Buletin Da’wah SMA Itu Kini Telah (Akan) Tiada

Rohis SMA

Rohis SMA

Sore hari kemarin (Minggu , 21 September 2008), handphoneku berdering pertanda SMS masuk. Ternyata SMS itu datang dari temanku, Asep Syawaluddin. Isinya tentang kabar dari SMA yaitu kabar mengenai Buletin Rohis SMA Negeri 1 Kota Tegal yang diberi nama “BULETIN INSANI” (Informasi Islam Terkini). Dalam SMS itu disebutkan bahwa Yanuar Setiawan (eks Pimred 2005-2006) meminta bantuanku selaku owner milis Alumni SMA Negeri 1 Kota Tegal tahun 2007 dan mantan redaksi BULETIN INSANI selama dua periode berturut-turut, untuk mempublikasikan bahwa BULETIN INSANI terancam bangkrut karena tidak mendapatkan jatah dana dari OSIS. Sungguh kasihan……

Kabar tentang kondisi BULETIN INSANI yang mengalami masalah secara financial memang telah terjadi sejak 2 tahun yang lalu in which anggaran yang diterimanya hanya sekitar 350 ribu sampa 400 ribu setiap bulan, sedangkan biaya cetak untuk 300 eksemplar adalah Rp 600.000 (Rp 2000 / eksemplar). Kondisi seperti itu berlangsung terus menerus tanpa ada solusi. Puncaknya adalah saat ini, di mana BULETIN INSANI tidak mendapatkan alokasi dana dari Sekolah lewat OSIS. Walhamdulillaah…….

Aku pun sempat terhenyak kaget membaca SMS tersebut. Betapa tidak, selama ini tak ada kabar dan tak ada berita, tiba-tiba dikabarkan BULETIN INSANI terancam mengakhiri riwayatnya karena tidak ada alokasi dana dari OSIS, begitu kira-kira yang diceritakan Yanuar lewat Asep dalam SMS itu. Dengan tenang dan mengambil nafas serta membaca Bismillaah, aku pun membalas SMS itu ke Yanuar temanku. Isinya kurang lebih sebagai berkut:

Wa’alaykumussalaam. Afwan, yan. Bukannya aku gak bisa atau gak mau bantu. Tapi aku sudah bertaubat dan berlepas diri dari dosa-dosa yang ada di BULETIN INSANI baik yang dulu ataupun yang sekarang. Afwan.”

Selang beberapa menit kemudian, Yanuar membalas SMS itu yang intinya dia kembali memintaku mempublikasikan kabar tentang BULETIN INSANI kepada semua alumni SMA Negeri 1 Kota tegal mulai dariangkatan 2004 sampai angkatan 2007. Aku pun kembali menegaskan bahwa aku tidak bisa mambantu apa-apa karena memang aku sudah bertaubat dari berbagai macam dosa dan pelanggaran terhadap agama yang haq ini, yang aku lakukan selama menjadi dewan redaksi bulletin BULETIN INSANI dan aktivis Rohis.

Dosa-dosa itu meliputi kemaksiatan-kemaksiatan dalam lingkungan Da’wah Sekolah seperti Ikhtilath & Khalwat antar redaksi laki-laki dengan redaksi perempuan, perkataan dusta, bertindak tanpa bimbingan ilmu agama, bermudah-mudahan dalam hal pelanggaran – pelanggaran syariat, dan lain sebagainya. Dan lebih dari itu semua, aku sebagai seorang yang berusaha menjadi Salafy yang Istiqomah di atas manhaj yang lurus nyatanya tidak dapat menunjukkan kemuliaan da’wah Salafiyyah di dalam keanggotaan BULETIN INSANI waktu itu.

Aku terkalahkan oleh hawa nafsu berupa syahwat dan syubhat di SMA dan tentunya itu semua diakibatkan oleh kebodohanku akan perkara agama ini. Aku terkalahkan oleh maker-makar jahat para ikhwah yang terpengaruh dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin (baca : Ikhwanul Muflisin) dan aktvis harakah lainnya, serta orang-orang yang jahil terhadap agama, yang ada di jajaran dewan redaksi BULETIN INSANI, tentunya hal itu tidak lepas dari pengaruh alumni-aalumni Rohis yang sok peduli dengankondisi ummat, terutama adik-adik kelasnya di SMA.Mereka lah yang berperan menggiring adik-adik kelas mereka yang masih bodoh akan agama kepada juran kenistaan dalam da’wah. Da’wahmereka hanya disibukkan dengan agenda-agenda yang terkesan struktural padahal nyatanya agenda-agenda itu hanya retorika. Mereka mendidik adik-adik kelas untuk meninggalkan ilmu syar’I dan mempelajari Islam hanya berdasarkan ra’yu dan semangat belaka. Lihatlajapa yang mereka lakukan dalam halaqah-halaqah mereka

Pernah suatu ketika saat kami mengadakan rapat penentuan tema yang akan diangkat untuk bulan berikutnya dan kami hamper-hampir kehabisan ide, aku pun mengusulkan agar mengangkat permsalahan Tauhid. Kontan saja salah satu dariredeaksi yang lain keberata dengan menganggap permsalahan tauhid terlalu memberatkan pembaca dan mengakibatkan pembaca akan lari karenanya. Sungguh aneh bin ajaib. Jadi, oplah penjualan bulletin lebih dipentingkan daripada permasalahan tauhid. Padahl, sebagaimana ita pahami, Tidaklah da’wah Islam ditegakkan kecuali tauhidlah yang menjadi prioritas da’wah. Padahal seperti diketahui pula, kondisi aqidah para siswa SMA sungguh sangat lemah. Aqidah mereka tercampur dengan keyakinan-keyakinan syirik

Sikap meremehkan tauhid memang sebuah cirri khas da’wah hizbiyyah harakiyyah. Mereka lebih mementingkan masalah fiqhul waqi’ daripada masalah-masalah prinsipil dalam Islam. Dan da’wah hizbiyyah harakiyyah di SMA dahulu tumbuh dengan subur lewat tangan-tangan alumni yang sok peduli dengan kondisi adik-adik kelasnya.

Dan setelah mendapatkan berita bahwa sekarang BULETIN INSANI terancam bangkrut, maka aku pun lega dengan selega-leganya serta bersyukur kepada ALLAH atas berita tersebut. Mungkin terdengar pahit untuk teman-temanku yang dulu sama-sama duduk di BULETIN INSANI seperti Yanuar dan teman-temanku dulu, tatkala mengetahui aku justru bersyukur atas berita ini. Tapi, inilah agama yang lurus. Inilah manhaj Ahlussunnah dimana segala kemungkaran dan penyimpangan yang ada harus segera diakhiri.

Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran syar’i yang aku lakukan sewaktu aku masih SMA dan aktif di Rohis (Rohani Islam) sekolah. Yang paling sederhana saja, hampir tidak ada batasan diantara ikhwan dan akhwat (walaupun itu dilakukan oleh person-person di sekitar Rohis). Kebodohan akan agama ini senantiasa menyelimuti kami dahulu. Aku, yang berusaha sedikit demi sedikit mengajak teman-teman di sekelilingku untuk mempelajari agama ini dengan pemahama Salaful Ummah, justru terseok-seok di panggung da’wah sekolah.

Banyak sekali futur iman yang aku alami selama menjadi aktivis Rohis, terkhusus lagi menjadi redaksi BULETIN INSANI. Berbeda halnya ketika dulu aku pertama kali mengenal nikmatnya iman saat mengenal indahnya da’wah Salafiyyah di awal tahun 2005. Semangatku begitu berkobar untuk menegakkan Sunnah yang mulia dan menbuang jauh-jauh segala macam penyimpangan dalam masalah ibadah dan pemikiran.

Tapi, justru dengan bergabungnya aku dalam Rohis SMA terlebih lagi di periode tahun kedua itulah yang membuatku hampa dari ilmu agama yang haq. Aku terseok-seok terbawa arus pergaulan di kalangan Aktifis da’wah SMA kala itu yang dicampuri pengaruh senior Rohis (Alumni SMA) yang mayoritas dari mereka adalah aktivis Harakiyyah. Walaupun tidak dapat aku pungkiri juga bahwa dengan apa yang aku lami di dalam Rohis SMA, terutama di BULETIN INSANI, aku belajar tentang kedewasaan berpikir, berkomunikasi dengan baik. Tapi, saat itu ada yang lebih aku butuhkan, yaitu ilmu agama yang benar.

Jadi, cukuplah dengan apa yang terjadi pada diriku sewaktu dulu masih duduk sebagai redaktur BULETIN INSANI dan Rohis SMA untuk dijadikan sebagai pelajaran sehingga kini, saat aku telah menginjak masa-masa perkuliahan, aku memilih untuk tidak bergabung bersama Rohis Kampus. Karena bagiku, mental dan cara berpikir seorang aktifis itu sama saja yaitu memperjuangkan idealisme kelompoknya, institusi di mana dia bergerak, terlepas dari benar atau salahnya idealisme mereka.

Agama ini lebih penting daripada sekadar berkumpul dalam suatu ikatan solidaritas semu. Aku tidak mau mempertaruhkan agamaku ini dengan menjalin solidaritas bersama mereka para aktivis da’wah yang mayoritasnya telah terpengaruh manhaj harakiyyah. Aku tidak mau menyesal di hari perhitungan amal akibat teman-teman yang buruk dengan mengatakan perkataan seperti firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala:

“Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (Al Furqan 28 – 29)

Akhirnya, aku menasehatkan pada diriku pribadi agar menjauhi segala perkara yang dapat merusak agamaku. ALLAH senantiasa membolak-balikkkan hati manusia. Dan saya menasehatkan kepada teman-teman saya di SMA dahulu agar mau mempelajari agama ini melalui sumber yang haq. Ketahuilah, jalan kebenaran hanyalah satu, tiak berbilang. Dan jalan yang diridhai oleh ALLAH adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah dan diteruskan oleh para Shahabat serta para ‘aimmatussalaf.

Demikianlah, aku telah bertaubat dari segala kekangan da’wah sekolah dahulu dan berlepas diri dari aktivitas da’wah kampus yang ada di hadapanku saat ini. Biarlah aku menuntut ilmu dari sumber yang jelas yaitu Al Qur’an dan As Sunnah di atas pemahaman Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam, para Shahabat Ridwanullaah ‘alaihim ‘ajma’in, dan para ulama Salaf setelahnya Rahimahumullaahu jamii’an, dan mengamalkannya semaksimal yang aku bisa, mendakwahkannya, serta bersabar setelahnya.

Wallaahul Musta’an. Wallaahu Ta’ala A’lam .

One thought on “Buletin Da’wah SMA Itu Kini Telah (Akan) Tiada

  1. la yaghurrannaka min katsrati man halak…

    artinya kurang lebih adalah :” tidak akan menipumu kebanyakan dari orang yang binasa”…..jazakallah atas motivasinya…barakallaahu fiyk…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s