Kini, Kakakku Seorang Salafi !

watergreenglassAku terlahir dari seorang ibu yang memiliki lima orang anak. Dua lelaki dan tiga perempuan. Kakak laki-lakiku bernama Muhammad Nizar Zulmi. Aku biasa memanggilnya Mas Nizar. Dia masih tergolong muda dan usianya terpaut 3 tahun lebih tua dariku. Semenjak ayah meninggal dunia sebelas tahun silam, kakakku menjadi lelaki tertua di keluarga dan kami adalah dua orang laki-laki di antara empat perempuan di keluarga. Banyak orang mengatakan bahwa wajah kami amat mirip, sehingga terkadang orang akan langsung mengetahui tahu bahwa kami berdua adalah kakak beradik hanya dari sekilas pandangan mata. Kami berdua sangat akrab sejak kecil. Dia menjagaku semenjak kami berdua sama-sama duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang. Nampaknya, amatlah pantas jika kakakku ini adalah salah satu sosok yang amat berjasa dan berpengaruh sepanjang hidupku kini.

Kakakku melewati masa mudanya seperti pemuda lain pada umumnya, akan tetapi pergaulannya masih dalam batas kewajaran. Jika banyak teman-temannya yang gemar merokok, maka kakakku justru antipati dengan barang terlaknat tersebut. Mungkin memang sejak kecil kami diajarkan bahwa hal-hal yang berbau hura-hura ala pergaulan pemuda adalah sesuatu yang buruk, maka kami berdua tumbuh sebagai pemuda yang baik-baik yang senantiasa dituntut menjaga nama baik keluarga. Karena kami tahu bahwa ibunda kami telah sendirian membesarkan kelima anaknya dengan peluh dan air mata kasih sayang.

Kebahagiaan memiliki seorang kakak lelaki yang mampu menjadi sahabat bertukar pikiran, yang memberi nasehat di kala gundah melanda, menjadi tempat berkeluh kesah, dan menafkahi kebutuhan hidupku saat ini menjadi bertambah sangat istimewa dengan apa yang aku lihat berupa perubahan yang terjadi pada diri kakakku. Jika dahulu rasa hormatku hanya sebatas karena dia adalah kakakku yang memang sudah sepantasnya rasa hormat  aku berikan padanya, maka rasa hormatku bertambah karena kini dia telah menjadi sosok pemuda yang selalu bersemangat dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang yang faqih dalam agama, sebagai seorang Sunni Salafi.
Kira-kira lima tahun yang lalu, tatkala aku menemukan nikmatnya menjalani hidup dengan bimbingan agama, kakakku termasuk salah seorang yang tajam pandangannya terhadap da’wah ahlussunnah. Dahulu dia melihat perubahan penampilan yang terjadi padaku seperti ukuran celanaku yang tak melebihi mata kaki, gerakan sunnah-sunnah dalam shalat yang sudah terasing di mata manusia, dan perubahan lainnya, yang menyebabkan kami sempat terlibat pertentangan dalam waktu yang panjang. Namun, seiring berjalannya waktu dan ditambah watak kakakku yang mudah untuk menerima sesuatu yang sudah sepatutnya diikuti secara rasional dan keimanan yang penuh, dirinya kini menerima kebenaran bahwa dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Muslim adalah dengan mengikuti tuntunan dari Rasulullaah, para shahabat dan pendahulu-pendahulu kita yang shalih.

Semenjak kami berdua menginjak masa dewasa, kami lebih sering bertukar pikiran, berdiskusi tentang banyak hal, dan saling menasihati satu sama lain, tak terkecuali masalah agama.  Dan memang sudah menjadi kewajibanku di awal-awal diriku mengenal da’wah Ahlussunnah, untuk mengajak orang-orang terdekatku agar beragama dengan baik di hidupnya terutama kakakku sendiri. Segalanya butuh proses untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Mungkin dapat diketahui bahwa semanjak aku mengenal da’wah Ahlussunnah Salafi, maka kakakku mendapat gambaran secara jelas bagaimana kehidupan seseorang terbimbing dengan benar dengan tuntunan agama (walau Aku pun masih jauh jika disebut sebagai seorang sunni salafi yang baik). Dirinya belajar bahwa  memang da’wah salafiyyah adalah da’wahnya para pendahulu-pendahulu agama yang shalih, yang tidak ada padanya melainkan kebaikan, yang tidak mengajarkan pada fanatisme golongan atau tokoh, namun mengajarkan pada kebaikan yang terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Kira-kira setahun yang lalu, saat aku melihat beberapa perubahan dalam diri kakakku yang mulai bersemangat dalam beribadah, dan lebih luas dari itu adalah berkehidupan dengan tuntunan agama Islam. Kakakku yang memang hobby membaca buku, mulai gemar membaca buku-buku agama yang Aku punya, mendengarkan rekaman-rekaman kajian di komputer, dan kami senang sekali membicarakan tentang kehidupan seseorang yang menisbahkan dirinya pada salafi di sekitar kami.

Aku ingat betul manakala kakakku amat bersemangat mendengarkan rekaman kajian Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidhahullah. Menurutnya, apa yang disampaikan sangat tegas dan gamblang untuk menampakkan kebenaran di atas ilmu. Ditambah beberapa rekaman kajian asatidzah lainnya seperti rekaman kajian Ustadz Afifuddin dan Luqman Ba’abduh, semenjak saat itu kakakku mulai bersimpati terhadap da’wah salafiyyah. Tertanam dalam benaknya bahwa inilah da’wah Islam yang sebenar-benarnya di tengah badai fitnah kelompok-kelompok lain atau gerakan-gerakan yang tidak di atas tuntunan agama yang benar.

Perkenalannya dengan da’wah salafiyyah diawali dengan mendatangi satu atau dua majelis ta’lim. Aku pun menyambut niat baik kakakku dengan berusaha memberikan masukan yang sekiranya Aku mampu agar dirinya mendapatkan kebaikan. Dan Alhamdulillaah, kini kakakku telah rutin mengikuti kajian demi kajian yang ada di ibukota, tampatnya bekerja. Setiap akhir pekan, kakakku tak pernah absen untuk menghadiri kajian di masjid Al I’tisham di kawasan Sudirman, Jakarta. Dia pernah bertutur, bahwa andai sepekan saja  dirinya melawatkan waktu untuk mendatangi kajian, seakan terdapat sesuatu yang kurang dalam hidupnya, Masya ALLAH. Mendatangi majelis ilmu adalah obat hati, karena di dalamnya dipenuhi ilmu agama dan upaya untuk mengingat ALLAH.

Memang benar, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala akan memperbaiki kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat dikarenakan kebaikannya dalam beragama. Hal itulah yang aku amati ada pada sosok kakakku. Setelah lebih mengenal agama, dirinya terlihat lebih bijaksana, dimudahkan  penghidupannya, dan kebaikan-kebaikan lain yang diperolehnya. Sungguh sebuah kebahagiaan yang tiada terkira bagi seorang adik, manakala melihat kakaknya yang dia cintai dan hormati mengalami perubahan menjadi seorang yang shalih.

Jika dahulu pakaian yang digemarinya adalah kemeja dan celana panjang, kini aku lihat dia memotong celana-celananya hingga di atas mata kaki dan dengan bangga mengenakan gamis panjang ala Saudi di depan umum (yang aku sendiri belum “mampu” memakainya). Jika dahulu yang didengarkanya adalah iringan lagu-lagu pop karya grup band Padi, kini aku melihatnya begitu senang menikmati lantunan suara Mushari Rashid dengan surah An Naba. Dan jika dahulu dia menjalin hubungan pacaran dengan seorang wanita, maka kini aku melihatnya meninggalkan semua itu demi sebuah kemuliaan hidup menjadi seorang pemuda yang shalih.

Pandangan-pandangan miring terhadap perubahan yang terjadi pada kakakku sirna dengan apa yang dia tampakkan selama ini berupa kebaikan-kebaikan dan hikmah da’wah salafiyyah. Kini, di rumah kami ada dua orang yang mengenakan gamis jika pergi menunaikan shalat. Kami pergi ke masjid berdua, pulang dari masjid pun berdua. Dan kini aku melihatnya tengah besemangat untuk berusaha menghafal Al Qur’an. Sungguh Aku sendiri terkadang iri melihat perubahan yang ada pada kakakku berupa kebaikan-kebaikan yang ada padanya. Dirinya begitu bersemangat pergi ke masjid tatkala adzan berkumandang, sedangkan aku masih terlelap tidur. Peci rajut cokelat dengan nyamannya selalu dia kenakan, dan dengan penuh kebanggaan menunjukkan jati dirinya sebagai seorang salafi. Lebih dari itu semua, kini ibu kami memiliki dua orang putra yang akan selalu berusaha menjadi anak-anaknya yang shalih yang berbakti padanya di dunia demi kebaikan di akhirat. Ibunda kami yang membesarkan kami berdua dalam buaian kasih sayang. Semoga putra-putranya menjadi bukti bahwa apa yang telah beliau berikan adalah kebaikan yang tak terkira.

Akhirnya, aku hanya mampu berusaha dan berdoa sekuat tenaga agar kakakku senantiasa istiqomah menjalani kehidupan beragamanya dengan benar, menjadi lelaki yang faqih di atas ilmu agama, sabar meniti liku kehidupan sebagai seorang ikhwan sunni salafi yang berpegang teguh di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafusshalih, dan diberikan baginya kebaikan kehidupan dunia dan akhirat.

Wahai abang yang kucinta
Teriring dariku sebait doa
Agar kiranya kita mati bersama
Dalam indahnya tatapan surga

5 thoughts on “Kini, Kakakku Seorang Salafi !

  1. Bismillah
    Subhanalloh
    adakalanya hidayah Alloh begitu mudah untuk hinggap di hati-hati manusia yang senantiasa mau merenungi jalan hidupnya….
    *Siapakah yang telah menciptakan dirinya ?
    *Apa hakikat kehidupan di dunia yang fana’ ini ?
    *Dan akan kemanakah muara dari akhir kehidupan kita di dunia ?

    Teruntuk saudaraku kaum muslimin/mat..
    masih ada waktu bagi kita untuk memperbaiki niat, sikap, dan cara pandang kita ttg kehidupan ini, untuk mencoba menselaraskan dg apa-apa yang telah Alloh dan RosulNYA gariskan bagi hamba-hambaNYA yang senantiasa mengharap ampunan dan rohmat Alloh ‘azza wajalla agar menjadi berarti dan bernilai segala aktifitas ibadah kita di hadapanNYA sebagai bekal di HARI PENGADILAN, agar IA berkenan mengumpulkan kita hamba-hambaNYA yang sholih
    (aamien) bertemu dg kekasihNYA di telaga…AL-HAUDL
    Aamien……
    Barokalohufiekum

    min akhukum
    alghuroba’@tenabang

  2. subhanallah…. sya bru mendengangr dan memmbacanya sepintas saja ……ya rob.. alhmdulilah masih ada lelaki yang seperti itu ” kalian berdua”,,, dan semoga bisa menjadi contoh untuk kita semua,,,,
    saya pun iri dengan cerita ini… dan saya akan terus berusaha agar tetap istiqomah dijalan ALLAH

    terimakasih atas darimu, akhi…..semoga masih byk yg seperti kalian….
    ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s