Sepenggal Hikmah dari Koh I Lei (Muallaf Tiong Hoa) Bagian 2

guidanceProses Awal Menjadi Seorang Muslim

Di awal-awal waktu  masuk Islamnya Koh I Lei, beliau pun menyempatkan diri untuk umrah ke Tanah Suci bersama keluarga sahabatnya. Karena belum begitu banyak mengerti tentang tata cara ibadah dan juga beliau terkendala kemampuannya untuk membaca tulisan-tulisan dalam huruf arab, maka Koh I Lei pun melaksanakan rangkaian ibadah umrah dengan hanya membaca do’a sapu jagad dan Istighfar saat thawaf mengelilingi ka’bah.

Ada kejadian yang bisa dikatakan ajaib dan semata-mata keutamaan yang diberikan oleh ALLAH, yakni pada saat Koh I Lei berpisah dengan sahabatnya yang sedang sakit di Masjidil Haram, padahal sesungguhnya keduanya duduk di satu tempat dekat tiang masjid, namun Wallaahu A’lam, keduanya tak bertemu pandang satu sama lain dalam waktu yang lama dan saling mencari, hingga akhirnya Koh I Lei pergi menuju sumur zam-zam dan membasuhkan airnya ke kedua matanya, dan Koh I Lei kembali ke tempatnya di dekat masjid dan seketika itu juga Koh I Lei mendapati sahabatnya yang duduk dari sejak lama di dekat masjid dan keduanya saling keheranan karena kebingungan setalah lama saling mencari. Bagi Koh I Lei ini adlah sebuah mukjizt air zam-zam yang dibasuh ke kedua matanya.

Pada waktu-waktu awal keislaman beliau, Koh I Lei masih sembunyi-sembunyi dalam mengerjakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim seperti shalat. Koh I Lei shalat di rumah untuk beberapa waktu lama hingga akhirnya beliau memberanikan diri pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Kebetulan saat pertama Koh I Lei masuk masjid adalah saat bulan ramadhan, dan kaum Muslimin hendak menunaikan shalat tarawih. Jama’ah pun terkaget dan bertanya-tanya melihat sosok Koh I Lei berada di dalam masjid melakukan shalat bersama mereka, namun kemudian Koh I Lei pun menjawab pertanyaan mereka dengan sebuah pengakuan bahwa dirinya adalah seorang Muslim.

Rupanya kebiasaan Koh I Lei mengunjungi kuburan-kuburan yang dianggap keramat di saat masih belajar mengenal Islam dengan tujuan untuk sekadar mendatangkan ketenangan hati masih sukar belau tinggalkan dan menurut pengakuan Koh I Lei bahwa beliau menyadari amalan tersebut dapat terjatu dalam kesyirikan, namun selama Koh I Lei mengerjakannya, amalan-amalannya sama sekali tidak dibumbui permohonan do’a dan barakah kepada kubur karena beliau telah meyakini bahwa hanya kepada ALLAH sajalah kita beribadah dan hanya kepada ALLAH sajalah kita meminta pertolongan. Sekali lagi, semuanya dilakukan hanya untuk mendapatkan ketenangan hati dan menguatkan dirinya karena darinyalah Koh I Lei mulai mempelajari Islam. Tentunya semuanya membutuhkan proses yang panjang hingga perlahan beliau mampu lepas darei kebiasaan mendatangi kuburan. Hingga saat ini, Koh I Lei terus enerus berupaya untuk mendalami Islam secara benar dan menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim dan meninggalkan segala perkara yang dilarang dalam syariat agama ini.

Pergolakan Batin dengan Keluarga

Tentu saja, setalah melalui proses mencari kebenaran ajaran agama Islam, Koh I Lei harus menerima kenyataan bahwa keluarganya masih memeluk ajaran agama Kristen. Dan Koh I Lei harus melalui sebuah pergolakan batin menghadapi keluarganya dengan menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Muslim.

Dikisahkan oleh beliau bahwa suatu ketika saat proses pembuatan formulir C1 (kartu keluarga), beliau mengisi kolom agama dengan isian Islam. Kontan keluarga Koh I Lei pun tersentak, terutama ayah beliau. ,melihat keadaan putranya yang telah berganti agama. Maka Koh I Lei pun menjawabnya dengan santai, “ya sudah, toh teman-teman saya banyak yang Islam, tulis saja Islam”. Maka semenjak itu pula keluarga Koh I Lei menyadari bahwa salah satu anggota keluarganya telah berganti agama menjadi Islam.

Berdasarkan penuturan beliau juga, nampaknya eksistensi Koh I Lei di keluaganya mendapat penghormatan sendiri dan disegani. Hal itulah yang membuat tak banyak pertentangan besar-besaran dari pihak keluarga beliau. Walhamdulillaah. Perlahan namun pasti, keluarga Koh I Lei pun menerima kenyataan bahwa Koh I Lei telah menjadi seorang Muslim. Mereka hidup rukun saling menghormati.

Namun, ujian tetap saja ada. Beberapa kali Koh I Lei mendapat pertentangan dari beberapa anggota keluarga yang lain berupa perdebatan, caci maki dan yang menguji kesabaran lainnya. Namun, walhamdulillaah hingga saat ini Koh I Lei hidup harmonis dengan keluarganya yang masih belum berislam. Di sinilah diperlukannya rasa pengertian, sabar, dan yakin akan pertolongan ALLAH bagi hambaNya yang meninggalkan sesuatu karenaNya.

Koh I Lei dan Daging Babi

Seperti halnya etnis Tiong Hoa yang beragama kristen, sudah menajdi sebuah kebiasaan sehari-hari untuk menyantap daging babi yang haram. Menurut kisah dari Koh I Lei, dirinya hampir setiap hari menyantap daging babi yang disajikan di rumahnya semenjak kecil hingga dewasa. Menu yang satu ini seakan menjadi menu wajib yang harus ada di meja makan setiap hari. Kenyataan bahwa kebanyakan orang yang menyantap daging babi akan menjadikannya ketagihan menurutnya lebih dikarenakan cita rasanya yang berbeda, lebih harum dan lebih halus serat-seratnya.

Namun, wal iyadzubillah, di balik itu terkandung berbagai mudharat yang akan mencelakakan tubuh manusia, perlahan tetapi pasti. Dan satu hal yang terpenting, kita diharamkan memakan babi lebih karena ALLAH telah jelas melarangnya dalam Ayat-ayat Al Qur’an, adapaun hikmah yang dikandung di balik pelarangan tersebut adalah sebagai penguat saja. Dan ALLAH adalah Maha Hikmah dan Maha Mengetahui.

Kebiassaan mengonsumsi daging babi berlangsung terus menerus hingga akhirnya di saat-saat pencariannya akan agama ini mewarnai lembaran kehidupan Koh I Lei, ALLAH taqdirkan bagi beliau perasaan benci kepada daging babi.  ALLAH jadikan Koh I Lei menderita sakit setiap kali mengonsumsi daging babi. Sehingga mau tidak mau, daging babi harus disingkirkan dari meja makan Koh I Lei.

Inilah yang sulit, di saat teman-temannya masih dengan lezatnya mengonsumsi daging babi, Koh I Lei tetap teguh bahwa daging babi tidak akan menambah apapun kecuali hanya akan membuatnya menderita sakit. Setiap kali ada perjamuan makan yang di dalamnya disajikan menu babi, Koh I Lei merasa enggan untuk menghadirinya. Kalaupun datang, maka beliau pasti akan memilihmenu-menu yang lainnya.

Diceritakan bahwa suatu saat, Koh I Lei dan teman-temannya yang Islam di KONI menghadiri jamuan makan yang disajikan daging babi. Teman-teman Koh I Lei telah terlebih dahulu menyantap menu daging yang tersedia di meja tanpa mereka ketahui bahwa yang dimakan adalah daging babi. Namun, karena sudah terbiasa menyantap daging babi semenjak kecil dan hafal dengan aromanya saja, Koh I Lei urung untuk menyantap hidangannya, dan hanya mengambil udang goreng. Teman-teman beliau heran karena Koh I Lei tidak menyantap daging yang sunguh enak disantapmenurut mereka tanpa tahu yang sebenarnya. Koh I Lei pun terdiam saja tanpa memberi tahu yang sebenarnya demi menjaga suasana dengan teman-temannya dan juga dengan tuan rumah.

Dan walhamdulillaah, berawal dengan ketidaksukaan Koh I Lei terhadap daging babi inilah yang membuat beliau mudah untuk menerima syariat Islam yang telah sempurna dan sebaik-baik petunjuk bagi manusia.

Penutup

Sungguh, kisah hidup Koh I Lei dalam menemukan kebenaran agama yang sesungguhnya menggugah nurani kita untuk senantiasa bersyukur kepada ALLAH bahwasanya kita telah dikaruniai nikmat yang sangat besar, yang menyelamatkan hidup kita di dunia, terlebih di akhirat, dengan kenikmatan berislam dengan keteguhan.

Betapa kita terkadang dilanda rasa bosan an malsa untuk bersegera mengharap ampunan dan hidayah dari ALLAH. Koh I Lei telah membuktikannya bahwa perjalanan panjang hidupnya dalam menari pedman hidup yang benar dalam berislam telah membuahkan sebuah hasil yang manis berupa cahaya keimanan yang merasuk dalam dadanya.

Semoga kita senantiasa terbimbing dengan hidayah ALLAH saat ini, saat mendatang hingga pada akhirnya nanti kita menghadap ALLAH dalam keadaan kita beriman, berislam, dan menajdi hama-hambayang bertaqwa kepadaNya

Kata terakhir yang saya ingat dari beliau adalah : “saya merasa bahwa bukan saya yang masuk ke dalam Islam namun justru Islamlah yang masuk ke dalam diri saya”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s