Sebuah Pelajaran di Paruh Pertama Semester Satu

default_photo1Hari ini (Kamis, 13 November 2008), lengkap sudah nilai-nilai hasil UTS (Ujian Tengah Semester) yang dilaksanakan sekitar 2 minggu yang lalu. Ada yang memuaskan, dan ada pula yang membuat diri ini tertunduk lesu. Nilaiku relatif, artinya jika dibandingkan dengan kawan-kawanku yang lain, maka nilai-nilai UTS milikku dapat dikategorikan sebagai nilai pertengahan. Tapi, bagiku nilai yang pertengahan itu agaknya belum cukup untuk  memenuhi target kuliahku ini. Sekadar mengingatkan, target kuliahku untuk semester pertama ini adalah meraih IPK 3,60. Amiin.

Dari tujuh mata kuliah yang diuji, setengahnya aku mendapatkan nilai yang memuaskan, dan setengahnya lagi membuatku lemas dan pasrah menerima nilai yang pas-pasan atau bahkan buruk. Untuk mata kuliah seperti Bahasa Inggris, Filsafat Fisika, Metode Pengukuran Fisika dan Keterampilan Sukses, nilaiku dapat dikategorikan memuaskan dan bahkan  aku meraih nilai tertinggi untuk salah satu dari keempat mata kuliah itu. Akan tetapi, sungguh sebuah peringatan yang sangat besar saat ini tatkala aku mengetahui nilai-nilaiku untuk mata kuliah seperti Fisika Dasar, Kimia Dasar, dan Kalkulus I. Nilaiku untuk  ketiga mata kuliah itu pas-pasan dan bahkan buruk.

Sebuah kenyataan yang ironis. Ironis karena seharusnya aku lebih memprioritaskan untuk mendapatkan nilai-nilai yang bagus untuk mata kuliah inti sepertiketiga mata kuliah terakhir itu. Selain karena jumlah SKS untuk ketiga mata kuliah itulah yang terbanyak, ketiga mata kuliah itulah yang seharusnya lebih aku kuasai sebagai mahasiswa Fisika.

Mungkin tidak ada faedahnya sama sekali apabila saya memuat daftar nilai-nilai UTS saya dalam tulisan ini karena tidak ada faedahnya bagi diri saya dan bagi Anda semua. Namun, satu hal yang perlu diketahui bahwasanya nilai-nilai UTS kemarin adalah sebuah pelajaran yang sangat besar bagiku agar aku lebih fokus dan berhenti melakukan hal-hal bodoh selama kuliah. Lebih fokus karena terkadang aku kehilangan konsentrasi untuk mencerna dan memahami materi-materi kuliah. Dan tidak melakukan hal-hal bodoh karena terkadang aku tersibukkan dengan hal-hal seharusnya tidak perlu dilakukan atau dalam kata lain berupa kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu.

Mungkin tidak ada masalah bagiku dengan nilai-nilaiku yang baik, bahkan ada salah satunya yang terbaik, untuk keempat mata kuliah seperti Bahasa Inggris, Filsafat Fisika, Keterampilan Sukses, dan Metode Pengukuran Fisika. Namun, aku agak kecewa dengan hasil yang aku peroleh dengan mata kuliah yang lain. Nilaiku hanya pas-pasan dan aku khawatir tidak bisa mencapai target di akhir semester kedua nanti karena bobot nilai UTS kemarin sekitar 40 % dari nilai akhir semester. Aku harus mengoptimalkan 60% yang tersisa dari bobot nilai untuk akhir semester nanti. Dan perlu usaha dan perjuanga yang keras untuk meraihnya.

Memang, jika dibandingkan dengan nilai kawan-kawanku  di kelas, nilaiku tidak terlalu buruk karena hampir seluruh kawan-kawanku yang lain pun senasib  denganku. Namun, hal itu seharusnya tidak boleh membuatku merasa cukup dan tidak mau berusaha lebih keras lagi. Dan hal itu pun tidak boleh membuatku menjadi seorang perfectionist yang tidak pernah bersyukur atas karunia dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Paruh pertama semester pertama telah berlalu dengan ibrah (pelajaran) bahwa aku harus lebih memantapkan jalanku di bangku kuliah ini. Aku harus mampu untuk meraih sesuatu yang “lebih”. Lebih giat, lebih bersemangat, lebih fokus, dan lebih konsisten untuk memenuhi amanah yang ada di pundakku saat ini. Aku harus menata ulang jadwal kegiatanku dan aku pun harus lebih optimal untuk belajar. Dan harapan serta doaku adalah agar di paruh kedua semester pertama ke depan aku bisa memperbaiki prestasi belajarku.

Aku datang 300 kilometer jauhnya dari kota Yogya ini untuk kuliah di sini. Aku kuliah di UGM dengan  biaya 2 juta rupiah untuk satu semester dan belum lagi biaya hidup selama 4 tahuke depan, yang ibuku telah bersusah payah karenanya. Dan aku tidak mau hanya menjadimahasiswa biasa dengan prestasi yang biasa pula. Maka, tidak ada kata lain selain kebangaan yang harus aku persembahkan.

Aku tidak mau mengecewakan ibuku dan kedua kakakku yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh membiayai kuliahku. Aku tidak mau membalas segala budi baik mereka hanya dengan nilai yang pas-pasan. Kalau bukan karena ibu dan kedua kakakku, niscaya tidak ada lagi yang dapat membuat diri ini bersemangat untuk mencetak prestasi selama aku menempuh pendidikan di bangku kuliah ini. Dulu aku-dengan izin ALLAH-mampu untuk melewati ujian masuk UGM yang sungguh ketat dan membuat keluarga-terutama ibuku berbagga karenanya. Dan sekarang aku pun harus mampu untuk tetap menjadi yang terbaik dan menorehkan kebanggaan dalam lembar-lembar kegiatan kuliah.

Hal ini bukan berarti aku menginginkan segalanya menjadi sempurna dan sesuai dengan keinginanku atau tidak bersyukur dengan nilai-nilai yang kau peroleh di UTS kemarin. Sama sekali tidak. Yang aku maksudkan adalah aku harus berusaha semaksimal yang aku bisa untuk bisa meraih prestasi akademik yang baik di kuliah ini. Dan satu-satunya alasan bagiku melakukannya adalah demi keluargaku.

Aku harus membuat ibu dan kedua kakakku bangga dengan prestasi akademik yang aku raih karena merekalah yang telah membiayai kuliahku. Dan aku harus membuat adikku bangga memiliki seorang kakak yang kuliah di UGM dengan prestasi akademik yang memuaskan. Sungguh, hanya itulah motivasiku selama ini. Karena aku sadar bahwa prestasi kuliah tidak akan membuatku mulia di sisi ALLAH dan IPK 3,60 tidak akan membuatku masuk surga karenanya. Yang membuatku mulia dan masuk surga hanyalah ilmu agama yang baik dan lurus. Itu saja.

Selain itu, aku pun tidak ingin duduk lama-lama di bangku kuliah karena aku sadar madharat yang ada selama menjadi mahasiswa ini dan telah lewat pembahasannya dalam tulisan-tulianku yang lalu. Aku ingin segera lulus meraih gelar S.Si dan melanjutkan studi ke Arab Saudi. Dan satu-satunya jalan menuju ke sana adalah berprestasi selama kuliah. Mengapa Arab Saudi menjadi pilihan? Karena hanya di negeri Al Haramain itulah aku bisa-dengan izin dari ALLAH- sedikit memperdalam ilmu agamaku karena di samping melanjutkan studi fisika di universitas-universitas yang ada di sana, aku bisa duduk di majelis-majelis ilmu ahlussunnah dan hidup di lingkungan yang lebih islami dibandingkan di negeri Indonesia ini.

Mungkin itulah beberapa alasan yang membuatku tetap “istiqomah” untuk menapaki liku-liku kehidupan sebagai seorang mahasiswa. Dan aku  menasihatkan kepada semua mahasiswa muslim dan terutama kepada diriku pribadi agar mampu menorehkan prestasi selama duduk di bangku kuliah. Tetapi ingat, ilmu yang lebih wajib bagi kita semua untuk berprestasi adalah ilmu agama. Tidak akan berarti prestasi-prestasi yang anda torehkan selama menjadi mahasiswa apabila prestasi-prestasi akademik anda tersebut melalaikan anda dari ilmu agama yang syar’i.

Wallaahu Ta’ala A’lam

Iklan

7 pemikiran pada “Sebuah Pelajaran di Paruh Pertama Semester Satu

  1. hehehe, di kampus gak cuma kuliah tong…
    rugi kalo cuma kuliah doang. belajarlah untuk menjadi manusia sesungguhnya. belajar di organisasi. belajar menjadi wirausahawan. belajar mengenal banyak orang. belajar untuk memperluas jaringan. dan masih banyak lagi yang lainnya

    kalo nt cuma berkutat meraih IP, kawan, sungguh… itu kerugian besar

    ya mas afif, at least di semester pertama ini track akademik-ku bagus dulu…baru merambah ke yang lainnya. kalau yang dimaksud dengan organisasi adalah semacam BEM, DPM, Rohis Kampus, maka jawabanku adalah, Tidak.

    aku juga gak mau cuma dapet ilmu fisika lah….pengen dapat ilmu-ilmu lain yang banyak. Insya ALLAH, mas. Jadi, selain jadi Mahasiswa berprestasi, juga jadi Mahasiswa yang berkreasi. Mohon do’anya.

  2. Kalo bang Fadly ambisinya mo ke Arab, ambisiku setelah lulus D3 adalah Transfer S1 ke ITB. Syaratnya lumayan sih, IPK minimal 3.50, trus biaya per SKSnya 350ribu. Kita saling mendo’a-kan ya Fadh… ^_^

    ya, mas Hafidz. Insya ALLAH aku mau ke KSA ajah. wah Ke ITB ? kenapa gak ke UGM ajah ? (Narcist mode : ON), khan kita bisa kumpul bareng di sini. per SKS 350 ribu? mahal Amaat..!! ya, semoga kita dikaruniai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

  3. ada tips dan tricks khusus gak sih buat ngerjain soal kalkulus. nilai uts kalkulus kemaren ancur banget, padahal baru kalkulus 1.

    ehmmm buat hid_152 , sepertinya anda salah alamat kalau bertanya sama saya…soalnya nilai kalkulus saya juga bukan yang terbaik di kelas……..hehehehe. tapi ada sedikit tips yang memudahkan saya mempelajari kalkulus yaitu :

    1. USAHAKAN materi yang anda dapat langsung anda pahami dan kuasai saat kuliah berlangsung…jangan biarkan ada sedikitpun keraguan tersisa dalam benak anda tentang materi kuliah saat itu sehingga membuat anda harus mengulangnya di waktu lain. Jangan malu-malu untuk bertanya di depan kelas, karena malu jenis ini justru membuat anda semakin terpuruk……

    2. Kalaupun tidak bisa, coba pelajari dengan cara anda sendiri (tergantung karakter belajar masing-masing). kalau saya lebih memilih menyendiri dan mencoba memahaminya sedikit demi sedikit sesuai kemampuan saya. kalau kalkulus 1 : fungsi, limit, turunan, integral, dsb, silakan buka lagi buku2 SMAnya. Sungguh akan sangat membantu…..

    3. Setelah itu, latihan soal SEBANYAK-BANYAKNYA. Ingat, dengan latihan soal, anda akan semakin terbiasa menghadapi soal-soal sulit sehingga mendorong anda untuk lebih menguasai materi.

    sekian dari saya….Semoga nilai kalkulus Saya dan Anda melonjak naik…..Amiin

  4. assalamu’alaikum warahmatulloh

    dek, mau kesaudi?
    ada beasiswa master dan Ph.D ke KAUST, tapi world class university( ikhtilat tetep,untuk saat ini presentase laki-laki 75%,perempuan 25%). bisa apply sejak s1,tapi untuk gelombang tiga ini(deadline 16 januari 2009) kayaknya antum belum bisa apply karena harus ada IPK.mungkin tunggu gelombang berikutnya-kalau berminat-
    beasiswa full ,s1( diUGM nya) juga dibayarin.
    syaratnya?
    kalau berminat buka http://www.kaust.edu.sa/

    ” Tetapi ingat, ilmu yang lebih wajib bagi kita semua untuk berprestasi adalah ilmu agama”

    sedikit saran :kenapa ndak mondok saja akh?
    dulu ana tingkat satu juga sama seperti antum, semangat untuk kuliah+target nilai, setelah ngaji….semangat itu hampir tidak ada (setiap semester tidak peduli dengan kuliah tapi karena kontrak beasiswa ya tetep saja datang kekampus),menurunkan target tapi qodarulloh nilai naik signifikan).
    karena apa akh? karena sangat susah untuk menduakan belajar agama dan belajar dikampus yang ikhtilat(apalagi ada aturan kehadiran minimal 80%).Untuk belajar fisika tidak ada adab yang harus diperhatikan selain mau belajar,insyaAlloh pasti ngerti apalagi kalau hanya masalah nilai yang dibatasi materinya,insyaAlloh gampang…tapi ilmu agama?tidak akan paham dengan baik apalagi untuk mengamalkan kalau hampir tiap hari berikhtilat(kecuali libur kuliah),sedangkan ilmu agama harus dicari dengan adab.
    ingin berprestasi keduanya? Allohu’alam, yang ana rasakan ana sangat bodoh ilmu agama dengan tetap kuliah.

    barakallahu fiykum

    Yaa Ukhty Khori… Ana sangat ingin sekali untuk study ke sana…paling tidak, ana bisa hidup di bumi al haramain asy syarifain…
    yaa…ana sudah mencoba meng-apply di formulir Online itu…iseng2 aja walaupun belum saatnya…

    Dan paling tidak ini sebagai motivasi buat ana agar ana harus bersungguh-sungguh berprestasi kuliah…..Ana sih ngincar King Saud, tapi yaa ana harus banyak refeensi kampus di sana….

    kenapa gak mondok aja?
    Dulu, selepas ana Lulus SMA, ana sudah mengajukan permintaan ke Ummi agar mondok saja, tapi belum diberi izin… nas’alullaah at taufiq….

    yaa at least ana harus mempersembahkan sebuah prestasi untuk Ummi tercinta yang sudah mengerluarkan daya dan upaya buat ana kuliah di sini….

    karena tidak akan maksimal belajar agama sembari kuliah, maka menurut ana salah satu solusinya adalah dnegan study ke Saudi….

    Barakallaahu Fiyki……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s