Sembilan Hari di Kampus Biru

Kampus Tercinta

Kampus Tercinta

Masih dalam gegap gempita suasana awal kuliah, kali ini saya akan menceritakan tentang warna-warni kehidupan kampus yang saya alami selama sembilan hari terakhir ini saya memasuki bangku kuliah. Sebelum saya memulai kuliah, terlebih dahulu saya mengikuti ospek yang berlangsung selama empat hari.

Sebenarnya banyak yang akan saya ceritakan tentang ospek kampus, hanya saja menurut saya semuanya berjalan normal dan tak ada yang spesial saat ospek. Ospek Fakultas MIPA UGM layaknya ospek-ospek di kampus lain yang di dalamnya terdapat keperkasaan senior terhadap juniornya. Walaupun dikemas dalam jargon tema ospek ”Generasi Pembelajar sebagai Akselerator Peradaban”, prakteknya tetap nihil. Para mahasiswa baru bukannya ”dididik” untuk menjadi ”Akselerator Peradaban” namun lebih dididik ke arah ”Akselerator (omong kosong) Pergerakan”.

BEM bermain penuh di dalamnya dan mencekoki para juniornya dengan wacana-wacana omong kosong tentang kepahlawanan, kebangsaan, dan perjuangan membela bangsa&tanah air. Saya melihat bahwa mereka para aktivis organisasi kampus yang sifatnya politis hanya terbuai oleh mimpi-mimpi perjuangan merubah bangsa menjadi lebih baik yang pada akhirnya berujung pada kehancuran bangsa.

Jangan heran dengan pendapat saya tersebut karena memang menurut saya, para aktivis kampus itulah yang telah membuat bangsa ini menjadi semakin terpuruk. Buktinya, lihatlah apa yang telah mereka lakukan sekiar sepuluh tahun yang lalu ketika meneriakkan semangat perjuangan merubah nasib bangsa dengan menggulingkan rezim Suharto-semoga ALLAH merahmatinya namun ternyata yang mereka hasilkan hanyalah ketimpangan, dan ketidakteraturan dalam segala aspek kehidupan bangsa. Siapa yang paling bersalah? Mereka semua! Sudahlah, saya tidak ingin berpanjang lebar membahasnya karena saya tidak ingin terjebak dalam kungkungan politik kebangsaan atau semacamnya.

Mari kita lanjutkan saat saya memulai hari-hari pertama mendapatkan materi kuliah. Awalnya saya sangat bersemangat menyongsong masa-masa perkuliahan yang telah satu tahun saya tunda. Yang saya rasakan tentang masa-masa kuliah di kampusku yang tercinta <a href=”http://www.ugm.ac.id”>Universitas Gadjah Mada</a> adalah semangat baru dan rasanya dada ini dipenuhi oleh target-target yang harus saya capai dalam beberapa tahun ke depan. Betapa tidak, penantian selama satu tahun dalam naungan kerja keras untuk mencapai impian di kampus akhirnya telah menjadi nyata.

Banyak yang terheran saat mengetahui seorang Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadli memutuskan untuk berkuliah di <a href=”http://www.mipa.ugm.ac.id”>Program Studi Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada</a>. Mungkin apa yang saya jalani saat ini bagi sebagian orang tidak sesuai dengan apa yang dulu saya teriak-teriakkan. Inilah jalan hidup manusia.

Selama kurang lebih empat hari duduk di bangku kuliah, banyak yang dapat saya ceritakan. Lingkungan baru, teman-teman baru, aktivitas baru dan tentu saja harapan baru! Saya berdoa kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan saya seorang yang Istiqomah di atas Al Haq dalam kondisi apapun. Saya terdaftar sebagai mahasiswa program studi Fisika yang di dalamnya terdaftar juga 58 orang lain yang dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas A dan kelas B.

Dari ke-58 orang teman baru saya tersebut mungkin belum ada separuhnya yang saya kenal namnya. Bahkan, nama-nama teman yang sudah berkenalan pun sering kali terlupa. Maklum, baru empat hari bertemu.

Hari-hari pertama dipenuhi oleh hal-hal baru bagi mahasiswa baru seperti pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) secara On Line, sistem belajar yang berbeda dengan SMA, dan yang lainnya. Telah terpampang di kamar kost saya sebuah jadwal kuliah selama satu semester ke depan yang dengannya saya berharap supaya bisa menjadi mahasiswa yang dapat memberikan kebanggaan bagi orang-orang di sekitar saya.

Belum banyak yang dapat diceritakan tentang materi-materi yang di dapat pada jam-jam kuliah karena para Dosen kebanyakan masih memberikan awalan berupa perkenalan, kontrak kuliah, dan panduan-panduan lainnya sebagai pendahuluan ke tahap perkuliahan berikutnya.

Hanya saja yang saya ingin ceritakan sebagai oleh-oleh sembilan hari di kampus adalah betapa melelahkannya kuliah di Fakultas MIPA UGM karena kampus saya yang satu ini terdiri dari dari dua kampus, yaitu Kampus Selatan dan Kampus Utara yang terpisah sekitar 1 km sepanjang jalan Kaliurang Yogyakarta. Bayangkan, mungkin dalam satu hari saya di kampus akan bolak-balik dari Kampus Selatan ke Kampus Utara sebanyak 2 kali. Melelahkan! Namun, terkadang hati ini sedikit menghibur diri dengan kata-kata: ”Ini bagian dari perjuangan hidup” atau ”Hitung-hitung olahraga”.

Ya, selelah apapun saya berjalan dari kampus Utara ke Kampus Selatan, saya tetap harus menjalaninya walaupun dengan jalan kaki di terik panas. Semua itu tak ada arinya dibanding dengan apa yang telah saya lakukan demi mimpi-mimpi masa depan di dunia. Agenda-agenda untuk beberapa waktu ke depan telah memenuhi tulisan saya sebagai seorang Mahasiswa yang dituntut untuk dapat mengelola dirinya sendiri dan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang unggul.

Akhirnya, semoga hari-hari perkuliahan ke depan akan lebih mendorong saya untuk menjadi seorang mahasiswa yang bukan sekadar mahasiswa namun juga menjadi seorang pribadi yang menguasai segala aspek kehidupan yang kompleks.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sembilan Hari di Kampus Biru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s