Mengkritisi “Kawasan Bebas Rokok”

Di sudut ruangan itu terpampang dengan jelas, sebuah papan kuning bertuliskan “Kawasan Bebas Rokok”. Maksud hati sang pembuat papan adalah agar di sekitar area tersebut bersih dari rokok, atau dengan kata lain tidak diperkenankan merokok di sekitar area tersebut, dan ini secara sekilas pandang dapat dimengerti oleh semua orang. Namun, ada sedikit yang mengusik pikiran saya. Ya ! Maksud kata “bebas” dalam papan tersebut bermakna ambigu. Setidaknya ada dua makna yang mencocoki maksud kalimat “Bebas Rokok”. Mana yang dimaukan, “rokok bebas menyala dalam kawasan tersebut” atau “rokok dilarang menyala di kawasan tersebut”. Maksud yang kedua inilah yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Kata “bebas”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna : “lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa)”. Artinya, dalam konteks berbahasa yang benar sesuai “Kitab suci”  Bahasa Baku Indonesia – kalau saya boleh menyebut KBBI dengan singkatan ini-,  maka maksud kalimat yang tepat –setidaknya menurut pengamatan saya- dalam papan kuning itu adalah “Rokok bebas (leluasa) menyala dalam kawasan ini” dan mengandung konsekuensi bahwa semua orang dapat dengan leluasa merokok. Nah Lo !

Saya mencoba menelaah lebih jauh bahwa inilah akibat penerjemahan secara mentah-mentah kata-kata dalam bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Kata bebas, dalam bahasa Inggris bersinonim dengan kata free -walaupun tidak dalam semua penggunaannya, sehingga akrab dalam telinga kita kalimat dalam bahasa Inggris yang setiap hari minggu digelar di jalan protokol ibukota, Car Free Day atau kalimat Free of Charge. Secara kasar, Car Free Day berarti “Hari Bebas Mobil” sedangkan kalimat Free of Charge bermakna “Tanpa Biaya” yang pada akhirnya orang Indonesia pun latah menyebutnya “Bebas Biaya”.

Transliterasi yang seperti inilah yang menghasilkan sebuah paradoks baru. Kalimat “Hari Bebas Mobil” dan “Bebas Biaya” mengalami nasib yang setali tiga uang dengan kalimat dalam papan kuning di awal tadi yang menghasilkan makna ambigu Mau bagaimanapun tulisan yang benar, pada intinya adalah “orang-orang dilarang naik mobil pada hari itu” dan “tidak dikenakan biaya”. Daripada pusing-pusing memikirkannya ?!

Entah sudah menjadi kebiasaan atau memang begini seharusnya, di kala gaya berbahasa kita latah dengan sebuah interpretasi gaya bahasa orang asing. Pemaknaan kata “bebas” seakan bergeser dari maknanya yang sebenarnya. Jika makna awalnya adalah “leluasa”, maka kata “bebas” bermakna pula “bersih”. Jika kita mencari kesamaannya dalam bahasa inggris, memang kata free dalam beberapa konteks kalimat dapat pula bermakna clear yang artinya bersih. Dan kita tahu bahwa kata clear sepadan dengan bersih. Namun, apa benar “bebas” juga sepadan dengannya ?

Pembuat papan “Kawasan Bebas Rokok” sebenarnya dapat dengan mudah mencari kalimat yang lebih jelas yaitu “Dilarang Merokok di Area Ini” sehingga tidak menimbulkan makna yang ambigu seperti ini dan mengesankan larangan dalam papannya seara tegas. Saya mendapat jawaban yang mengundang gelak tawa, “Pembuat papan itu tidak belajar bahasa Indonesia” Gitu aja kok repot!. Keruan Saja !. Atau jika tetap keukueh dengan kalimat itu, agaknya perlu ditambah awalan ter- sebelum kata “bebas”, sehingga kalimatnya berubah menjadi “Kawasan Terbebas dari Rokok”. Menurut saya, kalimat inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Pada akhirnya, jika orang yang berbahasa Inggris memahami kata free kalimat Car Free Day atau Free of Charge sesuai dengan konteks komunikasi mereka –“bebas” dalam pemahaman mereka- maka hal itu tidak berarti orang yang berbahasa Indonesia dengan seenaknya memahami kata “bebas” dalam kalimat “Kawasan Bebas Rokok” juga dengan konteks komunikasi bahasa Inggris. Jika kita bergaya bahasa Indonesia, maka sudah sepatutnya kita menggunakan pemahaman orang Indonesia yang asli dalam setiap pemaknaan gaya bahasa kita. Jangan sembarangan menggunakan pemahaman bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia karena bahasa bukan sekadar budaya, namun bahasa adalah jatidiri bangsa. Dan jangan lupa, “bebas” itu leluasa, bukan bersih !

Ditulis di Student Internet Center, FMIPA UGM pukul 10.30 WIB – 11.34 WIB

Iklan

One thought on “Mengkritisi “Kawasan Bebas Rokok”

  1. ========kangHanif==========

    artikel yang cukup bagus, kelihatan intelek, kelihatan anak UGM-nya. whwhehwhwhwe. Ada sedikit tanggapan, pakdhe…
    1. Kitab suci Bahasa Baku Indonesia :: menurut saya hilangkan saja kata suci itu. Seolah Anda ingin menandingkan KBBI dengan Al-Quran.Tapi, jika Anda bersikukuh menggunakan kata suci, cobalah untuk menuliskannya seperti ini : Kitab (‘suci’) Bahasa Baku Indonesia (dengan tanda petik). meskipun saya lebih menyarankan untuk membuangnya sama sekali.
    2. Jika tetap ingin menggunakan kata kawasan dan rokok, mungkin kata bebas akan lebih pas jika diganti dengan kata TANPA, sehingga menjadi KAWASAN TANPA ROKOK.

    ========kangHanif==========

    Jadi begini, mengenai penyebutan KBBI sebagai Kitab suci Bahasa Baku Indonesia maksudnya KBBI selama ini dijadikan rujukan tentang penggunaan kata yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia, sehingga keberadaannya layaknya Kitab Suci, dan tentu saja, dengan atau tanpa tanda petik, makna kitab suci di sini adalah makna dalam tanda petik. Tiada maksud sama sekali untuk menyejajarkan posisinya dengan Al Qur’anul Kariim.

    Kedua, karena pembahasan dalam tulisan ini adalah tentang kata “bebas”, sehingga saya berusaha tetap menggunakan kata bebas, namun dalam kaidah dan pemahaman berbahaa Indonesia yang benar sehingga kata “bebas” kemabli ke makna awalnya. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s