Bersama Ibu

Hari ini aku di rumah. Rumahku bukan rumah yang mewah, apalagi megah. Tapi, cukuplah alasan bahwa aku dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita yang begitu menyayangiku di sini sajalah yang membuatku selalu rindu untuk kembali ke rumah. Bukan untuk apa-apa. Hanya sekadar merasakan kasih sayang ibuku yang tak akan pernah terganti. Seringkali aku lupa saat di luar sana, bahwa ibuku dengan setia menunggu anak-anaknya yang “pergi” ke peraduan hidupnya.

Seringkali aku lupa bahwa di rumah ini ibu selalu menggantungkan harapan pada anaknya. Agar sukses lah, agar jadi shalih lah, agar menjadi kebanggaan keluarga. Seringkali aku lupa bahwa kasih sayang ibu mengalahkaan kasih sayang orang-orang yang ada dalam hidupku. Hingga seringkali aku terlalu dibuat sibuk dengan duniaku di luar sana, lupa pada kasihnya.

Doa ibuku tak pernah berbeda. Agar anaknya selalu bahagia dan membuatnya selalu bangga. Namun, saat di matanya, aku seakan bersandiwara. Nyatanya, di duniaku, aku tak lebih berbeda dibanding orang lain di luar sana. Tak ada yang istimewa. Ya, karena seandainya ibu tahu bahwa anaknya ini biasa-biasa saja, dan belum mampu menoreh senyum di wajahnya, tentu ibu akan mengelus dada. Anaknya belum mampu memenuhi harapannya. Tak lebih dari sekadar pemuda biasanya.

Sudah lama aku tak melihat senyum kebanggaan di wajah ibu. Bangga dengan apa yang aku torehkan. Bangga dengan anaknya yang seharusnya sudah dewasa menjalani hidupnya. Adakah kiranya aku mampu megembalikan seukir seyum di wajah ibu ? Yang di dalamnya membuat hidupku hangat dan penuh semangat. Apa saja yang aku lakukan untuk membuatnya bahagia, apalagi bangga ? Apa saja yang telah aku buat agar ibu kembali menghangatkan rumah ini dengan senyum kebanggaan pada anaknya ? Atau justru sebaliknya ? Terdiam, sungguh aku terdiam.

Aduhai ibu, sungguh kiranya anakmu tahu
Bahwa kasihmu pun tak hilang bersama sang waktu
Aduhai ibu, sungguh kiranya anakmu tahu
Bulir air matamu mengalir bersama sang bayu

Tentunya ku ‘kan berjuang sekuat ragaku
Agar bahagia hinggap di pelupuk matamu

9 thoughts on “Bersama Ibu

  1. mengapa ibu tak tersenyum bangga melihatmu de?? adakah yang hilang darimu di mata beliau?? semoga engkau dapat mengembalikan senyum itu tersungging di bibirnya… sebagamana aku dulu jg demikian dan kini atas izinNya telah mampu mengembalikan senyum itu di bibir kedua orang tuaku… ^^

  2. Bismillah,
    besyukurlah antum masih didampinggi orangtua berusahalah untuk menyenangkannya…
    kelak antum akan terasa …
    begitu besar kasih sayang orangtua pada kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s