibah itu perlu datang sesekali agar saya bisa ingat nikmatnya bersyukur dan introspeksi diri.

Setahun yang lalu juga saya mulai sering merenung tentang makna musibah. Sebagai ujian, peringatan, atau adzab dari langit? Ujian tentu bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhannya. Peringatan juga maknanya sebagai kesempatan untuk kembali kepada jalan Allah. Atau justru adzab karena banyaknya dosa yang telah saya lakukan di dunia ini. Apapun, kala itu saya hanya berdoa agar Allah gantikan setelah ini kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ahh, saya rindu sekali suasana seperti itu. Bukan hiruk pikuk hujan abu atau letusan Merapi. Tapi rindu menjadi seseorang yang tegar di tengah musibah. Yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang sama. Bukankah tidak ada yang lebih nikmat dibanding menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang  sama? Saya rindu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saya pun rindu dengan tatapan-tatapan kosong para jompo dan pecah tangis bayi-bayi di barak pengungsian yang mengajarkan saya arti ketulusan.Dan puncaknya, saya rindu menangis syukur kala berkunjung dari satu posko ke posko antarkan bantuan. Rasanya saya ingin kembali ke saat-saat di mana saya begitu sibuk perhatikan sekitar. Menjadi manusia sosial seutuhnya.

Kini setahun telah berlalu. Semuanya berganti dengan hari-hari penuh harapan. Harapan bagi saya dan harapan bagi para korban Merapi yang sampai saat ini masih berjuang merajut kehidupan yang baru. Yang terjadi setahun yang lalu sepantasnya menjadikan kita pribadi yang bijak dari masa ke masa.  Toh intinya bukan tentang berapa kali kita terjatuh dalam ujian, melainkan seberapa tegar kita mampu bertahan dan bangun dari keterpurukan. Selamat tinggal, Merapi. Semoga  engkau tak hanya jadi kenangan.

 

 

Lorong Bengkel Jurusan Fisika, Yogyakarta. 26 Oktober 2011.

[Edisi Ramadhan] Amplop untuk Pak Kyai

Bismillah

Udah ketahuan ya dari judulnya? Hehe. Ya nih, masih seputar kultum di bulan Ramadhan. Cuma di bulan ramadhan aja orang bisa dengerin ceramah agama tiga kali sehari. Ya kan? Mulai dari kuliah shubuh, jelang berbuka, dan kultum sebelum tarawih. Tapi, kadang-kadang jadwal  yang udah disusun itu gak bisa semuanya terisi sama pembicara. Ada saja sesekali yang berhalangan hadir. Akhirnya, daripada gak ada yang ngisi ceramah, orang-orang yang difungsikan sebagai “ban serep” seringkali bermain peran. Haha. Maksudnya apa nih, kok pake istilah ban serep?

Ya, jadi ceritanya mushola deket kos saya itu cuma mushola kecil. Paling banyak menampung 50 sampe 60 orang jama’ah. Dan gak mau kalah sama Mesjid Gedhe Kauman (btw, udah tau donk kalo kos saya di Kauman? #pentingbanget ), jadwal penceramah pun udah rapi dibuat oleh panitia. Dari awal sampe akhir Ramadhan. Dari kuliah shubuh sampe kultum tarawih. Masalahnya, penceramah yang udah dijadwalin itu seringkali mangkir dari jadwalnya. Parahnya, tanpa pemberitahuan pula. Jadilah orang-orang yang menjadi ban serep itu beraksi. Menyelamatkan jama’ah dari keheningan mimbar kosong. Haha. #tunjukidungsendiri

Baca selebihnya »

[Edisi Ramadhan] Tips Mengisi Kultum buat Newbie

Ya namanya juga bulan puasa, pasti banyak banget tuntutan buat panitia kegiatan menyemarakkannya. Bikin jadwal kultum misalnya. Mulai kultum abis shubuh, menjelang berbuka, dan pas shalat tarawih. Saking abisnya stok ustadz, kamu yang notabene  bukan ustadz, santri juga kagak, alim juga kadang-kadang doank, ngerti agama cuma sedikit,  ketiban “kehormatan” dari panitia buat ngisi kultum di mushola deket rumah. Nah lo? Mau ngeles apa? Mereka udah susah-susah bikin jadwal dan nyari stok ustadz yang kira-kira lebih pantas buat ceramah, tapi   terpaksa milih kamu yang abal-abal ini buat ngisi. Hahaha. Satu kata yang mau gak mau harus kita jawab kalo udah dapet amanah (ceilee.. amanah nih yee :P ) kaya gini adalah, “Insya Allah.” Tapi, jangan asal jawab juga, jangan cuma berbekal nekad tapi gak punya persiapan. Sapa bilang ngisi kultum itu sama kaya ngobrol atau orasi? Beda bro. Isi kultum itu kudu religius. Yah secara kamu ngisinya di mesjid/musholla, bukan di depan kelas atau di bunderan yang bisa seenaknya orasi ngalor ngidul.

Tips apa aja sih yang kudu kamu tau kalo mau ngisi kultum pertama kalinya? Biar jama’ah gak bubar atau minimalnya gak ngelempar sendal mereka ke mukamu, karena tiba-tiba kamu yang kutu kupret ini yang maju naik ke podium gitu. Hehehe. Biar kita semangat. Semangat ramadhan, semangat latihan jadi pildacil :D , atau latihan mengamalkan hadist “ballighuu ‘anniy walaau aayatan. Sampaikanlah (ilmu) dariku walau satu ayat). Insya Allah bakal dikasih kemudahan. Amin. Langsung aja lah. Dari tadi gak to the point nih. Okey, tips mengisi kultum buat kamu para newbie yang baru pertama kali naik podium mushola itu kira-kira begini. Baca selebihnya »

[Edisi Ramadhan] Luput Mensyukuri Angin

Bismillah.

fadhlyoke.wordpress.com

Kemarin (6/8) petang, saat saya hendak pergi ke mesjid favorit saya untuk shalat tarawih,(oh ya, FYI, saya punya beberapa mesjid favorit yang saya shalat tarawih di sana karena bacaan imamnya bagus,tidak terlalu cepat juga tidak lambat) saya kembali hrus menuntun motor saya di sepanjang jalan ke alun-alun Jogja. Apa mau dikata, baru saja 50 meter saya naik di atas motor, tau-tau bzzzzz… ban motor saya kempes. Awalnya saya berpikir, ini pasti kempes saja, bukan bocor , mengingat baru kemarinnya saya ganti ban dalam baru. Okey. Masih sempat lah kalo ngisi angin duu. Saya tuntun motor saya sejauh 300 mete ke tambal ban berniat isi angin saja. Singkatnya, setelah diperiksa oleh tukang tambal ban, ban motor saya kembali bocor. Kembali bocor karena sudah 3 kali itu dalam 3 hari berturut-turut ban motor saya bocor. Qadarullaah wa maa syaa fa’al.

Kebetulan tukang tambal ban malam itu tergolong ramah. (Setelah saya kenalan, namanya Pak Doel). Dijelaskan lah saya tentang serba-serbi ban motor yang bagus, tukang tambal ban yang kompeten, dan bagaimana cara menambal ban yang baik. Hmm, lumayan, saya dapat ilmu tentang pengalaman pak Doel yang sudah puluhan tahun jadi penambal ban. Singkat memang proses nambalnya, karena Pak Doel menambal ban secara otomatis, tidak pakai dibakar segala. Tiga hari itu memang saya akrab dengan tambal ban karena berturut-turut ban saya bocor. Awalnya malam-malam di dekat kampus, esoknya di jalan hendak ke mesjid berburu ta’jil (dan akhirnya saya gak buka gratis di mesjid :D ), dan terakhir ini di dekat alun-alun utara jogja saat hendak tarawih. Ahh, saya anggap biasa. Semua orang pun pernah mengalaminya. Baca selebihnya »

Materi Ujian Semester Fisika Material

Bismillaah…

Berikut ini adalah file-file yang akan menjadi bahan ujian semester genap 2011 Fisika Material Pak Kuwat Triyana. Silakan diunduh dan disebarluaskan…. Semoga Allah memudahkan ujian semester kita dan semoga bermanfaat..

5_Solid Imperfections

6_Solid State Diffusion

18_Electronic Materials

20-Photonic Materials

Optical Properties

ch19-Magnetic Materials

Biarpun Kecil yang Penting Rutin

Hari ini, ya hari ini, saya muter-muter daerah sekitar kampus nyari kontrakan sama si Robi. Yup, saya yang hampir tiga tahun belakangan ini tinggal 4 km jauhnya dari kampus akhirnya menyerah juga. Saya pengen nyari kos/kontrakan yang deket kampus aja. Singkatnya, kami gak dapet apa-apa. Malah nemu rumah yang dikontrakin lima puluh juta setahunnya. Hahaha. Karena shock sekaligus ketawa-ketawa sendiri nemu kontrakan yang doesn’t make a sense sama sekali itu, kami puter arah ke masjid Al Hasanah deket kampus saya.

Ya, setiap minggu ba’da maghrib ada kajiannya Ustadz Zaid Susanto sampe adzan Isya’. Udah dua minggu gak kajian sama Ustadz Zaid. Minggu lalu kajiannya libur karena beliau masih di Banjarnegara. Kali ini masuk ke bab baru, bab “Menjaga Amalan-amalan Shalih” dari kitab Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhus Shalihin-nya Syaikh Salim al Hilali.  Masih nyambung sama kajian dua minggu sebelumnya sih tentang sederhana dalam mengamalkan amalan shalih. Inti kajian kali ini ya tentang Allah yang suka sama seseorang yang berbuat baik walaupun kecil tapi dilakukan secara kontinu alih-alih amalan yang besar tapi cuma sekali dilakuin.  Ini ada di hadist Nabi shalallaahu ‘alayhi wasallam kalau saya gak salah.  Baca selebihnya »

Agar Wibawa Melekat di Jiwa

Semalam, saya kembali lanjut membaca buku “Mereka adalah Tabi’in”. Saya tiba pada bagian tabi’in yang utama, Ahnaf bin Qais. Nama asli beliau memang bukan yang itu, tapi Adh Dhahhak. Ahnaf adalah julukan karena dalam bahasa Arab, Ahnaf berarti kaki yang bengkok. Dan pemberian julukan yang seperti ini untuk mendeskripsikan fisik seseorang kepada orang lain yang belum mengenal memang dikenal dan bukan sebuah kejelekan loh.

Jadi ceritanya, walaupun Ahnaf bin Qais memiliki banyak kekurangan dalam hal fisik, beliau memimpin seratus ribu orang dari kaumnya yakni Bani Tamim. Mengapa beliau begitu disegani? Mengapa Umar Ibnul Khattab radiyallahu ‘anhu menyebutnnya sebagai pemimpin dari kota Bashrah? Wow! Ternyata eh ternyata, sungguh melekat dalam jiwa seorang Ahnaf bin Qais Rahimahullah kewibawaan, ketegasan, dan kepemimpinan dalam berhadapan dengan orang lain.  Berkali-kali orang menanyakan kepadanya tentang rahasianya, di antara mereka bertanya, “Bagaimana kaum Anda menganggapmu sebagai pemimpin wahai Abu Bahr?” beliau menjawab, “Barangsiapa memiliki empat hal, maka dia akan bisa memimpin kaumnya dan tak akan terhalang mendapatkan kedudukan itu.” Orang itu betanya, “Apakah empat hal itu?” beliau menjawab, “Agama sebagai perisainya, kemuliaan yang menjaganya, akal yang menuntunnya dan rasa malu yang mengendalikannya.” Baca selebihnya »

Kelak Tidurmu Akan Lebih Panjang #cemmunguddhh #eaaa

Hari ini saya kembali membaca buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”. Dan memang saya suka sekali dengan cerita-cerita sejarah. Membawa saya berfantasi dalam tamasya religi para murid shahabat Rasulullah. Membaca kisah-kisah mereka yang sungguh menakjubkan. Saya sampai pada bab tabi’in Shilah bin Asyyam. Dikisahkan di dalamnya bahwa beliau memiliki seorang sepupu yang juga seorang Tabi’iyah (murid shahabat Rasulullah dari golongan wanita). Beliau bernama Mu’azhah Al ‘Adawiyyah.  Murid Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha.

Mu’azhah adalah seorang wanita yang taat beribadah dan zuhud (bersahaja) terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan  jika malam telah tiba, beliau berkata: “Barangkali malam ini adaah malam terakhir bagiku”, maka beliau pun terjaga untuk beribadah sampai fajar. Dan jika siang hari telah tiba, beliau pun berkata: “Barangkali ini adalah hari terakhir bagiku”, maka beliau pun memanfaatkannya untuk beribadah dan beramal shalih lainnya. Baca selebihnya »

Saya Blogger, Bukan Reporter!

Bismillah.

Wah. Sudah lama sekali saya gak nulis sesuatu di blog ini (kemana aja, fad?). Rasanya gak semangat (atau otak yang bebal?). Mungkin inilah yang bikin banyak orang bertumbangan di kancah per-blogging-an (emang ada gitu istilah bertumbangan kaya po’on?). Nulisnya ya moody aja. Ngikutin mood.  Masalahnya, lebih banyak gak moodnya daripada mood buat nulis. Hahaha. Maklum, kegalauan karena problem dan romansa kehidupan nyata membuat seseorang pada akhirnya menjadikan blogging sebagai hobi semata, bukan rutinitas. Kalo lagi senggang dan mood, ya baru nge-blog lagi. Kalo lagi gak ada yang diceritain, ya udah deh. Yuk dadah babay.

Ini yang bikin banyak blog akhirnya mati, ditinggal pengunjungnya. Traffic udah stabil di angka 100 atau 200 orang per hari, karena jarang update jadi orang-orang juga males mau dateng. Saya udah 2 tahun lebih punya blog ini. Ya pasang surut selalu terjadi, bahkan setiap saat. Ritme saya kalo lagi males biasanya sebulan sekali baru nulis di blog ini. Kalo lagi rajin, 3 hari sekali mungkin bisa. Hahaha. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.