Potret Buram Ujian Nasional SMA

ujian-nasionalKemarin  saya membaca sebuah artikel di Harian KOMPAS, 8 Juni 2009 di halaman pertama kolom bawah. Di sana dikisahkan tentang seorang siswa di SMA Negeri 2 Ngawi yang duduk di kelas 3, yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya dan teman-temannya satu sekolah tidak lulus Ujian Akhir Nasional. Padahal, cita-citanya telah menggantung tinggi. Perjalanan selama 3 tahun duduk di bangku SMA harus berakhir dengan linangan air mata penyesalan dan kesedihan karena mereka semua tidak lulus ujian akhir nasional. Angan-angan mereka selepas SMA pun kandas di ujung jalan.

Dikisahkan pula bahwa mereka semua “terpaksa” tidak lulus karena jawaban yang mereka isikan pada lembar jawaban tidak ada satu pun yang benar, alias salah semua. Mengapa ini bisa terjadi pada sekitar dua ratusan siswa dalam satu sekolah? Ternyata, pihak sekolah dan seluruh siswa mendapatkan kunci jawaban palsu yang disebar secara serentak melalui pesan singkat sehingga menyebabkan mereka semua tidak lulus ujian nasional. Mereka tidak sendirian, kasus serupa juga menimpa dua SMA di Kabupaten Cimahi, Jawa Barat, yang seluruh siswanya tidak lulus ujian nasional. Bahkan, menurut berita, jumlah sekolah menengah atas yang seluruh siswanya tidak lulus ujian (dikarenakan menggunakan kunci jawaban palsu) ada 19 SMA. Mereka pun kalang kabut. Mereka direncanakan akan mengikuti ujian ulang, namun usulan tersebut menuai protes dari banyak pihak karena dinilai tidak adil. Dan pada akhirnya, nasib seluruh siswa di 19 SMA pun terkatung-katung. Jalan satu-satunya adalah mengikuti ujian persamaan Paket C. Menyedihkan !

Ujian Akhir Nasional (dahulu dikenal dengan nama Ebtanas-pent) saat ini memang menjadi satu-satunya penentu nasib seorang siswa SMA, apakah dirinya berhak melenggang lulus untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya, ataukah dengan terpaksa harus mengulang masa studi di sekolahnya satu tahun lagi. Kesudahan masa tiga tahun sekolah semenjak kelas satu hingga kelas tiga ditentukan dalam tiga hari yang dramatis. Tak pelak, hal ini membuat para siswa (utamanya kelas 3) sungguh-sungguh mempersiapkan dirinya untuk dapat melalui ujian yang menentukan “hidup mati” dirinya. Tak hanya mereka, pihak sekolah dan orang tua pun ikut andil dalam menggenjot semangat belajar para siswa agar mampu sukses di ujian nanti. Beragam cara dilakukan, mulai dari diselenggarakannya pelajaran tambahan, les-les di bimbingan belajar, training motivasi, dan yang lainnya yang pada intinya bertujuan meningkatkan kemampuan siswa mempersiapkan ujian nanti.

Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwasanya mental pemuda zaman sekarang gemar menempuh cara-cara yang instan, yang praktis, dan tidak rumit demi meraih apa-apa yang diinginkannya, termasuk lulus ujian nasional. Berbagai cara-cara kotor ditempuh agar menggolkan niat mereka. Dan yang paling hangat adalah konspirasi sistematis antara pihak sekolah dan pengawas serta siswa itu sendiri dalam melakukan kecurangan sewaktu ujian berlangsung seperti mencuri kunci jawaban, memberikan pengarahan, hingga kerja sama dengan pihak pengawas ujian. Perbuatan-perbuatan curang seperti inilah yang membuat mentalitas pelajar saat ini sangat rapuh, jauh dari nilai-nilai kejujuran dan semangat kerja keras menggapai cita-cita. Mereka disuguhi perilaku kecurangan yang dihalalkan demi selembar ijazah kelulusan, tak peduli apapun konsekuensinya.

Tatkala dua tahun yang lalu saya masih duduk di bangku kelas tiga SMA, saya pun menyaksikan hal yang sama. Ketika ujian berlangsung, tindakan-tindakan kecurangan konpirasi pihak sekolah dengan penyelenggara ujian, pesan singkat berantai yang berisi kunci jawaban, dan kecurangan-kecurangan lain yang biasa dilakukan. Dengan dalih “daripada saya tidak lulus, lebih baik saya berbuat tidak jujur sewaktu ujian. Toh hal ini tidak dilarang oleh pengawas dan pihak sekolah” atau jawaban yang mereka lontarkan tatkala ada yang menasihati agar tidak berbuat curang “apa kamu tega melihat temanmu tidak lulus ujian karena tidak mendapatkan jawaban darimu?” dan masih banyak pembelaan-pembelaan yang menjadi pembenaran atas apa yang para siswa SMA itu lakukan.

Dari kasus di awal, rasa prihatin menyelimuti dada-dada kita. Betapa nilai-nilai kejujuran dan keadilan dibuang jauh-jauh dalam aksi mengakali ujian nasional. Pertama, pihak sekolah dan penyelenggara ujian dengan sengaja membiarkan siswanya untuk mendapatkan kunci jawaban (walaupun palsu) dengan konspirasi yang busuk. Kedua, setelah menghadapi kenyataan bahwa kunci jawaban yang digunakan ternyata salah,maka ramai-ramai memelas kepada BNSP (Badan Nasional Standardisasi Pendidikan) untuk diselenggarakan ujian ulang dengan alibi bahwa terjadi kecurangan yang merugikan siswa. Padahal, seperti diketahui bersma, jika peserta ujian akhir nasional dinyatakan tidak lulus, maka harus mengikuti ujian di tahun berikutnya, dengan kata lain mengulang satu tahun lagi.

Inilah potret buram ujian nasional SMA kita yang diwarnai praktik kecurangan dan menghalalkan segala cara demi jumlah kelulusan yang “gemilang” dan predikat “sekolah favorit dengan kelulusan 100 %”. Hendak dibawa ke mana pemuda-pemuda kita yang masih duduk di bangku SMA jika mereka sejak awal disuguhi contoh-contoh yang tidak baik ? Hendak dibawa ke mana arah masa depan pendidikan kita yang dalam tujuan nasional disebutkan “Mencerdasakan kehidupan bangsa”. Jika yang terjadi adalah tindakan tidak jujur dan tidak adil seperti dalam kasus di awal, maka jauh panggang dari api.

Dan kita semualah yang bertanggung jawab mendidik generasi-generasi muda untuk menjadi pribadi-pribadi yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran, moral yang baik, tidak rakus, dan senantiasa menjaga harkat dan martabat dirinya. Sudah satnya generasi-generasi setelah kita dididik dengan pendidikan yang Islami, yang diajari di dalamnya prinsip dasr agama Islam, syariat, dan dalam konteks kali ini adalah akhlaqul karimah. Islam telah menggariskan secara lengkap tentang perilaku hidup yag jujur, adil, dan menjaga iffah (kemuliaan) dirinya. Apatah lagi yang dihadapi hanyalah perkara dunia yag semestinya seorang manusia mencukupkan diri dengan apa yang ada di hadapannya.

Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian pemimpin di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia………” (Shahih Muslim)

Yogyakarta, 9 Juni 2009, 01.12 WIB.

Muhammad Nikmatul Mu’minin Fadli

8 thoughts on “Potret Buram Ujian Nasional SMA

  1. hayyakallah
    antum bakat nulis, akh…
    coba antum nulis kisah anak-anak, atau pendidikan anak-anak, atau sebuah motivasi akhlak bagi anak-anak, dan siapa tahu, ada penerbit Salafy yang maumenerbitkan.
    Barakallahu fiikum
    bahasamu itu lho, ana sukaa banget

    hayyakallah juga, nif.
    Ana bakat nulis? biasa ajah lah, malah antum lebih bagus.

    Nulis tentang anak-anak? Ya, Nanti ana tulis kisah anak-anak dan pendidikan anak-anak setelah ana sudah punya anak yah, nif. . Jadi, cariin caranya biar ana punya anak yah nif ?! uppss…!!hehheehe

    Wafiykum Barakallaah…

  2. Assalamu’alaikum
    Dauroh Syaikh mo dimulai, Fad.
    pasang gambar ini di blog antum untuk menyebarkan info dauroh syaikh

  3. Kak Fadhly, saya ngasih comment ya, hehe…

    Haruskah kita menghapus UN??

    Saya pikir ya, tentu saja.
    Indonesia secara mental masih belum siap untuk UN. Terbukti dari kecurangan-kecurangan yang disebutkan di atas. Untuk apa nilai yang bagus di Ujian Nasional ternyata cuma hasil kunci jawaban? Pihak PTN pun sudah mengakui hal ini. Kebanyakan anak yang mendapatkan NEM tertinggi justru tidak bisa apa-apa di bangku kuliah.

    Bahkan negara-negara maju pun memberlakukan sistem remidial 3 kali untuk UN. Ini bisa meminimalisir kecurangan2 dan juga bisa mengurangi tekanan yang diterima oleh para siswa. Apakah pendidikan di negara kita sudah sebegitu bagusnya sehingga UN cuma ada sekali kesempatan dalam setahun?

    Jika tahun ini kelulusan mencapai angka > 90% , saya yakin jika siswa tidak melakukan kecurangan angka itu akan menurun mencapai hampir 50%

  4. memang sebaikny UN itu dihapuskan.. masa hanya gara2 ujian beberapa hari yang menentukan tidak lulusnya kita bukannya melihat dari hasil perkembangan kita tiap tahunnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s