[Edisi Curhat] Gadis Itu Bernama Ririn

Namanya Ririn. Saya mengenalnya sejak saya menetap di Jogja karena kebetulan saya baru masuk kuliah dan dia baru masuk tahun pertama sekolah menengah di kota Jogja. Saya mengenalnya lewat kakak perempuan saya karena  Ririn tinggal serumah dengannya  dua tahun yang lalu. Awalnya saya hanya mengenal Ririn layaknya gadis SMA lainnya, yang biasa-biasa saja.  Tuntutan sebagai guru privat yang memiliki murid  anak SMA membuat saya biasa meminjam buku-buku Matematika dan Fisika kelas 10 pada Ririn.

Dari beberapa kali obrolan dengan Ririn, saya menjadi tahu kalau dia bukan siswa SMA biasa. Prestasinya segudang. Itulah yang saya tangkap dari beberapa kali penuturan tentang kisahnya yang  pergi ke luar negeri dengan karya tulisnya, selalu menjadi  juara kelas sejak semester awal, dan keliling Indonesia dengan beberapa program Diknas, sampai-sampai SMA Teladan Jogja pun  ingin membujuknya untuk pindah ke sana. Tak hanya itu, Ririn juga tercatat sebagai editor termuda di haria nasional ternama, menjadi penulis buku, mempunyai sebuah perpustakaan pribadi tempat anak-anak jalanan belajar membaca, dan rutinitas yang membuatnya sibuk dengan dunianya.

Bagi saya adalah sesuatu yang membanggakan jika saya masih SMA namun saya bisa pergi keliling Indonesia, bahkan ke Jepang, bekerja sebagai editor di Republika, berpenghasilan sendiri, aktif menulis buku, menjadi jurnalis, dan juara kelas di sekolah. Komplit. Itulah sosok Ririn di mata saya dengan prestasi yang bahkan mungkin masih banyak yang saya belum ketahui darinya. Di saat banyak siswa-siswa SMA lain hanya mampu berkeluh manja, Ririn telah berubah menajdi sosok perempuan yang mandiri, menjalani hidupnya yang dia nikmati. Cukuplah dikatakan bahwa dia adalah pekerja keras, saat dia menghidupi kebutuhan hidupnya dengan keringatnya sendiri.

Hanya itu ? Ternyata tidak.  Kira-kira enam bulan yang lalu, Ririn pernah berujar bahwa dia mengidap sebuah penyakit yang menyerang pembuluh darah syaraf otak. Lebih tepatnya, terjadi penyempitan pembuluh darah pada syaraf otaknya. Saya tidak tahu detailnya karena Ririn tidak menceritakannya secara rinci. Yang saya tahu darinya adalah penyakit itu hampir sama dengan leukemia sehingga Ririn harus menjalani beberapa kali kemoterapi untuk terus menjaganya tetap sehat atau dalam kata lain , agar dirinya tetap bertahan hidup sampai sekarang.

Awalnya, Ririn tak merasakan apa-apa pada tubuhnya hingga pada suatu ketika dia jatuh sakit. Pergilah dia ke dokter di rumah sakit dan diketahui bahwa Ririn mengalami penyempitan akut pada pembuluh darah sayaraf otaknya. Lagi-lagi saya tidak tahu detailnya. Lantas, dia dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jogja yang kemudian mengharuskannya pergi Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Patut diingat bahwa saat itu dia sama sekali tidak memberi tahu orang-orang terdekatnya tentang apa yang dialaminya, bahkan orang tuanya di Pemalang  Jawa Tengah pun tak diberitahunya  juga. Alasannya, agar tidak mengganggu pikiran mereka, tidak merepotkannya. Sampai saat ini, saya pun tak pernah habis pikir tentang pilihannya itu.

Akhirnya, dengan kondisi tubuh yang lemah karena telah beberapa hari menginap di rumah sakit, Ririn pergi ke Jakarta, ke Rumah Sakit Cipto untuk menemui dokter spesialis syaraf. Dan dokter pun terkejut dengan apa yang didapatinya pada seorang Ririn. Bagaimana mungkin seseorang yang menderita penyempitan pembuluh darah syaraf otak itu  mampu berangkat dari Jogja ke Jakarta naik kereta api sendiri padahal biasanya dia  hanya akan bertahan hidup tiga atau empat hari saja ? Singkat cerita, Ririn pun dirawat di RSCM untuk beberapa hari sebelum akhirnya dia harus kembali ke Jogja dengan ambulans.

Mungkin timbul sebuah pertanyaan, dari mana Ririn membiayai perawatan rumah sakitnya selama itu padahal dia sama sekali tidak memberi tahu siapapun? Ternyata, dia menjual dua buah laptop hasil kerjanya seharga sepuluh juta, menjual kamera antiknya seharga enam puluh juta untuk membayar biaya rumah sakit dan semua itu  dilakukannya tanpa bantuan siapapun. Itulah, betapa hasil kerjanya selama ini harus dikorbankan untuk sekadar bertahan hidup dari penyakit yang menimpanya.

Akhirnya, Ririn kembali ke Jogja dan harus kembali dirawat di Jogja. Kali ini dia melalui perjalanan dari Jakarta ke Jogja dengan ambulans, tanpa sadarkan diri. Pada tim medis, dia hanya memberikan nomor kontak murabbiyah (pembimbing di pengajian) yang dirinya biasa ikut kajian keislaman. Dari situ murabbiyahnya lah yang menemani Ririn selama dia mengalami amnesia di rumah sakait. Ya, saya pun hampir tak percaya, saya kira amnesia total hanya terjadi di sinetron atau film-film yang pernah saya tonton, nyatanya ada di dunia nyata, dan itu dialami pula oleh Ririn.

Dituturkannya, betapa dia lupa akan jati dirinya, tak tahu  ada di mana, tak kenal orang-orang yang ditemuinya. Menurutnya, ingatannya sembilan puluh persen hilang. Masya ALLAH.  Itulah yang membuat murabbiyahnya berusaha dengan keras untuk mengembalikan ingatan Ririn seperti sedia kala, hari ke hari, bulan demi bulan. Singkat cerita, Ririn membutuhkan waktu dua bulan untuk memulihkan ingatannya. Sampai saat ini, saya pun ‘setengah tidak percaya’ dengan kisah amnesia yang dialami Ririn karena saya tidak pernah membayangkan apa yang dialamnya menjadi seburuk itu.

Kini, sejak dua bulan yang lalu, Ririn kembali menjalani hidupnya seperti sebelumnya, namun dengan kenyataan bahwa dia harus memulihkan ingatanya, menjalani kemoterapi-kemoterapi agar tetap bertahan. Dan minggu lalu dia menjalani kemoterapi yang keempat yang menurutnya akan sangat menentukan hidupnya.Saya mencoba menghiburnya dengan nasehat kesabaran, namun nampaknya dia lebih mengerti makna kesabaran daripada saya. Ya, dengan apa yang dialaminya, nampaknya  sabar saja tidak cukup.

Yang saya kagumi dari seorang gadis bernama Ririn adalah ketegarannya menerima segala yang menimpanya. Seorang gadis SMA, dengan segudang prestasi yang dulu diraihnya, harus sendirian menerima kenyataan pahit akan penyakit akut yang dideritanya. Bagaimana dia berusaha mandiri menghadapi semuanya. Betapa keyakinan bahwa ALLAH pasti memberinya jalan keluar yang terbaik bagi hidupnya membuatnya kuat hingga hari ini, bahkan keridhaan hati untuk pasrah menerima kemungkinan terburuk akibat penyakitnya terus menerus membuatnya hidup dibakar api semangat.

Betapa kemudian dia bangkit menjalani rutinitasnya, sebagai siswa SMA, jurnalis di media massa, penulis buku, hingga seringkali menjadi trainer di kampusi-kampus. Ya, siswa SMA menjadi trainer motivasi di hadapan para mahasiswa. Sungguh menakjubkan bagi seorang gadis seusianya. Dengan kenyataan bayang-bayang kematian yang selalu menghantuinya, Ririn telah mempu melewati masa-masa putus asa. Ketegaran yang dimilikinya mampu mengalahkan ketakutannya. Apa yang dialami Ririn bagi saya adalah sebuah pelajaran besar tentang perjuangan hidup yang sungguh berat, ketegaran, keikhlasan pada takdir hidupnya, semangat, dan kesabaran luar biasa. Saya sungguh banyak belajar padanya. Seperti yang dikatakannya, “bahkan jika mati pun, aku pasrah, mas”.


Iklan

9 pemikiran pada “[Edisi Curhat] Gadis Itu Bernama Ririn

  1. ini kisah nyata bukan..?? kirain ririn itu calonnya mas fadhly 😀

    Ya, kang.. ini kisah nyata…. ririn itu seorang gadis SMA yang kost di dekat kost saya, sama sekali saya belum terpikirkan untuk menjadikan dia ‘calonnya’ saya… wkwkwkwk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s