Dua Puluh Satu : Sebuah Refleksi

Hari ini, 24 Juli 2010. Sehari setelah saya genap berusia 21 tahun. Waah, saya sudah tua, saya sudah melewatkan masa-masa remaja yang dulu saya alami juga. Kalau masalah dewasa atau tidak, itu relatif. Semoga saja semakin bertambah usia, kedewasaan itu tumbuh juga. Ngomong-ngomong, apa yang bisa saya maknai dari usia yang tak muda lagi ini? Jawabnya ya banyak sekali.

Bertambah usia, saya maknai  dengan bersyukur.Ya, bersyukur atas apa yang telah ALLAH beri pada seluruh kehidupan saya selama ini berupa nikmat keimanan padaNya, dan nampaknya tak ada lah apa-apa yang saya lakukan, bahkan kedipan matapun, kecuali itu adalah nikmat dari ALLAH. Bicara tentang syukur, apa cuma mengucap syukur, alhamdulillaah, terus selesai? Nampaknya nggak dehh. Yang saya pahami sih, kalo kita bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan selama ini, dalam hal ini, segala yang saya dapatkan 21 tahun belakangan ini, gak cukup hanya dengan ucapan, namun juga dibuktikan dengan perbuatan. Perbuatan macam apa yang bisa nunjukin kalau kita bersyukur ?

Ya, karena saya bersyukurnya sama ALLAH yang udah ngasih saya segala nikmat selama ini, konsekuensinya adalah saya harus menjadi hambaNya yang lebih baik lagi. Dan tidak ada jalan lain selain menjadi lebih bertakwa, bukan? kan ALLAH udah bilang, kalau sebaik-baik hambaNya itu ya yang paling bertakwa. Hehe. Tapi nyatanya gimana nih, fad? Apa ente udah bertakwa? Hmm, seringkali saya merenungi diri saya sendiri, betapa masih kurang sana-sini. Paling tidak, saya berusaha semampu (baca:semaksimal) yang saya bisa. Kalo kata rasul : “Bertakwalah dengan apa yang kalian mampu”. Ya, semoga saja saya selalu diberi kenikmatan agar bisa istiqomah dalam ketaqwaan.  Itu aja sih definisi saya tentang syukur. Simple but meaningfull, saya pikir. hehehe.

Sebenernya ada satu lagi, yakni dengan bertambahnya usia saya, ya artinya jatah hidup saya berkurang… izzzz apaan nih? Ya, saya sudah semakin dekat dengan kematian. Kebanyakan kita sih pasti ngebayangin bisa hidup sampe umur 90 tahunan, baru kemudian meninggalkan dunia ini. Ya kan? ngaku aja dehh lha wong saya juga ya kok. Seakan hidup ini masih panjang, masih ada 70 tahun lagi kita hidup, dalam bayangan kita. Nyatanya, kita gak tahu bakal meninggalkan dunia ini kapan, entah beberapa menit lagi, satu jam lagi, besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan.

Ya, kita selalu diintai oleh kematian, karena kita nggak tahu kapan kematian itu akan datang. Jadi, alih-alih  berpesta-pora merayakan penambahan usia saya yang semakin tua saja, mungkin akan lebih bijak kalau saya merenung, introspeksi diri pada apa-apa yang sudah saya lakukan, apakah sudah baik apa belum, apakah amalan saya sudah baik ataujustru sebaliknya, dan yang paling penting, apakah saya tengah dan telah berusaha mempersiapkan kematian?

Memang benar, kenikmatan yang selalu diabaiakan manusia itu berupa kesehatan dan waktu luang. Sekarang pertanyaannya, apa yang telah saya habiskan dengan segala kesehatan yang telah ALLAH beri?  Untuk apa saya habiskan waktu 21 tahun itu? Adakah ia didominasi oleh kebaikan atau justru sebaliknya? Nampaknya kita memang harus selalu bersiap. Bersiap menghadapi kematian yang akan datang kapan saja, hanya ALLAH, Tuhan kita , sajalah yang tahu. Bertambah umur berarti berkurangnya waktu hidup dan semakin dekatnya ajal menjemput. Dus, bukan tentang “kapan saya mati?”, tapi  “apa bekal saya untuk mati?”. Titik.

Iklan

9 pemikiran pada “Dua Puluh Satu : Sebuah Refleksi

  1. — nilai usia kita tidak ditentukan oleh banyaknya umur, tetapi oleh seberapa besar nilai kebaikan yang kita kerjakan dalam rentang usia itu —

    betul… makanya mari ubah definisi bertambahnya usia kita dengan berintrospeksi tentang apa-apa yang telah kita capai…. alih-alih bereuforia… hehehe… makasih mas…

  2. selamat bertambah umur kawan, semoga umurnya panjang dan berkah serta bisa terus menjadi teladan untuk orang-orang disekitar.

    salam 🙂

  3. met milad..semoga diberi umur panjang,sehat wal’afiat serta keridhoan menyertai anda agar apa yang anda inginkan tercapai..

    salam adem ayem

  4. Ruar biasa,
    Baru 21 dah mulai terjaga,
    Terjaga dari mati kecewa.

    Ya,
    Lahir kita adalah alamiah,
    Mati kita kudulah rohaniah,
    Kan?

    Salam Damai!

    biasa saja kok mas.. 😀 ya, semoga saja kita selalu bisa menjaga, menajga diri dari dosa pada Illahi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s