Nasehatku Untukmu : Dibalik Gemerlap Valentine’s Day

rose1Bulan ini adalah bulan February. Bagi sebagian orang, terutama para pemuda, bulan ini merupakan bulan yang istimewa karena di dalamnya terdapat sebuah hari yang sungguh memiliki “makna yang mendalam”. Tak lain dan tak bukan, hari yang dianggap “special” itu adalah hari kasih sayang, atau lazimnya dinamakan hari Valentine, yang diperingati setiap tanggal 14 February.


Hari valentine ini memliki tempat tersendiri dalam hati pemuda zaman sekarang karena dengannya seseorang dapat “mengungkapkan” rasa cinta dan kasih sayang kepada orang yang dicintai atau disayanginya, entah itu kawan, pacar, atau bahkan pasangan suami istri (catatan: mayoritasnya adalah pacar). Ada banyak ritus yang dilakukan, mulai memberikan kue coklat, bunga rose, atau saling tukar kado kepada orang lain. Sebenarnya, ada apa dengan hari yang satu ini sehingga mendapatkan tempat istimewa dalam hati pemuda-pemuda jaman sekarang? Apakah tepat jika hari ini dianggap sebagai hari yang istimewa? Tentunya pembahasannya ditimbang dari sudut keagamaan, yaitu agama Islam.


Saya pun menjadi teringat tatkala dahulu masih duduk di bangku SMP. Sekitar beberapa hari sebelum tanggal 14 di bulan February, saya dan teman-teman yang lain pun bersiap menyongsong hari yang kami anggap “istimewa”. Berbagai macam persiapan, seperti menyisihkan uang jajan untuk membeli sebatang coklat, memilih kado untuk saling tukar, atau membeli boneka berwarna pink (warna babi). Tak kalah menariknya, toko-toko dan pusat perbelanjaan pun disulap menjadi bernuansa merah jambu perlambang warna cinta. Wal ‘iyadzubillaah..


Sebagian orang menganggap bahwa hari valentine ini merupakan hari yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang kita kepada orang yang kita cintai, terutama kekasih yang kita cintai. Dari hanya sekadar memberikan sebatang coklat, atau yang paling ekstrem adalah mengungkapkan “cinta”nya dengan menanam benih haram dalam raga pasangannya (baca: zina). Hal ini berulang terus menerus setiap tahunnya dan tak jarang, segala daya dan upaya pun dilakukan agar hari valentine ini menjadi hari yang berkesan bagi pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.


Padahal, kalau kita mau untuk menelusuri bagaimana sejatinya hakikat hari valentine yang begitu diistimewakan oleh sebagain pemuda, maka akan kita dapati berbagai pelanggaran-pelanggaran syariat Islam, mulai dari pelanggaran berupa kemaksiatan yang sifatnya kecil hingga besar, sampai pelanggaran dalam perkara aqidah (yang mengeluarkan pelakunya dari Islam). Wallaahul Musta’an.


Sejak awalnya, Islam mengajarkan hubungan yang memiliki aturan terkait pergaulan laki-laki dan perempuan. Hal ini dilakukan tentunya untuk memuliakan keduanya, laki-laki dan perepuan. Seorang laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan bergaul satu sama lain sekehendak hati masing-masing. Ada aturan yang menjadi rambu-rambu dalam melakukan pergaulan. Bila aturan atau rambu-rambu itu tidak diindahkan, maka yang terjadi adalah fitnah. Yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah sesuatu yang membawa kepada ujian, bala, dan adzab.



Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah wanita: “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)


Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berketurunan (regenerasi) di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.” (Shahih, HR. Muslim)


Ya, kita lihat dalam perayaan hari valentine, pasangan muda-mudi dalam status “pacaran” saling mengungkapkan rasa kasih sayang mereka yang semu, dan tentunya melanggar syariat agama Islam. Seakan mereka tidak tahu menahu tentang hakikat hari yang satu ini. Dan sudah masyhur di kalangan masyarakat umum, bahwasanya perayaan ini datangnya dari kebudayaan Barat, yakni kebudayaan orang-orang Kristen – la’natullaahu ‘alahim.


Perayaan ini adalah sebuah perayaan untuk memperingati tewasnya seorang uskup (pendeta) kristen bernama Santo Valentino dalam hukuman penggal karena dia tetap mempertahankan keyakinannya tentang “cinta” . seiring berkembangnya zaman, hari di mana sang uskup dipenggal inilah kemudian diperingati sebagai hari kasih sayang atau disebut dengan Hari Valentine. Hari di mana setiap orang dengan bebas mengungkapkan rasa cinta dan kasih kepada sesama.


Ribuan orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tak terkecuali para pemuda-pemuda Muslimin yang tentunya kehidupannya sangat jauh dari kehidupan yang Islami (karena bagi pemuda yang kehidupannya adalah kehidupan yang Islami, tentunya tidak ikut terpengaruh-pent). Seakan apa saja yang datang dari tata cara kehidupan orang Nashrani adalah baik, modern, dan patut ditiru. Inilah salah satu potret pemuda-pemudi saat ini yang sungguh sudah sangat jauh dari tata cara kehidupan yang Islami. Kebanyakan mereka beranggapan : “Mumpung masih muda, kapan lagi kita bersenang-senang ?”. Sebagian besar pemuda-pemuda Muslim kita sudah rusak dengan pergaulan dalam hidupnya yang rusak, dirusak oleh tangan-tangan orang yang membenci Islam.


Benarlah apa kata Rasulullaah Shalallaahu’alaihi Wasallam:

Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”.



Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani”. Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -adhiyallahu ‘anhu ]



Rasanya sudah cukup apabila dikatakan seseorang yang mengaku Muslimin, namun meniru-niru tata cara kehidupan orang kafir, maka seseorang tersebut dapat terancam keluar dari Islam. Rasulullaah bersabda:



“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad ]


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, “Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global”.[Lihat Al-Iqtidho’ (hal.186)].


Maka, melalui tulisan ini,kiranya marilah wahai para pemuda Muslimin, wajib bagi kita untuk bertaqwa kepada ALLAH. Dan wajibpula bagi setiap diri untuk kembali kepada tata cara kehidupan yang Islami. Segala bentuk kegiatan kita sehari-hari haruslah ditimbang dengan timbangan syariat Islam. Marilah kita bersama-sama menkaji dan mendalami ilmu agama yang murni, yang datangnya dari ALLAH dan RasulNya, sehingga dengannya kita senantiasa terbimbing dengan bimbingan yang benar.



Hendaknya kita mencukupkan diri dengan apa yang ada pada agama kita, agama Islam. Jadilah para pemuda-pemuda Islam yang mencintai agamanya. Ketahuilah, orang-orang kafir senantias mengintai kelemahan kita, dan mereka tidak akan takut dengan banyaknya jumlah kita. Mereka hanya akan takut jika kita, para pemuda-pemuda Islam, memegang teguh prinsip agamanya, agama Islam.


Ketahuilah, di antara propaganda musuh-musuh Islam dalam melemahkan Islam adalah dengan menjadikan para pemuda Muslimin dengan kehidupan yang jauh dari Islam, salah satunya dengan disemarakkannya perayaan hari Valentine ini. Sadar maupun tidak, kita akan terseret dengan kebudayaan orang-orang kafir yang telah dimurkai ALLAH Azza Wa Jalla melalui event-event semacam ini. Oelh karena itu, mulai dari sekarang jauhilah perayaan-perayaan seperti ini.



Wallaahi, kalaulah kesenangan berupa kegembiraan yang kita rasakan setelah merayakan hari valentine ini, tentunya besar kesenangan itu tidak ada bandinganna dengan siksa ALLAH yang pedih kelak di akhirat. Ya, siksaan karena kita telah melupakan kehidupan yang secara Islam. Kita telah hanyut dalam jerat-jerat tipu daya kehidupan orang kafir yang datangnya bukan dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullaah Muhammad Shalallaahu’alaihi Wasallam.



Tanggung jawab masa depan agama ini ada di pundak kita bersama. Kiranya kita lebih mencintai syariat agama kita ini, agama Islam, dibandingkan syariat agama orang-orang yang kufur kepada ALLAH. Hanya dengan itulah kita akan mampu meraij kebahagiaan di dunia dan di akhirat.



Amiin yaa Mujibas Sa’ilin.

Nas’alullaahu At taufiq Wa As Salaamah


Yang Faqir di Hadapan Rabbnya

Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadli

12 February 2009, 00:09 WIB

2 thoughts on “Nasehatku Untukmu : Dibalik Gemerlap Valentine’s Day

  1. mmmm… memang pemuda pemudi zaman sekarang gampang banget terbawa arus budaya dari luar, tanpa memikirkan apakah itu cocok atau gak dengan budaya dan keimanan kita. mudah-mudahan generasi kita selanjutnya tidak terjebak terus menerus yaa

    yup.. pemuda Islam harus bangga dengan keislamannya….Because Islam is the Way of Life

  2. Assalamualaikum,

    …..kalau kita mau untuk menelusuri bagaimana sejatinya hakikat hari valentine yang begitu diistimewakan oleh sebagain pemuda,……

    Di mana hakikatnya hari valentine?
    Siapa hakikat Pencipta hari valentine?
    Hakikat Cinta itu SIAPA?

    Wallahu ‘alam..

    BERAMAL TANPA ILMU ITU ADALAH KESESATAN YANG NYATA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s