[Edisi Renungan] Bapak yang Tidur Meringkuk

Tidak seperti biasanya, malam ini saya masih terjaga hingga pukul tiga dinihari. Apalagi kalau bukan karena belajar untuk ujian semester yang telah datang di depan mata. Di saat pasang mata yang lain terlelap tidur, saya masih membuka-buka lembaran demi lembaran materi kuliah yang sedikit-sedikit mulai saya pahami. Oh tidak, dari dulu saya tidak kunjung bisa merubah perilaku saya sebagai seorang deadliner yang berusaha di saat-saat terakhirnya. Di tengah malam saya melangkahkan kaki ke luar niat hati mencari sesuatu yang dapar menyegarkan pikiran saya.

Ada yang mengusik pandangan saya ketika  melihat  becak-becak itu terbaris rapi di pinggir trotoar. Tidak hanya itu, di atas becak terbujur seorang lelaki paruh baya yang nyenyak dalam tidurnya. Ya, bapak  itu sungguh menikmati tidurnya di atas jok becaknya dengan posisi tidur yang  -semestinya- tidak terlalu nyaman baginya. Bapak itu tidur meringkuk. Bukan karena apa-apa, karena hanya becaknya sajalah yang -mungkin- dia miliki.

Saya menjadi berpikir. Betapa saya setiap hari tidur nyenyak di atas ranjang yang empuk dengan posisi tidur sekehendak hati saya. Berjam-jam, bahkan seharian penuh. Sedangkan penarik becak itu? Yang  menjadi tempatnya tidur hanya jok becaknya seukuran 50 x 75 cm bersusun yang memaksanya meringkuk di malam hari setiap malam. Tak hanya itu, ia harus terbangun di pagi buta untuk melanjutkan tanggung jawabnya mencari bulir-bulir rizki yang kiranya akan ALLAH berikan padanya. Sedangkan saya ? Seakan tak ada tanggung  jawab berarti yang dipikulkan di atas pundak saya saat berganti hari. Paling tidak belum.

Itulah, betapa sepatutnya saya bersyukur dengan apa yang saya peroleh berupa kenikmatan hidup. Betapa saya bersyukur karena tak perlu tidur di tengah udara dingin tengah malam. Betapa saya bersyukur karena  tak perlu tidur meringkuk di atas tempat yang sempit beralaskan sarung kumal. Betapa hidup saya tak seberat bapak itu. Ah, terlalu sering saya menengadah ke atas. Melihat kenikmatan-kenikmatan yang orang lain rasakan hingga saya seringkali lupa akan kondisi orang-orang yang tidak seberuntung saya.Betapa dunia yang hijau itu melalaikan saya untuk selalu bersyukur.

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan ?

7 thoughts on “[Edisi Renungan] Bapak yang Tidur Meringkuk

  1. Wah… iya juga yah…
    Mereka rela berdingin-dingin di malam hari demi menunggu penumpang yang juga tak pasti datangnya.

    Tetapi yang kasihan mereka juga banyak yang lupa ibadah…

    lebih kasihan lagi.. kalau mereka udah ngumpul, biasanya hiburannya adalah judi…

  2. Benar, sungguh banyak nikmat yang telah diberikan Allah pada kita. Tapi, entah kenapa masih banyak yang mendustakan nikmat Allah itu… 😦

  3. tulisan kak fadli bener2 nusuk.
    rasanya aku jadi kerdil. telalu banyak ngeluh. astaghfirullah.

  4. hmm, jadi berkaca pada diri sendiri..
    kadang bersyukurnya cuma kalo “setelah dapet apa-apa”
    tapi, gak sadar. makanya emg harus me-reminder diri sendiri.
    makasih mas,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s