Hidup Ini Tak Selamanya Indah

9905_01_16-winter-sunrise_webSemalam, saya mendapatkan sebuah pesan singkat melalui SMS dari salah seorang teman saya, yang bunyinya adalah :
“Kita melihat kebahagiaan seperti (kita melihat) pelangi. Tidak pernah ada di atas kepala kita sendiri, tapi selalu ada di atas kepala orang lain.”( From: 085642XXXXXX 01/09/2009 20:01).

SMS yang berisi kata-kata bijak seperti itu  biasa saya dapatkan dari teman-teman saya dan biasanya pun saya tidak terlalu mempedulikannya. Tapi entah kenapa, saya menjadi terpikirkan dan merenung dengan pesan yang semalam saya dapatkan tersebut. Mungkin karena sangat cocok dengan kondisi hidup saat ini, begitu pikir saya. Ya, saya kurang bisa mensyukuri apa-apa yang telah saya miliki, yang telah ALLAH berikan kepada saya sebagai hambaNya. Seringkali hidup ini terasa berat, dan  kita melangkah dengan gontai dan hanya menjadi pecundang di antara semak belukar kenistaan.

Terkadang kita merasa hidup ini tidak adil dengan berbagai kekurangan yang kita dapati dalam diri ini. Padahal, amat banyaklah ni’mat yang telah ALLAH berikan pada kita yang apabila kita diperintah menghitungnya, niscaya kita tidak akan pernah sanggup. ALLAH berfirman:

Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An Nahl : 18)

Memang, sudah menjadi tabiat buruk manusia yang selalu tidak puas dengan apa yang telah diperolehnya dan cenderung mendustakan ni’mat-ni’mat yang telah ALLAH berikan. Seringkali kita menganggap bahwa hidup kita adalah yang paling sengsara. Padahal di sisi lain, banyak orang yang tidak lebih beruntung dibandingkan kita sendiri. Dengan satu atau dua problema hidup saja, kita menjadi putus asa, dan seolah-olah ujung lorong kehidupan itu gelap tak bercahaya.

Tak terkecuali dengan diri saya. Saya seringkali menyerah dengan berbagai tantangan hidup dan tidak bersemangat menghadapinya. Seringkali terbersit dalam angan ini bisikan-bisikan seperti : “sudahlah, aku  tidak akan sanggup”, “buat apa kerja keras, toh hasilnya sama saja”, dan perkataan-perkataan dalam hati yang lain yang dapat mematahkan semangat hidup. Padahal, di sisi lain, sungguh banyak sekali sesuatu yang seharusnya dapat saya syukuri, saya rasakan sebuah kebahagiaan, dan menjadi penyemangat untuk melangkah di fase kehidupan selanjutnya.

Ya, harus kita sadari bahwa kebahagiaan itu tidak hanya berupa kebahagiaan hidup di dunia berupa kenikmatan-kenikmatan harta di dunia, atau kepuasan-kepuasan lain. Tapi lebih dari itu semua, ada sebuah kenikmatan yang besarnya berkali-kali lipat dan belum pernah terbersit dalam benak manusia manapun, yaitu kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Dan sesungguhnya kehidupan dunia ini seringkali membuat kita terlena. Tolok ukur segalanya dipandang dari materi, dan jadilah diri ini karakter pribadi yang materialistis.

Kita tak sadar bahwa hidup di dunia ini tak selamanya indah, tak selamanya sesuai dengan kehendak yang kita inginkan. Ada kalanya bahagia, dan ada kalanya kesusahan menghimpit. Dan kalau kita mencoba berpikir kembali, bukankah sebuah kebahagiaan dapat kita sebut sebagai sebuah kenikmatan jika dan hanya jika sebelumnya kita belum pernah merasakan kenikmatan tersebut? Maka, bersyukurlah dengan apa yang telah Rabb-mu karuniakan.

Duhai jiwa yang tak berdaya
Mengapa kau bermuram durja
Di tengah ilalang padang yang hampa
Tidakkah tampak ujung jalan di sana
Menanti fajar akhir bahagia

2 thoughts on “Hidup Ini Tak Selamanya Indah

  1. Yup, Betul! Hidup ini memang tak selamanya indah. Yah seperti ungkapan yang sangat sering kita dengar bahwa hidup ini seperti putaran roda pedati, kadang di bawah kadang di atas.

    Alhamdulillah, setelah rutin mengikuti kajian malam senin di Masjid Muhajirin, Perumnas Condong Catur, yang diisi oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidany, hidup ana menjadi “selamanya” indah, berada di putaran roda bagian atas terus. Hehehe…

    Mau tahu tips-nya agar hidup selamanya indah? Qona’ah, qona’ah, qona’ah!

    Kata Ustadz, kalau dalam urusan dunia, pandanglah kebawah. Namun, kalau dalam urusan akhirat, pandanglah ke atas.

  2. Wah wah ada kata-kata emas yang ana ambil dari koment antum di atas:

    dalam urusan dunia, pandanglah kebawah. Namun, kalau dalam urusan akhirat, pandanglah ke atas

    barakallaahu Fiykum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s