Antara Aku dan Handphoneku

Handphoneku

Handphoneku

Sudah lebih dari satu tahun aku memiliki handphoneku yang sekarang, Nokia 2100. Dapat dibayangkan betapa kunonya handphone itu saat ini. Handphone itu aku dapat dari kakakku yang pertama lebih dari satu tahun yang lalu. Berdasarkan pengakuan kakakku, handphone itu dia beli seharga 200 ribu dari temannya tanpa Box + Charger. Karena prihatin dengan kondisiku saat itu, maka handphone itu pun jatuh ke tanganku.

Sampai detik ini, aku masih setia dengan handphoneku itu (sedikit menghibur diri) walaupun pada kenyataanya memang aku belum mampu membeli handphone yang baru  dan tentunya lebih bagus dari yang sekarang aku pegang (ckckckckckckckc……….). Bagiku itu handphone butut bukanlah masalah. Terkadang segelintir teman-temanku mengolok-olok handphoneku yang memang sudah tidak berada di zamannya. Sering aku menjawab dengan santai :” Biarpun jelek, yang penting pulsanya!”, dalam hati aku melanjutkan :”Padahal pulsaku juga gak banyak-banyak amat sih!” Ya… sudah satu tahun lebih handphone 2100ku ini menemani liku-liku perjalanan hidupku. Di saat bahagia ataupun sedih, handphoneku ini selalu setia menemani. Dengan segala kekurangan yag ada pada handphone bututku ini, aku masih “mencintainya”. Ya, banyak sekali kekurangan dalam sebuah handphone 2100 milik Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadli.

Pertama, baterai handphoneku ini paling tidak kuat untuk dipakai menelepon atau menerima telepon.  Mungkin paling lama satu menit handphoneku dapat bertahan menerima telepon masuk atau menelepon keluar. Terpaksa, setiap kali ada telepon masuk, aku harus cepat-cepat me-recharge baterai handphoneku dan melakukan pembicaraan dalam kondisi recharging the battery.

Sudah tak terhitung banyaknya telepon masuk atau keluar yang terputus seketika karena baterai handphoneku Empty. Aku lebih senang menyebutnya pingsan. Dan sudah tak terhitung banyaknya orang yang sedikit marah karena pembicaraannya terpotong saat meneleponku. Ya…Mau gimana lagi?! Karena, walaupun baterai dinyatakan empty, handphone masih bisa dinyalakan dan tampak jumlah baterai di layar masih penuh. Ajaib! Namanya juga Handphone butut! Walau pasrah, aku pun terkadang kesal dengan handphoneku ini. Betapa tidak, di saat sedang enak-enaknya mengobrol lewat telepon dan pembicarannya penting, handphoneku ini langsung tidak sadarkan diri alias pingsan. Nasib…Nasib…….Terpaksa aku pun terkadang harus berdusta pada orang-orang yang pembicaraan lewat telepon-nya terputus karena handphonekuku pingsan. “Ehmm….kok telepon-nya terputus? Mungkin signalnya kurang bagus!” begitu dustaku. Astaghfirullaahal ‘adziem…..

Kedua, memori SMS. Ya…kapasitas maksimal SMS yang dapat tersimpan dalam handphoneku ini hanya 10 SMS. Dapat dibayangkan, seorang Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadli, yan notabene punya banyak penggemar (seperti Anda….yang telah setia membaca kisah ini) harus menghapus SMS dalam kotak masuk setiap kali jumlahnya sudah mendekati 10. Kalau tidak, handphoneku tidak akan dapat menerima pesan baru. Ya…mau gimana lagi?! namanya juga handphone butut! Dan dari sisi tampilan pun handphoneku tak kalah mengenaskan. Layarnya sedikit retak akibat tertindih badanku saat tidur beberapa hari yang lalu. Casingnya sudah kusam. Angka-angka di Keypad sudah luntur. Rangkanya sudah pecah akibat seringkali jatuh ke tanah.

Dan mungkin sudah saatnya aku membeli handphone yang baru, yang tentunya lebih layak dipakai. Atau mungkin bagi Anda para pemilik toko handphone yang berbelas kasihan melihat pemuda yang handphone-nya mengenaskan, saya tawarkan partnership berupa Gratis Iklan di Blog saya ini. Atau bagi Anda yang telah manangis penuh haru akan nasib seorang pemuda miskin dalam kisah ini, silakan menyalurkan donasi Anda kepada saya untuk membeli handphone yag baru di Nomor Rekening Bank : XXXXXXXXXX. Atau menghubungi saya di nomor handphone: 0856 9381 3790 (Via SMS, karena kalau via telepon dikhawatirkan pembicaraan Anda dengan saya akan terputus di tengah-tengah).

Hahahahaha……Tidak…Tidak…..Saya hanya bergurau. Walaupun secara ekonomi tergolong miskin, namun hati saya tidak ikut miskin. Saya masih punya harga diri dan malu untuk mengemis pada orang lain. Saya masih bersyukur kepada ALLAH karena banyak orang lain yang tidak seberuntung saya. Banyak orang yang nasibnya tidak seberuntung saya. Banyak yang tidak mendapatkan apa yang saya dapatkan.Namun, hal itu tidak membuat saya jera terus berdoa dan berusaha, semoga dalam waktu dekat saya diberi rizqi oleh ALLAH berupa uang sehingga saya mampu membeli handphone yang lebih bagus dan lebih layak dimiliki oleh seorang Fadli. Amiiin………….

Iklan

6 pemikiran pada “Antara Aku dan Handphoneku

  1. hehehe… ya aku aja punya HP 2100 tuh.dirumah …. , tapi rusak kuningn untuk jaringannya tuh..loh fad…, sni hp kmu tu untuk q aja, aku gantiin. brapa? ja q mau.., leh gk fadli..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s