Antara Aku dan Akses Internet Kampus

speed_browserSudah beberapa hari ini saya tidak mengakses internet secara gratis di kampus. Bukan karena saya sibuk dengan kegiatan perkuliahan atau sibuk dengan jadwal mengajar les privat saya. Saya tidak mengakses internet di SIC (Student Internet Center) melalui PC di kampus secara gratis karena ternyata jatah jam akses saya di SIC (Student Internet Center) FMIPA UGM telah habis. Mungkin sebagian orang seperti Anda akan terheran dan belum paham dengan hal ini karena awalnya hal itu pun saya alami. Ternyata, jam akses  internet melalui PC untuk mahasiswa  di SIC FMIPA UGM dibatasi hanya 75 jam saja per semester. Entah apa yang membuat kebijakan itu bisa diterapkan di tengah-tengah era cyberworld dan kebutuhan setiap orang akan dunia maya seperti sekarang. Ya, tersedia hanya 75 jam akses saja untuk setiap mahasiswa secara gratis mengakses internet melalui PC di SIC !!!. Sungguh  ironis.

Dan anehnya, aturan jam akses ini hanya berlaku di FMIPA UGM, tidak di fakultas-fakultas lain. Mungkin, bagi sebagian mahasiswa FMIPA yang sudah diberi rizki oleh ALLAH berupa laptop / notebook, akses internet terbatas  di kampus melaui PC di SIC bukanlah masalah karena mereka masih bisa berinternet ria dengan fasilitas WiFi yang lambat di kampus. Dan itupun hanya biasa dimanfaatkan mulai jam 8 pagi hingga jam 9 malam, artinya, akses WiFi di FMIPA UGM tidak nonstop 24 jam.  Nyatanya, biaya kuliah di UGM yang mahal tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Inilah derita kami para mahasiswa FMIPA UGM yang menurut pengakuan pihak kampus merupakan Universitas terbaik di negeri ini. Wallaahul Musta’an.

Memang, di hampir seluruh wilayah kampus merupakan area hotspot atau WiFi. Namun, keyataannya, perbandingan mahasiswa yang telah memiliki laptop dengan  mahasiswa yang tidak mempunyai laptop (seperti saya) sungguh sangat jauh. Saya menjadi sangsi dan meragukan, apakah slogan “UGM Kampus Kerakyatan” itu hanya omong kosong belaka? Atau hanya untuk menarik perhatian orag banyak sehingga semakin tertarik untuk kuliah di UGM? Saya tidak tahu.

Bagi seorang mahasiswa seperti saya yang senantiasa membutuhkan akses internet setiap hari minimalnya 3 jam, 75 jam akses internet saya yang telah habis membuat saya gigit jari. Mungkin bagi sebagian mahasiswa yang tidak terlalu membutuhkan akses internet, 75 jam itu merupakan waktu yang lebih dari cukup untuk berinternet ria secara gratis di kampus. Namun, hal itu berbeda dengan saya. Saya membutuhkan akses internet minimalnya 3 jam sehari. Banyak hal yang saya lakukan, seperti blogging, browsing, download, upload, ataupun chatting. Dan kini, saya harus menerima keadaan sembari berdo’a agar pihak kampus FMIPA UGM merubah kebijakan jam akses itu menjadi unlimited hour access.

Dan sunguh ironis bagi saya ketika pertam kali mengetahui adanya jatah akses bagi mahasiswa mengingat kampus saya, FMIPA UGM telah mendapatkan pengakuan international berupa ISO 9001. Dan bagaimana mungkn kampus yang sudah mendapatkan ISO 9001 menerapkan  kebijakan berupa pembatasan jam akses internet di SIC untuk mahasiswanya? Tidak ada kata lain seain kata IRONIS. Saya pun tidak habis pikir tetang aturan itu karena apabila hanya diberikan 75 jam akses di SIC, maka jika dilakukan perhitungan, setiap mahasiswa hanya bisa mengakses internet paling lama 25 menit saja setiap hari. 75 X 60 (menit) = 4500 menit, dan 4500 : 180 hari =  25 (menit) saja. Bagaimana mungkin FMIPA UGM akan menjadi kampus berskala international jika mahasiswanya mengalami keterbatasan untuk mengakses internet ? Wallaahu A’lam.

Dan kalaupun semua mahasiswa yang mengakses internet di SIC memiliki kebutuhan akses sama seperti saya, niscaya Student Internet Center SIC hanya akan buka selama 3 atau 4 bulan saja karena semua mahasiswa telah menggunakan 75 jam aksesnya secara sempurna sedangkan 3 bulan berikutnya selama satu semester, SIC akan tutup karena semua jatah akses mahasiswa telah habis. Wallaahul Musta’an.

Memang, saya amati, kebanyakan mahasiswa FMIPA UGM kurang bisa memanfaatkan akses internet di kampus secara baik. Hal itu terlihat dari sebagian teman saya yang sama sekali tidak pernah menggunakan jatah jam akses internet di SIC karena mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang dunia internet atau mereka sama sekali tidak memiliki ketertarikan padanya. Dan kalaupun sebagiannya memiliki interest yang lumayan untuk mengakses internet, maka yang dilakukan di depan layar minitor hanyalah browsing situs-situs pertemanan yang menurut saya kurang bermanfaat seperti friendster.com, facebook, hi5, atau yang lainnya. Atau bahkan sebagianya memanfaatkannya untuk mendownload video porno. Wal’iyadzubillaah.

Dan menurut saya, teman-teman mahasiswa FMIPA UGM kurang akrab dengan internet karena anggapan-anggapan negatif tentang dunia maya. Dan saya pun tidak habis pikir mengingat tugas-tugas kuliah yang banyak mengharuskan mereka mencari bahan-bahan untuk tugas di internet selain di perpustakaan tua milik kampus. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Memang, dalam dunia internet terdapat sekian banyak kemudhratan seperti tersebarnya situs-situs porno dan kemaksiata yang lain (Semoa ALLAH senantiasa memberikan barakah kepada pemerintah Indoneia yang telah berusaha menanggulangi maraknya situs porno).

Dan kini, saya harus meminjam kartu mahasiswa teman saya setiap kali saya hendak mengakses internet di SIC karena seperti yang saya jelaskan tadi, hampir kebanyakan teman saya sesama mahasiswa Fisika UGM 2008 kurang memanfaatkan jatah akses 75 jam per semester, terbalik keadaannya dengan saya. Ada yang menganggap waktu 75 jam gratis internet itu adalah waktu yang sangat banyak dan ada pula yang justru tidak tahu menahu.  Bagi saya, akses internet adalah sebuah kebutuhan primer setiap hari.

Pernah suatu kali saya diolok-olok oleh teman saya karena saya sangat sering nongkrong di SIC. Mungkin mereka menanggap bahwa browsing dan yang semisalnya di internet adalah kegiatan yang tidak bermanfaat, kesannya negatif dan hanya membuag-buang waktu. Anggapan seperti itu bis bernilai benar dan sangat bisa bernilai salah.

Bisa bernilai benar karena memang sebagian orang menggunakannnya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan dosa. Dan bernilai salah karena sepanjang pengetahuan saya, menurut Asy Syaikh Utsaimin Rahimahullaah yang ditanya tentang hukum internet, maka beliau menjawab, hukumnya mubah karena bisa benilai madharat (dengan tersebarnya kemaksiatan di internet) atau justru manfaat karena melaluinya kita bisa berdakwah dan menebarkan kebaikan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana yang saya dengar dari Al Ustadz Muhammad bin Umar As Sewed Hafidzhahullaah beberapa tahun lalu saat sesi tanya jawab ta’lim sore di Tegal.. Dan saya berdoa agar setiap waktu yang saya lalui adalah kegiatan yang bermanfaat bagi diri saya pribadi dan orang lain.

Dan akhirnya saya hanya bisa tertunduk lesu dan penuh pasrah karena saya tidak bisa mengakses internet di kampus lagi dan saya harus meminjam ke sana-sini kepada teman saya setiap kali saya hendak mengakses internet di Student Internet Center FMIPA UGM. Atau paling tidak, di saat hasrat untuk ngenet sedang meninggi saya terpaksa pergi ke warnet yang sudah sejak masuk kuliah ini saya tinggalkan. Saya harus menunggu hingga semester depan untuk mendapatkan jatah 75 jam akses di SIC lagi. Dan tak pernah saya berhenti berdoa agar kebijakan / aturan ini dihapuskan sehingga akan mendorong para mahasiswa FMIPA UGM menjadi lebih melek internet.
Wallahu A’lam.

9 thoughts on “Antara Aku dan Akses Internet Kampus

  1. wah iya tuh mas , emang banyak orang yang menganggap internet sebelah mata , padaha banyak kegunaan internet termasuk mencari duit

    Ya nih…. saya juga terkadang dibuat sebel karena teman2 saya menganggap browsing internet adalah perbuatan mubadzir waktu… tidak sepenuhnya benar….

    Cari duit? TEPAT SEKALI!!!!

  2. saya udah tau klo ada jatah 75jam/semester itu sjak dua tahun lalu..:D

    ya nih mba’ rifa…. jadi kesel rasanya karena aturan jatah 75 jam itu….

  3. hahahahaha (lolongan jahat)….
    untungnya Akses Internet di labkom UPT UI gak perlu login (sebenernya perlu, tapi kebanyakn mahasiswa yang pake komputer pertama kali jarang yang ngelogoff, so pemakai selanjutnya tinggal nerusin sesinya.
    eh, maksude Rifa ngerti ana jatah kue nang UGM tok, ato jgn2 nang UI ana peraturan yg sama? (waduh….waduh)

    di MIPA UGM sini gak perlu Log in, hanya perlu menyertakan KTM kalau mau nge-net dan itu dimasukkin ke database SIC….

    yah beginilah, tidak ada yang bsia dilakukan kecuali pinjam teman….

    aku ya ora ngerti… kaya ne tah ning FMIPA UGM tok….malah ning fakultas lia ning UGM laka kya kie nan…..

  4. Kok di jatah??

    ehmm sebetulnya saya juga tidak habis pikir kenapa harus dijatah. tapi saya berprasangka baik kalau dengan banyaknya jumlah mahasiswa MIPA UGM, mungkin pihak kampus sudah mengkalkulasi total jam akses untuk setiap mahasiswa. Tapi tetap saja saya mengahrap kebijakan itu dihapuskan karena sungguh sangat menyulitkan saya sebagai netter mania….Amiiin………..

  5. Wah, semoga akses internetnya ga dibatasi dan dapat pinjaman terus dari teman 🙂

    Ga coba memanfaatkan wi-fi atau hotspot gratisan diluar kampus mas?

    ya semoga di semester-semester depan gak ada batas-batasa-an. tapi agaknya harapan hanya akan menajdi isapan jempol belaka mengingat banyak mahasiswa MIPA justru tidak terlalu gemar memanfaatkan akses Internet di kampus….

    WiFi di luar Kampus? Lha wong di dalam kampus saja saya gak bisa memanfaatkan karena saya gak punya laptop….yang dibicarakan di sini adalah akses internet melalui PC di kampus….semacam warnet gratis yang ada di kampus….begitu…..

  6. saya dah tau klo di MIPA UGM jatahnya cuma segitu.. dulu sempet itung2an juga.. hehe.
    di UI setau saya ga ada batas…
    eh iya, bener kata faiq..banyak yg jarang log out session.. jadi pake punya org dah..hahahaha

    walaupun di MIPA UGM sini ada batasnya, tapi saya tetap bisa berinternet ria sepuasnya dengan meminjam punya teman kok…

    kalo Log In dengan punya orang tanpa izin orang itu khan dosa mba’? hayooo….
    lebih baik saya donk, minjam secara baik-baik ke teman saya, dan menggunakan KTM teman saya dengan tanpa ada dosa Insya ALLAH………

  7. lah, yg dibilang dosa ko cuma saya? tmnmu faiq tuh jg suka bgitu kan (di atas kan dia bilang gitu),, lagian, salah org itu dong, ga log out..lagi pula, sy jarang ngenet d lab, lbh jrg lg pk punya org, trs klo pake jg ga akses macem2 ko, jd ga merugikan yg punya lah..

    Ya, mba’. saya percaya kalo mba’ rifa itu orang baik kok…..

  8. wew, masih mending mas ada akses internet gratis walau dibatasi, dikampus saya malah lebih parah, universitas dengan embel-embel pendidikan tinggi komputer malah memberikan akses internet yang sangat terbatas, dengan biaya kuliah yang lumayan mahal aksesnya cuma bisa dinikmati dari jam 8 sampai jam 6 sore itupun kecepatannya ga lebih cepat dari telkomnet instan… semoga pihak kampus kita bisa merasakan keluhan kita para mahasiswa yang haus akses internet, amin

    ooh… berarti saya maih bisa bersyukur karena ternyata di sini masih lebih baik daripada di sana. kalau saran, saya, karena akses yang lambat di kampus adalah dengan menggunakan laptop di kampus (atau justru tambah lemot yaah aksesnya?).

    Kalau saya, tidak perlu beli laptop segala karena masih ada akses internet dengan PC di kampus dan masih bisa pinjam teman…..yaa.. semoga pihak kampus kita akan memperbaiki kebijakannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s