Anak-anak “Korban” Warnet

53-aufm-warnet-depanSaat sedang tidak berada di kampus, saya biasa mengakses internet di sebuah warnet (warung internet / internet café) 24 jam di dekat tempat kost saya. Rutinitas tersebut biasa saya lakoni setiap jum’at malam, hari sabtu dan minggu. Ada yang menarik perhatian setiap kali saya “berkunjung” ke warnet tersebut, yang membuat saya terkadang prihatin, salut, dan senyum-senyum sendiri. Dua bocah kecil berusia 5 dan 4 tahun, anak sang pemilik warnet, yang selalu melek hingga larut malam di depan monitor menggugah nurani saya.


Saya tidak tahu persis namanya, namun karena sangat sering menyambangi warnet milik mereka, wajah mereka berdua yang polos menjadi sangat akrab di mata saya. Kalau boleh saya sebut mereka, judul tulisan di atas sangat cocok dengan kondisi yang mereka alami. Betapa tidak, setiap hari mereka harus setia “menemani” ayah dan ibunya, sang pemilik warnet, untuk begadang hingga jam dua malam. Tak tanggung-tangung, berjam-jam mereka habiskan di depan layar komputer hingga larut (sekitar jam 2 dinihari) hanya untuk tetap “bersama” ayah dan ibunya.


Sang ibu dari dua anak tersebut biasanya setia di depan meja operator, sedangkan sang ayah seakan tidak peduli dan larut dalam asyiknya game online. Apa akibatnya? Ya, benar sekali! Dua kakak beradik yang masih dini tersebut pun mulai kecanduan internet dan bermain game online di warnet milik mereka. Mereka meniru kebiasaan ayahnya. Tidak cukup sampai di situ. Perlahan-lahan mereka diajari kebiasaan begadang hingga larut malam. Di saat anak-anak seusia mereka bisa menikmati masa kanak-kanak dengan penuh kebahagiaan, dua bocah ini nampaknya tidak bisa merasakannya. Mereka dipaksa dan mulai terbiasa untuk begadang di malam hari. Bayangkan, ada dua anak kecil berusia empat dan lima tahun masih bercanda ria saat jarum jam menunjukkan pukul dua malam!


Yang mereka lakukan biasanya adalah bermain game (anak kecil berusia 4 tahun sudah sangat akrab dengan dunia game online! Zaman memang sudah berubah!) bersama ayah mereka, berlarian di dalam ruangan, atau sekadar membuka situs-situs di internet. Suara gaduh mereka yang sering memanggil ibunya atau suara mencerca ayahnya yang bermain curang dalam game yang mereka mainkan, menjadi suara yang sangat akrab di telinga para pengunjung warnet, termasuk saya. Melihat mereka pun saya teringat reality show Amerika Serikat yang biasa disiarkan Metro TV, bertajuk “Nanny 911”. Ya betul sekali, mungkin keluarga kecil yang ada di hadapan saya itu membutuhkan bimbingan sang “Nanny”.


Berjam-jam mereka habiskan, terutama di waktu malam hingga menjelang pagi. Karena sering mengunjungi warnet di malam hari, saya pun menjadi sedikit hafal dengan jadwal mereka di warnet itu, yaitu mulai jam 7 malam hingga jam 3 dini hari. Selama 8 jam di malam hari mereka “dipaksa” begadang dan tidak memejamkan mata hingga jam-jam di mana orang dewasa pun sudah terlelap dalam buaian mimpi. Sungguh pemandangan yang menurut saya kelewatan. Kelewatan karena menurut saya mereka berhak mendapatkan waktu untuk belajar, waktu untuk bermain, dan tentunya juga waktu untuk istirahat mereka. Selama ini, mereka dipaksa “kerja lembur” di depan PC hanya untuk sekadar ditemani sang bunda. Saya tidak bisa membayangkan, ada dua anak kecl seusia anak kelas satu SD belum tidur saat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari dan pekerjaan mereka hanya online di internet, main game.


Di dalam hati saya bertanya, “mengapa orang tua mereka tidak tanggap melihat perkembangan anak-anak mereka? Dan juga kalau setiap malam mereka hanya di warnet, kapan mereka belajar? Kapan mereka tidur? Kapan mereka bangun di pagi hari? Bagaimana mereka bisa bertahan di sekolah mengingat setiap hari harus tidur di larut malam? Bagaimana pula dengan kondisi psikologis mereka?Apakah Internet akan membuat perilaku social mereka menjadi buruk?” Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggelayut dalam anganku. Hanya mereka dan orang tua mereka sajalah yang mampu menjawabnya. Inilah yang saya sebut dengan “anak-anak korban internet”. Karena profesi orang tua mereka, sang anak harus merelakan waktu-waktu yang anak kecil lain biasa dapatkan di dalam rumah, terlepas bahwa sang anak tersebut merasakan “pengorbanannya” atau tidak sama sekali. Maklum saja, mereka masih anak-anak dan belum tahu apa-apa.


Dan yang saya contohkan di sini belum apa-apa dibandingkan realita yang ada di depan mata kita. Anak-anak jalanan “terpaksa” mengais “rizki” di jalanan sebagai pengemis, pengamen, loper koran, atau pedagang asongan yang bagi mereka, tidak ada waktu untuk tidur, tidak pula waktu untuk beristirahat. Maka, realita yang disebutkan di akhir merupakan potret “anak-anak korban kemanusiaan”. Namun, minimalnya saya ingin menyampaikan bahwa anak-anak pun berhak mendapatkan hak-hak mereka berupa kasih sayang dari orang tua mereka, pendidikan yang layak dan benar, dan yang terpenting adalah sebuah keteladanan dari orang tua yang bertanggung jawab. Karena masa-masa pertumbuhan anak-anak yang baik akan menentukan kehidupannya di masa kedewasaan mereka kelak.


Yogyakarta, March 7th 2009

Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadhly

5 thoughts on “Anak-anak “Korban” Warnet

  1. Orentasi bisnis telah mengalahkan segalanya…anak sendiri jadi korban gpp,apalagi anak orang.saya sbg orang tua yg anaknya kecanduan game online,merasa sangat prihatin.anak saya kabur dari rmh tengah malam untuk maingame..pihak warnet tidak membatasi pelanggan usia berapa yg boleh ngenet dini hari!yg penting bisa bayar dia tidak perduli!akibatnya esoknya anak saya tidak bisa sekolah krn ngantuk!

    saya prihatin dengan kondisi remaja sekarang yang mengabaikan kewajiban-kewajibannya. penyebabnya kompleks, dari dalam kelaurga hingga dalam kelas di sekolahnya. Semoga kita semua bisa menajdi teladan yang baik bagi anak-anak kita masing-masing ya bu dewi. /strong>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s