Kuliah Pertama dan Bola Pingpong

togaTanggal 16 February 2009 kemarin adalah hari pertama saya menikmati kembali kerasnya bangku kuliah (kata “keras” di sini adalah keras dalam arti yang sebenarnya, karena bangku kuliah di kampus memang terbuat dari kayu). Hiruk pikuk jadwal kuliah kembali memenuhi agenda kegiatan saya, walaupun terkadang saya tidak mau ambil pusing. Emang gue pikirin…? Hari pertama kuliah diawali dengan mata saya yang masih merindukan empuknya bantal di kost-kostan. Kebiasaan tidur selama libur kuliah yang bangun di waktu dhuha masih susah untuk dihilangkan. Egrghhhh……


Pagi itu, sekitar jam 6.30 pagi, saya bangun (kembali) dari gemerlap mimpi di tengah padang ilusi. Dengan buru-buru mengambil handuk, saya pun bergegas ke kamar mandi. Apa dinyana, air dalam bak mandi ternyata hanya sedalam 5 cm saja! Waduuh…..tak peduli hanya dengan air yang sedikit itu (karena menunggu bak mandi penuh hanya akan membuang waktu sekitar setengah jam), saya pun mandi tak ubahnya seperti mandinya bebek di sungai. Hanya dengan beberapa kali siram (karena airnya hanya cukup untuk beberapa siraman saja, saya keluar dalam keadan siap menatap matahari senin pagi, 15 menit kemudian.


Jadwal senin pagi adalah kuliah Fisika Dasar II (mirip sekuel film, ada serinya. Hmmm…..) di jam 07.50 dan kuliah Matematika Fisika (nampaknya begitu mengerikan, maklum, baru pertama kali). Setelah itu, yang tercatat dalam agenda adalah menuju Laboratorium Fisika Dasar FMIPA UGM untuk mendaftar Praktikum Fisika Dasar II. Hanya itu ‘kewajiban” saya di hari senin pagi kemarin. Selebihnya, saya menghabiskan siang itu di hadapan layar monitor LCD di Student Internet Center lewat fasilitas Internet gratis di kampus (sebenarnya tdak gratis, karena setiap semester, saya wajib bayar Rp.500.000) hingga menjelang waktu shalat ashar. Banyak hal yang dilakukan, mulai dari check email (barangkali ada email dari Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh perihal pengangkatan saya sebagai Duta Indonesia Maniak Internet. hmmm…), blogging, ngurusin fesbuk yang gak pernah ada matinya, atau sekadar download ebook / file-file terbaru.


Ada satu hal yang menarik di sini, yaitu saat saya mengikuti perkuliahan Bapak Drs. Bambang Murdaka , M.S yang bertajuk “Matematika Fisika” di hari senin yang cerah. Setelah sang dosen telah rampung menulis dan menjelaskan silabus perkuliahan dan kontrak penilaian kuliah, bapak paruh baya yang sungguh bersahabat itu pun segera mengawali bab pertama mata kuliah Matematika Fisika. Bab pertama adalah tentang Barisan dan Deret Bilangan. Tentunya bagi Anda yang jago matematika di SMP, SMA atau kuliah sekalipun akan langsung paham tentang bab yang satu ini. Kebetulan, malamnya, yaitu minggu malam, saya baru saja mengajarkan bab Barisan dan Deret Bilangan tersebut kepada murid saya. Namun, tentunya yang saya ajarkan adalah Barisan dan Deret Bilangan versi anak SMP kelas 3.


Nampaknya, entah karena belum siap dengan bahan kuliah yang beliau bawa atau masih canggung menghadapi mahasiswa bejibun (sekitar 60 orang bahkan lebih), pak dosen yang murah senyum ini agak sedikit kebingungan mengajarkan materi Barisan dan Deret Bilangan. Dengan penuh percaya diri (karena hafal betul tentang bab ini di masa SMA), saya beberapa kali sok memberikan koreksi atas materi yang pak Bambang berikan (hal ini jarang sekali saya lakukan karena biasanya saya lebih banyak diam sembari mencatat penuh kebingungan). Dan sungguh tak disangka-sangka, apa yang saya lakukan berupa beberapa kali koreksi terhadap materi barisan dan Deret menular kepada teman-tean yang lain.


Maka, tak ayal kelas pun agak sedikit gaduh karenanya. Ada pula sebagian yang hanya terbengong-bengong menyaksikan kawannya memberikan koreksi (kalau tidak mau dibilang itu sebagai protes). Dan karena suasana kelas yang semakin riuh rendah oleh suara mahasiswa yang sok pinter (seperti saya), Pak dosen pun menjadi tidak dapat berpikir jernih untuk menjawab beberapa protes dari mahasiswanya. Ya sudahlah Pak, mungkin di kesempatan berikutnya, Bapak bersedia menjawabnya.



Tak berhenti sampai di situ, selepas kuliah selesai, saya dan beberapa teman yang lain masih saja tetap di dalam kelas, karena kami masih harus melanjutkan perbincangan yang amat seru dibumbui perdebatan masalah deret geometri. Apa pasal? Kami memperdebatkan penerapan aturan Deret geometri dalam kasus bola pingpong yang dijatuhkan dari ketinggiaan satu meter, dan kemudian memantul setelahnya dengan ketinggian 2/3 dari ketinggian sebelumnya, sehingga membentuk sebuah deret geometri:


1 + 2/3 + 4/9 + 8/27 + 16/81 + 32/243 +… (dalam satuan meter)

Berapakah total panjang lintasan yang ditempuh bola pingpong? Padahal telah diketahui bersama bahwa rumus jumlah n suku pertama deret geometri adalah:


Sn = U1 X (rn – 1)

(r – 1)

U1 = Suku awal deret


R = rasio deret geometri

n = jumlah suku


Satu per satu teman saya mengutarakan pendapatnya tentang rumus mencarinya, untuk kemudian dibuktikan dengan penghitungan secara manual. Awalnya, saya berpikir, sebenarnya mana yang benar, saya yang agak pintar dalam kasus bola pingpong ini, atau teman-teman yang sudah lupa tentang pelajaran ini? Karena saya rasa, anak SMP pun mampu menyelesaikannya.


Satu per satu menuliskannya di papan tulis, termasuk saya. Dan ternyata, setelah dibuktikan, rumus yang saya ajukanlah yang mencocoki kebenaran. Anda ingin tahu? (bagi anda yang sudah mahir dalam hal ini, mohon maklum, ini adalah ekspresi kegembiraan seorang mahasiswa yang baru pertama kali merasakan menjadi yang terpintar di kelasnya). Jawabnya mudah saja. Rumus untuk mencari panjang lintasan bola pingpong adalah:


L total = L1 + 2. Sn

L total = Panjang lintasan seluruhnya

L1 = tinggi bola pingpong sesaat sebelum dijauhkan

Sn = jumlah suku n pertama deret ketinggian bola pingpong, dengan suku pertama adalah  ketinggian setelah pantulan pertama.


Dan setelah dibuktikan ternyata apa yang saya kemukakan (padahal sudah menajdi rahasia umum) itu benar. Teman-teman saya pun kemudian setuju. Ehmm.. inilah saat pertama saya menjadi pusat perhatian di kelas karena “kecerdasan” saya. Dan akhirnya kami pun mengakhiri diskusi deret geometri dalam bola pingpong tersebut dengan seyum kemenangan ada di wajah saya. Hmmmm…. What a Nice day !

Iklan

3 pemikiran pada “Kuliah Pertama dan Bola Pingpong

  1. kamu tw tak???

    bukankah hari hari itu kamu ge binggung dgn studimu??

    sbenernya mungkin peristiwa ini mungkin pemberitahuan buat kamu..

    klo kamu punya potensi di bidang yang sekarang gto…

    just my opinion..

    Yaa..semoga begituu… Sekarang, kuliahku penuh dengan daftar rencana-rencana….. ada plan A, plan B, plan C….makasih atas opinion-nya…

  2. askum.klo kasus bola pingpong tu kasus Deret Geometri turun tak hingga jadi rumusnya
    L total = L1 + 2. S~(tak hingga)
    S~=a/1-r

    Tepat Sekali ! terima KAsih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s