Kemana Engkau Pergi, Wahai Sandalku?

Seperti biasanya, hari ini (Jum’at, 10 Oktober 2008) aku shalat shubuh di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Tidak ada yang aneh dengan shalat shubuhku kali ini. Aku bangun jam 03.55 WIB, kemudian mengambil wudhu, dan bergegas berangkat ke Masjid Gedhe Kauman (masjid agung) Yogyakarta yang letaknya 100 meter dari tempat kostku.

Di masjid, sekitar dua ratusan orang tengah melakukan shalat sunnah qabliyah secara sendiri-sendiri. Aku pun tidak sempat melakukannya karena sebentar lagi mu’adzin akan mengumandangkan iqamah. Shalat shubuh diimami oleh Bapak Ahmad Syaifudin Amin yang kali ini membaca Surah Al Hasyr ayat 18 – ayat 24 di raka’at pertama, dan surah Al Jumu’ah di raka’at kedua.

Begitu shalat Shubuh telah selesai dilaksanakan dan dzikir setelah shalat pun telah selesai dibacakan, aku pergi keluar masjid untuk pulang. Namun, apa mau dikata. Sandal hitam merk “ Carvil” yang aku letakkan di tempat sandal di depan pintu masjid sebelah utara pun tak kunjung aku temukan. Kemana Engkau, wahai Sandalku? Setelah sekitar lima menit aku memeriksa keadaan sekeliling, akhirnya dapat diambil keputusan bahwa sandalku telah lenyap dibawa pencuri.

“Ah, mungkin tertukar dengan milik jama’ah lainnya. Mungkin nanti saat shalat berikutnya, sandalku juga akan ketemui” begitu gumamku dalam hati sembari menghibur diri. Memang, ada tiga buah sandal lain yang modelnya sama dengan sandal milikku, hanya saja tiga buah sandal itu sudah usang. Sandalku masih baru dan aku baru memilikinya sekitar dua minggu. Sandal itu aku dapatkan dari pemberian kakakku menjelang Idul Fitri kemarin.

Sempat terbersit dalam hatiku untuk memilih sandal yang mana saja yang masih tersisa di hadapanku, sebagai ganti rugi sandalku yang hilang. Astaghfirullaahal ‘adziim. Aku urungkan niatku itu karena aku teringat jawaban Ustadz Muhammad Umar As Sewed dalam sebuah ta’lim salafy di Tegal beberapa tahun yang lalu ketika ada pertanyaan tentang sikap yang harus dilakukan saat kehilangan sandal di masjid,”Kalau sandal Anda hilang di masjid, jangan mengambil ganti sandal milik orang lain, karena sandal itu bukan hak Anda. Pulanglah dengan berjalan kaki tanpa mengenakan sandal”

Maka ini adalah sebuah pelajaran bagi Anda yang mempunyai sandal yang agak mahal untuk senantiasa waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat menimpa Anda, tanpa terkecuali saat anda berada di masjid. Berikut adalah tips-tips yang dapat saya berikan untuk mengantisipasi kasus kehilangan sandal saat shalat di masjid.

1. Gunakanlah sandal jepit swallow atau yang sejenisnya yang harganya murah apabila Anda hendak pergi ke masjid. Jangan gunakan sandal yang agak mewah,mewah, atau mewah sekali.

2. Kalau terpaksa masih menggunakan sandal yang agak mewah, mewah atau mewah sekali, usahakan untuk menaruhnya di loker yang tersedia di area masjid kemudian dikunci.

3. Kalau tidak ada loker tempat menyimpan sandal di masjid, sembunyikan sandal Anda di tempat yang orang lain tidak pernah berpikir bahwa di situ ada sandal anda yang mewah.

4. Bagi anda yang sudah melaksanakan tips pada point pertama, Anda tetap masih harus waspada karena dalam kondisi yang sangat mendesak pun pencuri masih bisa mengambil sandal jepit Anda tanpa permisi.

5. Periksa kembali dengan seksama posisi sandal anda semula.

6. Apabila anda sudah melaksanakan kelima tips di atas namun masih saja kehilangan sandal, maka yang anda bisa anda lakukan hanyalah beristighfar kepada ALLAH dan bersabar menerima kenyataan. Bisa jadi ALLAH akan mengantinya dengan sandal yang lebh baik. Atau mungkin saja sang pencur sandal lebih membutuhkan sandal anda daripada anda sendiri.

7. Ambillah hikmah di balik hilangnya sandal Anda. Bisa jadi Anda sedang ditegur oleh ALLAH karena Anda jarang berinfaq, memberi kepada orang lain. Atau barangkali Anda sendiri pun juga seringkali meminjam barang milik orang lain (walaupun hanya barang yang sepele) tanpa izin dari pemilik barang itu, maka inilah balsannya.

8. Jangan pernah berpikir untuk mengambil sandal milik orang lain sebagi ganti sandal Anda yang hilang.

9. Pulanglah ke rumah Anda dengan lapang dada dan penuh keikhlasan menerima kenyataan bahwa sandal Anda telah dipinjam oleh orang yang tak dikenal tanpa permisi alias pencuri.

10. Tanamkan keyakinan dalam diri Anda bahwa kejahatan dapat terjadi di mana saja Anda berada,tanpa terkecuali saat anda shalat di masjid. Ingat pesan Bang Napi dalam acara SERGAP di RCTI bahwa “Kejahatan terjadi tidak hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”

Bagi anda para komplotan pencuri sandal, saya mampunyai pesan, yaitu:

1. Mencuri itu haram hukumnya dan ALLAH telah berfirman:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al Maa’idah :38)

2. Bertaubatlah kepada ALLAH atas dosa mencuri anda, kerana ALLAH telah berfirman:“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maa’idah : 39.)

3. Bersikaplah manusiawi dan jadikan dalam hati Anda perasaan belas kasihan terhadap para pemilik sandal di masjid karena niat mereka bukan untuk menginfakkan sandal mereka kepada Anda, tapi hanya untuk shalat di masjid

Akhirnya saya pun berdoa semoga saya bisa menemukan kembali sandal saya yang hilang saat ini. Dan kalaupun sandal saya itu tidak dapat saya temukan maka semoga ALLAH menggantinya dengan sandal yang lebih baik lagi di lain waktu.Dan hendaknya apa yang menimpa pada diri saya dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

3 thoughts on “Kemana Engkau Pergi, Wahai Sandalku?

  1. mesake bgd to…

    wkwkwk…

    Yaa….dan mungkin sandalku gak akan pernah ditemukan…karena aku gak shalat di masjid gedhe lagi….

  2. Sendal itu mungkin diambil untuk dijual di pasar loak, Mas. Buat makan. Tuh sodara kita belum makan dari kemarin. Dan dia tidak punya tempat untuk mengadu.
    Menurut UUD sebenarnya orang miskin menjadi tanggung jawab negara. Di negara-negara maju mereka diurus selayaknya, paling tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar. Tapi negeri ini telah salah urus sejak lama, bukan. Sulit bagi orang miskin untuk percaya, bahwa nasib merekai dipikirkan kecuali saat kampanye politik.
    Dan persaudaraan antar sesama hamba Allah juga tidak solid. Kita tidak punya konsep ummah yang dipraktekkan. Yang ada adalah orang2 yang mengaku beriman, tetapi hidup individualis. Tidak ada well organized di tengah2 kita. Kita adalah sekawanan manusia yang tercerai berai, bukan yang integrated/tauhid.
    : mustofasihab@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s