Sepenggal Hikmah dari Koh I Lei ( Muallaf Tiong Hoa )

journey-image-1Pendahuluan
Sudah lama kiranya saya tidak menulis sebuah catatan untuk dimuat di blog kesayangan saya ini. Kaku rasanya jari ini untuk menari di atas tuts komputer. Dan akhirnya pada kesempatan kali inilah saya diberi kelonggaran oleh ALLAH untuk sedikit berbagi kisah dan faidah yang kiranya dapat bermanfaat bagi diri saya pribadi dan para pembaca semuanya.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kisah tentang perjalanan hidup seorang insan dalam mencari petunjuk jalan hidupnya menuju kedamaian hati, ketenangan jiwa dan jalan keselamatan, berupa jalan Islam. Kisah ini saya dapat saat saya mengikuti pengajian rutin yang diadakan oleh Persatuan Islam Tiong Hoa Indonesia (PITI) pada dua hari yang lalu (13 September 2009) di Masjid Kampus UGM,. Awalnya saya sama sekali tidak bermaksud mengikuti pengajian tersebut, karena saya hanya berniat untuk shalat Ashar di maskam (akronim dari masjid Kampus).

Selepas saya melaksanakan shalat, seorang laki-laki yang nampaknya bertidak sebagai pembawa acara pengajian segera duduk di meja yang sudah tertata di depan posisi Imam. Laki-laki tersebut mengumumkan bahwa sebentar lagi akan diadakan pengajian rutin dari PITI, yang akan disampaikan oleh Bapak Koh Ilei (Kosasih Setiadi), seorang warga keturunan Tiong Hoa yang telah memeluk Islam yang akan mengisahkan perjalanan hidup beliau dalam menemukan hidayah keislaman. Saya pun akhirnya tertarik dan penasaran dengan apa yang akan menjadi topik bahasan pengajian tersebut.
Bapak Koh I Lei adalah seorang laki-laki keturunan Tiong Hoa, berusia sekitar 45 tahun dan bermukim di Yogyakarta. Beliau mengisahkan awal perjalanan hidup beliau dalam mencari pedoman hidup yang sebenar-benarnya sesuai ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau kini aktif dalam sebuah komunitas PITI (Persatuan Islam Tiong Hoa Indonesia). Beliau pun aktif dalam mengisi forum-forum kajian yang di dalamnya belau bagikan kisah-kisahnya dalam menemukan kedamaian dan kebenaran ajaran agama Islam yang beliau lalui selama bertahun-tahun lamanya. Berikut kisahnya.

Latar Belakang Keluarga dan Masa Muda Koh I Lei sebagai Ummat Kristiani
Beliau terlahir dalam sebuah keluaga keturunan Tiong Hoa yang memeluk agama Kristen. Seperti halnya seorang anak pada umumnya, maka Koh I Lei pun secara otomatis memeluk agama yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Koh I Lei hidup dalam bimbingan keluarga yang memeluk agama Kristen seara taat dan orang tua beliau memasukkannya ke Sekolah Minggu di Gereja saat masih berusia kanak-kanak, dan aktif dalam Pemuda Gereja saat menginjak usia remaja.

Layaknya anak-anak dan pemuda pada umumnya yang masih malas-malasan untuk beribadah, Koh I Ilei pun demikian. Pergi ke Gereja untuk beribadah  seperti ummat Kristiani kebanyakan merupakan rutinitas yang membuatnya bosan dan tidak menarik sama sekali.

Ada suatu kisah yang dituturkan beliau bahwa Koh I Lei mau datang ke Gereja hanya karena di Gereja terdapat kebiasaan untuk mengisi  kantong yang berisi uang (layaknya kotak infaq), dan Koh I Lei muda seringkali dititipi sejumlah uang oleh orang tua beliau untuk dimasukkan ke dalam kantong tersebut, namun Koh I Lei hanya memasukkan tangannya ke dalam kantong, dengan tetap menggenggam uang yang ada pada tangannya, tanpa memasukkannya ke dalam kantong dan beliau gunakan uang tersebut untuk uang saku pribadinya. Itulah salah satu alasan mengapa Koh I Lei muda masih tetap pergi ke Gereja.

Beliau kisahkan pula bahwa salah satu alasan lain untuk berangkat ke Gereja adalah karena ajakan teman-temannya sesama ummat Kristiani untuk sekadar melihat gadis-gadis cantik yang datang ke Gereja. Namun, gadis-gadis cantik Gereja tak mampu menaklukkan Koh I Lei sehingga jadilah beliau sebagai serang pemeluk agama Kristen yang kurang taat beribadah.

Nampaknya, hal inilah (keadaan beliau di waktu muda terhadap gereja) yang ALLAH atur jalan hidup beliau sehingga Koh I Lei mudah untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya, mencari kebenaran petunjuk hidup. Namun, hidayah semata-mata datangnya dari ALLAH, dan Dia berkehendak atas segala sesuatu.

Perkenalan dengan Aliran Kejawen
Hingga menginjak dewasa, layaknya orang-orang keturunan Tiong Hoa lainnya yang mudah untuk bergaul Koh I Lei pun pandai bergaul dengan semua orang, termasuk orang-orang Islam yang beliau kenal di bangku kuliah saat menempuh penddikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Dari pergaulannya dengan beberapa orang Islam, Koh I Lei sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam yakni ritual-ritual Kejawen (Islam jawa) seperti Ilmu Kanuragan (bela diri dengan ilmu hitam), Tirakatan, semedi, dan amalan-amalan lain yang sejatinya mengandung kesyirikan, namun dikarenakan hanya mengikut kebiasaan teman sepergaulan beliau saja, Koh I Lei pun nampaknya rajin melakukan ritual dalam aliran Kejawen tersebut seperti tirakat di makam Imogiri (makam para raja Yogya).

Yang beliau ingin dapatkan hanya ketenangan dan ketentraman hati yang kiranya mampu menghilangkan penatnya kehidupan. Dan akhirnya, dalam keadaan beliau masih berstatus sebagai seorang Kristiani, Koh I Lei pun ikut-ikutan saja. Dan seperti diketahui, bahwa ritual-ritual tersebut tentunya menggunakan amalan-amalan Islam, namun digunakan tidak pada tempatnya seperti membaca Surah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas di atas kuburan orang yang dianggap memilik karamah (keutamaan).

Dikisahkan pula bahwa suatu saat Koh I Lei mengunjungi makam ajudan Sultan Agung yang sering menuntun kuda dan membawakan air wudhu bagi sang Sultan. Di sana penjaga makam membacakan Surah Al Fatihah, An Naas, dan Al Falaq dan Al Ikhlas. Koh I Lei pun hanya mengikutinya tanpa tahu menahu makna bacaannya dan hanya membaca dari tulisan latin pada buku do’a.
Hingga suatu kali, salah seorang teman Koh I Lei menegurnya bahwa ritual-ritual tersebut tidak ada manfatnya karena yang berada di dalam makam adalah seorang Muslim, dan dirinya adalah non Muslim sehingga amalan-amalannya tidak akan memberikan manfaat jika berbeda agama, apalagi dirinya tidak paha sama sekali dengan apa yang dilakukannya. Dikarenakan Koh I Lei merasa telah mendapatkan ketenangan hati dengan melakukan ritual tirakatan, maka Koh I Lei mulai sedikit demi sedikit belajar tentang arti bacaan-bacaan yang diucapkannya saat mengunjungi kuburan.

Dari sini dapat dimaklumi bahwa Koh I Lei belum mengerti tentang hakikat ritual-ritual yang dilakukannya dalam pandangan Islam yang benar, karena beliau belum memeluk Islam dan melakukannya pun hanya ikut-ikutan ditambah dengan sedikit ketenangan yang didapatkannya setelah mengamalkannya. Semuanya hanya tinggal proses hingga beliau menemukan jalan yang benar.
Namun juga, Koh I Lei mengisahkan bahwa selama melakukan amalan dari kuburan yang satu hingga kuburan yang lainnya, beliau tidak pernah sekali pun bermaksud meminta sesuatu kepada penghuni kubur, dan seperti yang telah dijelaskan, Koh I Lei hanya menginginkan sedikit ketenangan hati saat mengerjakannya. Maka, Koh I Lei pun meneruskan upayanya untuk memahami Islam secara benar melalui berbagai macam cara.

Liku-Liku Mendapatkan  Hidayah Islam
Terdapat kisah yag menarik untuk diungkap bahwa suatu kali dalam masa-masa Koh I I Lei belajar tata cara ibadah ummat Islam, beliau sedang mengalami kesulitan untuk menghafal dan mengerti makna Surah Al Fatihah dalam waktu yang lama, hingga pada suatu hari Koh I Lei bermimpi dikejar-kejar seseorang yang hendak mencelakai beliau, dan entah bagaimana Koh Iei seketika itu juga mampu membaca Surah Al Fatihah secara lengkap. Kejadian mimpi ini berlagsung sebanyak tiga kali berturut-turut hingga beliau pun kini menghafalnya dengan baik.

Begitu pula dengan kisah beliau dalam upayanya menghafal dan mengerti surah-surah lainnya seperti An Naas, Al Falaq, Al Ikhlas, dan Ayat Kursi. Koh I Lei mampu menghafal keempat surah tersebut dengan terlebih dahulu memimpikannya. Hafalan Surah Koh I I Lei  tersebut bertahan selama kurang lebih lima tahun dan selanjutnya beliau sedikit demi sedikit mempelajari tata cara praktik ibadah shalat dengan kemampuan yang ada padanya, semampunya.
Buku-buku Islami mulai beliau baca, tuntunan-tuntunan ibadah ummat Islam mulai beliau pelajari, syiar-syiar keislaman berupa ceramah-ceramah dari salah seorang da’i kondang asal kota Bandung yang terkenal dengan manajemen Qalbunya mulai beliau ikuti, dan kebiasaan-kebiasaan Islami lainnya yang pada akhirnya membawa Koh I Lei kepada ajaran Islam.

Dikisahkan pula bahwa saat dirinya masih berstatus mahasiswa dan mendapatkan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kecamatan Gatak, beliau tinggal di sebuah lingkungan yang didominasi santri-santri pondok pesantren. Koh I Lei  pun mulai mengajarkan materi-materi keolahragaan kepada masyarakat santri yang ada di sana. Dan tak mustahil pula bahwa Koh I Lei  hidup dalam lingkungan yang ditampakkan padanya suasana kehidupan Islami, tanpa ada hiburan, yang ada hanyalah pengajian dan suara adzan. Inilah yang kiranya menggugah hati beliau.

Masih ada lagi, yakni tentang pergaulannya dengan kawan-kawannya yang Muslim di KONI cabang Yogyakarta yang menurut penuturan Koh I Lei  sangat mengedepankan rasa toleransi dan menghormati kepada orang lain yang berbeda agama. Sikap yang baik kepada orang lain yang ditunjukkan oleh kawan-kawannya yang beragama Islam inilah yang membuat Koh I Lei simpati kepada ummat Islam.

Berbeda halnya dengan yang didapatkannya saat datang ke Gereja dahulu saat sang pendeta berkata dengan perkataan yang kurang pantas tentang adzan yang dikumandangkan di masjid yang terletak dekat gereja, menurut Koh I Lei ini merupakan sikap yang kurang pantas karena kita tinggal di Indonesia yang beragam suku dan agama di dalamnya yang menurut Koh I Lei seharusnya mengedepankan sikap toleransi dan saling menghormati. Liku-liku perjalanan hidup beliau itu djalani dalam kurun waktu sekitar dua belas tahun lamanya hingga Koh I Lei pun memeluk agama Islam pada tahun 2003 silam.

Bersambung……

Posted on https://fadhlyoke.wordpress.com

Pendahuluan

Sudah lama kiranya saya tidak menulis sebuah catatan untuk dimuat di blog kesayangan saya ini. Kaku rasanya jari ini untuk menari di atas tuts komputer. Dan akhirnya pada kesempatan kali inilah saya diberi kelonggaran oleh ALLAH untuk sedikit berbagi kisah dan faidah yang kiranya dapat bermanfaat bagi diri saya pribadi dan para pembaca semuanya.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kisah tentang perjalanan hidup seorang insan dalam mencari petunjuk jalan hidupnya menuju kedamaian hati, ketenangan jiwa dan jalan keselamatan, berupa jalan Islam. Kisah ini saya dapat saat saya mengikuti pengajian rutin yang diadakan oleh Persatuan Islam Tiong Hoa Indonesia (PITI) pada dua hari yang lalu (13 September 2009) di Masjid Kampus UGM,. Awalnya saya sama sekali tidak bermaksud mengikuti pengajian tersebut, karena saya hanya berniat untuk shalat Ashar di maskam (akronim dari masjid Kampus). Selepas saya melaksanakan shalat, seorang laki-laki yang nampaknya bertidak sebagai pembawa acara pengajian segera duduk di meja yang sudah tertata di depan posisi Imam. Laki-laki tersebut mengumumkan bahwa sebentar lagi akan diadakan pengajian rutin dari PITI, yang akan disampaikan oleh Bapak Koh Ilei (Kosasih Setiadi), seorang warga keturunan Tiong Hoa yang telah memeluk Islam yang akan mengisahkan perjalanan hidup beliau dalam menemukan hidayah keislaman. Saya pun akhirnya tertarik dan penasaran dengan apa yang akan menjadi topik bahasan pengajian tersebut.

Bapak Koh I Lei adalah seorang laki-laki keturunan Tiong Hoa, berusia sekitar 45 tahun dan bermukim di Yogyakarta. Beliau mengisahkan awal perjalanan hidup beliau dalam mencari pedoman hidup yang sebenar-benarnya sesuai ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau kini aktif dalam sebuah komunitas PITI (Persatuan Islam Tiong Hoa Indonesia). Beliau pun aktif dalam mengisi forum-forum kajian yang di dalamnya belau bagikan kisah-kisahnya dalam menemukan kedamaian dan kebenaran ajaran agama Islam yang beliau lalui selama bertahun-tahun lamanya. Berikut kisahnya.

Latar Belakang Keluarga dan Masa Muda Koh I Lei sebagai Ummat Kristiani

Beliau terlahir dalam sebuah keluaga keturunan Tiong Hoa yang memeluk agama Kristen. Seperti halnya seorang anak pada umumnya, maka Koh I Lei pun secara otomatis memeluk agama yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Koh I Lei hidup dalam bimbingan keluarga yang memeluk agama Kristen seara taat dan orang tua beliau memasukkannya ke Sekolah Minggu di Gereja saat masih berusia kanak-kanak, dan aktif dalam Pemuda Gereja saat menginjak usia remaja.

Layaknya anak-anak dan pemuda pada umumnya yang masih malas-malasan untuk beribadah, Koh I Ilei pun demikian. Pergi ke Gereja untuk beribadah  seperti ummat Kristiani kebanyakan merupakan rutinitas yang membuatnya bosan dan tidak menarik sama sekali. Ada suatu kisah yang dituturkan beliau bahwa Koh I Lei mau datang ke Gereja hanya karena di Gereja terdapat kebiasaan untuk mengisi  kantong yang berisi uang (layaknya kotak infaq), dan Koh I Lei muda seringkali dititipi sejumlah uang oleh orang tua beliau untuk dimasukkan ke dalam kantong tersebut, namun Koh I Lei hanya memasukkan tangannya ke dalam kantong, dengan tetap menggenggam uang yang ada pada tangannya, tanpa memasukkannya ke dalam kantong dan beliau gunakan uang tersebut untuk uang saku pribadinya. Itulah salah satu alasan mengapa Koh I Lei muda masih tetap pergi ke Gereja.

Beliau kisahkan pula bahwa salah satu alasan lain untuk berangkat ke Gereja adalah karena ajakan teman-temannya sesama ummat Kristiani untuk sekadar melihat gadis-gadis cantik yang datang ke Gereja. Namun, gadis-gadis cantik Gereja tak mampu menaklukkan Koh I Lei sehingga jadilah beliau sebagai serang pemeluk agama Kristen yang kurang taat beribadah.

Nampaknya, hal inilah (keadaan beliau di waktu muda terhadap gereja) yang ALLAH atur jalan hidup beliau sehingga Koh I Lei mudah untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya, mencari kebenaran petunjuk hidup. Namun, hidayah semata-mata datangnya dari ALLAH, dan Dia berkehendak atas segala sesuatu.

Perkenalan dengan Aliran Kejawen

Hingga menginjak dewasa, layaknya orang-orang keturunan Tiong Hoa lainnya yang mudah untuk bergaul Koh I Lei pun pandai bergaul dengan semua orang, termasuk orang-orang Islam yang beliau kenal di bangku kuliah saat menempuh penddikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Dari pergaulannya dengan beberapa orang Islam, Koh I Lei sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam yakni ritual-ritual Kejawen (Islam jawa) seperti Ilmu Kanuragan (bela diri dengan ilmu hitam), Tirakatan, semedi, dan amalan-amalan lain yang sejatinya mengandung kesyirikan, namun dikarenakan hanya mengikut kebiasaan teman sepergaulan beliau saja, Koh I Lei pun nampaknya rajin melakukan ritual dalam aliran Kejawen tersebut seperti tirakat di makam Imogiri (makam para raja Yogya).

Yang beliau ingin dapatkan hanya ketenangan dan ketentraman hati yang kiranya mampu menghilangkan penatnya kehidupan. Dan akhirnya, dalam keadaan beliau masih berstatus sebagai seorang Kristiani, Koh I Lei pun ikut-ikutan saja. Dan seperti diketahui, bahwa ritual-ritual tersebut tentunya menggunakan amalan-amalan Islam, namun digunakan tidak pada tempatnya seperti membaca Surah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas di atas kuburan orang yang dianggap memilik karamah (keutamaan)

Dikisahkan pula bahwa suatu saat Koh I Lei mengunjungi makam ajudan Sultan Agung yang sering menuntun kuda dan membawakan air wudhu bagi sang Sultan. Di sana penjaga makam membacakan Surah Al Fatihah, An Naas, dan Al Falaq dan Al Ikhlas. Koh I Lei pun hanya mengikutinya tanpa tahu menahu makna bacaannya dan hanya membaca dari tulisan latin pada buku do’a.

Hingga suatu kali, salah seorang teman Koh I Lei menegurnya bahwa ritual-ritual tersebut tidak ada manfatnya karena yang berada di dalam makam adalah seorang Muslim, dan dirinya adalah non Muslim sehingga amalan-amalannya tidak akan memberikan manfaat jika berbeda agama, apalagi dirinya tidak paha sama sekali dengan apa yang dilakukannya. Dikarenakan Koh I Lei merasa telah mendapatkan ketenangan hati dengan melakukan ritual tirakatan, maka Koh I Lei mulai sedikit demi sedikit belajar tentang arti bacaan-bacaan yang diucapkannya saat mengunjungi kuburan.

Dari sini dapat dimaklumi bahwa Koh I Lei belum mengerti tentang hakikat ritual-ritual yang dilakukannya dalam pandangan Islam yang benar, karena beliau belum memeluk Islam dan melakukannya pun hanya ikut-ikutan ditambah dengan sedikit ketenangan yang didapatkannya setelah mengamalkannya. Semuanya hanya tinggal proses hingga beliau menemukan jalan yang benar.

Namun juga, Koh I Lei mengisahkan bahwa selama melakukan amalan dari kuburan yang satu hingga kuburan yang lainnya, beliau tidak pernah sekali pun bermaksud meminta sesuatu kepada penghuni kubur, dan seperti yang telah dijelaskan, Koh I Lei hanya menginginkan sedikit ketenangan hati saat mengerjakannya. Maka, Koh I Lei pun meneruskan upayanya untuk memahami Islam secara benar melalui berbagai macam cara.

Liku-Liku Mendapatkan  Hidayah Islam

Terdapat kisah yag menarik untuk diungkap bahwa suatu kali dalam masa-masa Koh I I Lei belajar tata cara ibadah ummat Islam, beliau sedang mengalami kesulitan untuk menghafal dan mengerti makna Surah Al Fatihah dalam waktu yang lama, hingga pada suatu hari Koh I Lei bermimpi dikejar-kejar seseorang yang hendak mencelakai beliau, dan entah bagaimana Koh Iei seketika itu juga mampu membaca Surah Al Fatihah secara lengkap. Kejadian mimpi ini berlagsung sebanyak tiga kali berturut-turut hingga beliau pun kini menghafalnya dengan baik.

Begitu pula dengan kisah beliau dalam upayanya menghafal dan mengerti surah-surah lainnya seperti An Naas, Al Falaq, Al Ikhlas, dan Ayat Kursi. Koh I Lei mampu menghafal keempat surah tersebut dengan terlebih dahulu memimpikannya. Hafalan Surah Koh I I Lei  tersebut bertahan selama kurang lebih lima tahun dan selanjutnya beliau sedikit demi sedikit mempelajari tata cara praktik ibadah shalat dengan kemampuan yang ada padanya, semampunya.

Buku-buku Islami mulai beliau baca, tuntunan-tuntunan ibadah ummat Islam mulai beliau pelajari, syiar-syiar keislaman berupa ceramah-ceramah dari salah seorang da’i kondang asal kota Bandung yang terkenal dengan manajemen Qalbunya mulai beliau ikuti, dan kebiasaan-kebiasaan Islami lainnya yang pada akhirnya membawa Koh I Lei kepada ajaran Islam.

Dikisahkan pula bahwa saat dirinya masih berstatus mahasiswa dan mendapatkan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kecamatan Gatak, beliau tinggal di sebuah lingkungan yang didominasi santri-santri pondok pesantren. Koh I Lei  pun mulai mengajarkan materi-materi keolahragaan kepada masyarakat santri yang ada di sana. Dan tak mustahil pula bahwa Koh I Lei  hidup dalam lingkungan yang ditampakkan padanya suasana kehidupan Islami, tanpa ada hiburan, yang ada hanyalah pengajian dan suara adzan. Inilah yang kiranya menggugah hati beliau.

Masih ada lagi, yakni tentang pergaulannya dengan kawan-kawannya yang Muslim di KONI cabang Yogyakarta yang menurut penuturan Koh I Lei  sangat mengedepankan rasa toleransi dan menghormati kepada orang lain yang berbeda agama. Sikap yang baik kepada orang lain yang ditunjukkan oleh kawan-kawannya yang beragama Islam inilah yang membuat Koh I Lei simpati kepada ummat Islam.

Berbeda halnya dengan yang didapatkannya saat datang ke Gereja dahulu saat sang pendeta berkata dengan perkataan yang kurang pantas tentang adzan yang dikumandangkan di masjid yang terletak dekat gereja, menurut Koh I Lei ini merupakan sikap yang kurang pantas karena kita tinggal di Indonesia yang beragam suku dan agama di dalamnya yang menurut Koh I Lei seharusnya mengedepankan sikap toleransi dan saling menghormati. Liku-liku perjalanan hidup beliau itu djalani dalam kurun waktu sekitar dua belas tahun lamanya hingga Koh I Lei pun memeluk agama Islam pada tahun

Iklan

2 pemikiran pada “Sepenggal Hikmah dari Koh I Lei ( Muallaf Tiong Hoa )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s