Listrik Padam di Kampus UGM dan Sekitarnya

Ironis, aneh, dan susah dimengerti. Begitulah kiranya gambaran perasaanku saat tiba-tiba listrik mati di kampusku tercinta, Universitas Gadjah Mada. Saat sedang asyik-asyiknya browsing Internet di Student Internet Center FMIPA UGM kemarin (Senin, Oktober 2008 jam 11.00 WIB), tiba-tiba supplai listrik terhenti di seluruh Kampus FMIPA Utara. Saat itu, dalam benakku hanya ada perasaan kesal, Kampus UGM yang notabene adalah Universitas Terbaik se Indonesia dan telah mendapatkan sertifikasi ISO-9001, bisa mengalami pemadaman listrik oleh PLN.

Dan tidak berhenti sampai di situ, setelah listrik kembali menyala kira-kira pukul 12.00 (ba’da shalat Dzhuhur), aku pun kembali ke SIC (Student Internet Center) FMIPA UGM. Dan tidak lama setelah aku kembali asyik menjelajah dunia maya selama dua menit saja, listrik kembali padam. Semua mahasiswa yang ada di dalam SIC pun buru-buru keluar dan menghentikan aktifitas browsingnya. Aku pun sempat mengeluh pada operator SIC karena listrik padam sampai dua kali.

Aduh, mbak, kok mati lampu bisa sampe’ dua kali?” tanyaku mengeluh

Yaa, aku juga gak tahu. Lha wong aku bukan bagian listrik” Jawabnya dengan santai.

Keruan saja” jawabku dalam hati.

Aku pun keluar dari SIC dengan menggerutu, Kampus sebesar UGM kok bisa mati lampu. Kalo kaya’ gini, UGM berarti “Universitas Gensetnya Mati”. Salah satu mahasiswa lain yang mendengar ucapanku pun tersenyum mendengarku mengerutu. Setelah itu, aku kembali ke teman-temanku yang masih duduk-duduk di selasar MIPA Utara menunggu kuliah berikutnya. Ada yang sedang mendengarkan musik (Na’udzubillaahi min Al Ghina), ada yang sedang sibuk dengan laporan praktikum, dan ada juga yang sibuk dengan pengambilan kartu Ujian Tengah Semester minggu depan. Ternyata, pemadaman lisitrik tidak hanya terjadi di SIC, seluruh kampus UGM dan sekitarnya pun juga mengalami pemadaman listrik oleh PLN. Aku lihat bagian akademik yang sedang melayani mahasiswa mengambil kartu ujian pun berhenti bekerja untuk beberapa jam.

Setengah jam kemudian, aku dan teman-teman meluncur ke kampus MIPA Selatan untuk mengikuti mata kuliah Filsafat Fisika (Na’udzubillah). Kami menunggu selama setengah jam di kelas yang AC-nya mati, tetapi dosen tak kunjung datang. Akhirnya diputuskan bahwa kuliah kosong dan para mahasiswa pun kembali dengan kesibukannya masing-masing

Apa yang aku lakukan? Ya, betul sekali! Aku pun kembali ke SIC di Kampus utara untuk melanjutkan aktifitasku sehari-hari untuk browsing. Bagiku, browsing Internet sudah menjadi kebutuhan pokok yang wajib dijalani setiap hari. Mungkin ada beberapa orang yang sudah addicted dengan Internet dan akulah salah satunya. Aku kembali ke SIC sekitar pukul 14.20 dengan penuh doa semoga listrik di sana sudah menyala. Ternyata benar, listrik sudah menyala dan aku pun memulai lagi browsingku hingga menjelang maghrib dan hanya dipotong waktu shalat ashar .

Setelah kira-kira waktu menunjukkan 17.35 (adzan maghrib kurang 5 menit), aku pun kembali dibuat kesal karena untuk ketiga kalinya listrik kembali padam. Seluruh ruangan SIC pun gelap gulita dan beberapa orang menyalakan lampu di layar handphone mereka. Kembali aku keluar dan mengakhiri browsing untuk menuju toilet di Lab Kimia dalam keadaan gelap gulita. Di toilet, seluruh ruangan menjadi gelap dan tidak ada penerangan sedikitpun. Aku sempat wudhu di tolite karena aku pikir tidak akan ada air mengalir di musholla FMIPA. Dapat dibayangkan bagaimana susahnya berada di dalam toilet dalam keadaan listrik yang padam.

Seluruh lingkungan kampus saat itu gelap. Aku lihat gedung Fakultas Geografi pun gelap. Gedung Fakultas Biologi pun gelap. Gedung Fakultas Farmasi pun gelap. Jalanan di depan kampus pun gelap. Jadi, saat itu aku mengambil kesimpulan bahwa seluruh lingkungan Kampus UGM mengalami pemadaman listrik. Sungguh ironis. Kampus dengan reputasi besar seperti UGM dapat dengan mudahnya mengalami pemadaman listrik bergilir oleh tanpa ada listrik cadangan dari generator. Kalau pemadaman listrik terjadi di rumah-rumah penduduk atau di toko-toko, maka itu wajar dan dapat dimaklumi. Tapi, kali ini pemadaman terjadi di seluruh lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada yang tidak memiliki generator. Sungguh Ironis!

Setelah melaksanakan shalat maghrib berjama’ah di mushola FMIPA dalam gelapnya malam, aku pun pulang dengan jalan kaki menuju Shelter Bus Transjogja yang ada di depan Kopma UGM. Aku melintas di sepanjang jalan Kaliurang dan aku amati sekitarku memang gelap gulita. Semua listrik padam kecuali di beberapa titik seperti di Gedung Pusat UGM yang mungkin menggunakan generator, beberapa warung makanan di sepanjang UGM yang juga menggunakan generator, dan swalayan Mirota Kampus Pemadaman terjadi di seluruh kampus UGM dan sekitarnya. Anehnya, lampu-lampu taman di halaman Gedung Grha Sabha Pramana justru menyala menerangi taman yang menurutku tidak perlu diterangi. Dan lebih unik lagi, pemadaman listrik pun dialami oleh KFC (Kentucky Fried Chicken) yang ada di depan kampus MIPA Selatan. Swalayan Kopma dan Shelter Bus Transjogja gelap. Tapi Alhamdulillaah, lampu bus tidak ikut padam. Aku cermati dari dalam bus bahwa pemadaman listrik kemarin terjadi di seluruh wilayah UGM dan sekitarnya sampai Jalan Cornelis Simanjuntak Yogyakarta. Mulai jalan Jenderal Sudirman hingga kostku di Kauman Yogyakarta, semuanya normal.

Saat itu aku berbicara dalam hati, “Berarti kampusku kalah dengan warung pinggir jalan (yang sudah punya generator) dan kalah dengan swalayan Mirota”. Ya sudahlah, tidak ada yang perlu disesali dan tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah menerima keadaan bahwa pemadaman listrik bisa terjadi di mana saja termasuk di kampusku tercinta, Universitas Gadjah Mada.

Malam itu aku menyadari bahwa kita baru akan merasa pentingnya sesuatu di saat sesuatu itu hilang. Misalnya, kita baru akan merasa bahwa listrik itu penting hanya saat terjadi pemadaman listrik Tapi, di saat listrik menyala full, kita bisa dengan mudah menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak perlu. Maka, di tengah-tengah terbatasnya supplai energi di negeri ini, mari kita sama-sama membantu pemerintah untuk program penghematan, dan kalaupun tidak untuk itu, maka kita berlatih untuk menghemat segala sesuatu yang kita gunakan sehari-hari demi kebaikan bersama.

2 thoughts on “Listrik Padam di Kampus UGM dan Sekitarnya

  1. ketragisan yang sama dengan kampus semewah UMY…

    listrik mati,,kuliah pun bubar…

    ga ada genset,,
    genset yang da hanya mampu menyalakan lampu2 darurat,,

    kuliah yang terlalu modern karena segala sesuatuna diatur oleh komputer yang tak laen berbahan bakar listrik pun dibatalkan

    hanya powerpoint yang disediakan,,
    tak ada papan tulis,,
    ckckck…sungguh ironis sekali..

    (Narcist Mode : ON) Tapi mungkin UGM gak separah itu kali yah? hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s