[Edisi Lebaran] Ternyata Selama Ini Kita Salah Memaknai ‘Iedul Fithri!

Dalam kesemarakan dan kesyahduan Idul Fitri banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui maknanya, dan yang selainnya ternyata justru mengetahuinya dengan pengetahuan yang salah. Sebagai amanat ilmiah untuk menempatkan pemahaman yang penting ini pada tempatnya, meluruskan kesalah-kaprahan yang turun-temurun dan dalam rangka menasihati kaum muslimin maka kami susun tulisan ini.

  1. I. Definisi Idul Fitri
  2. a. Tinjauan Bahasa Arab (Etimologis)

Idul Fitri (transliterasi yang lebih tepat sebenarnya ‘Îdul Fithri, dan karenanya, itulah yang akan digunakan selanjutnya dalam tulisan ini, -ed.) adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata, ‘Îd dan Al-Fithru. Lafazh ‘Îd berasal dari kata âda ya‘ûdu yang artinya ‘kembali’ atau ‘seakan-akan mereka kembali kepadanya.’ Dan ada yang mengatakan bahwa pecahan katanya dari al-‘âdah, yang artinya ‘karena mereka membiasakannya.’ Bentuk jamaknya, a’yâd. Dikatakan, ‘ayyâdal muslimûn, artinya, “Mereka menghadiri hari raya mereka.” Sedangkan Al-Fithru artinya ‘berbuka dari puasa’ (Lihat: Al-Mu’jamul Wasîth).

Ibnul A’rabî mengatakan, “Hari raya dinamakan ‘îd karena kegiatan itu kembali datang pada tiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru.” (Lisânul ‘Arab: 3/319).

Ibnu ‘Âbidîn juga mengatakan, “Hari raya dinamakan ‘îd karena pada hari itu Allah memiliki beragam kebaikan yang kembali pada hamba-hamba-Nya pada tiap harinya, seperti berbuka (makan) setelah sebelumnya terlarang, shadaqatul fitri, menyempurnakan ibadah haji dengan thawaf, daging sembelihan dan yang lainnya. Karena kebiasaan yang ada di dalamnya terdapat keceriaan, kegembiraan dan semangat.” (Hasyiyah Ibnu ‘Âbidîn: 2/165. Lihat: Ahkâmul ‘Îdain: 7).

Jadi ‘Îdul Fithri adalah hari berbuka dari puasa.

  1. b. Tinjauan Dalil Naqli

Sabda Rasûlullâh r, “Ash-Shaum adalah hari kalian berpuasa; dan ‘Îdul Fithri adalah hari kalian berbuka; dan ‘Îdul Adhhâ adalah hari kalian berkurban.” (H.R. At-Tirmidzî, Abû Dâwûd dan Ibnu Mâjah dari Abû Hurairah t). Dan dalam hadits yang lain, Rasûlullâh r bersabda, “‘Îdul Fithri adalah hari manusia berbuka; dan ‘Îdul Adhhâ adalah hari manusia berkurban.” (H.R. At-Tirmidzî dari ‘Âisyah z).

Dan ‘Umar bin Al-Khaththâb t menyatakan dalam khutbahnya, “Inilah dua hari raya yang Rasûlullâh r melarang dari berpuasa. ‘Îdul Fithri adalah hari raya berbuka kalian setelah berpuasa. Dan hari raya kedua (‘Îdul Adhhâ) adalah hari raya di mana kalian memakan daging hewan kurban kalian.” (Muttafaqun ‘alaihi).

  1. c. Tinjauan Realita

Anas bin Mâlik t mengatakan, “Dahulu Rasûlullâh r tidaklah berangkat (untuk Shalat ‘Îd) pada hari ‘Îdul Fithri hingga makan beberapa kurma.” (H.R. Al-Bukhârî).

Ini menunjukkan bahwa Rasûlullâh mengawali pagi Hari Raya ‘Îdul Fithri dengan berbuka dan ini menjadi sunnahnya ‘Îdul Fithri sesuai dengan namanya. Bahkan sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin pada hari raya ini untuk makan seenak-enaknya, dan mengadakan makanan yang jarang ada selain pada hari raya ini.

  1. II. Hubungan antara ‘Îdul Fithri dan Zakâtul Fithri

Antara ‘Îdul Fithri dan Zakâtul Fithri mempunyai hubungan yang sangat erat sekali. Di antaranya, keduanya disyariatkan berkaitan dengan puasa Ramadhan dan disyariatkan seusai puasa tersebut. Bahkan hikmah diwajibkannya Zakâtul Fithri adalah untuk membantu agar orang-orang miskin dapat makan pada hari raya berbuka dari puasa. Sebagaimana dikatakan oleh Rasûlullâh r dalam suatu hadits. Dari Ibnu ‘Abbâs C ia berkata, “Rasûlullâh r mewajibkan Zakâtul Fithri sebagai pensucian dari orang-orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan omongan kotor. Juga sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin.” (H.R. Ibnu Mâjah dan Abû Dâwûd).

Dalam hal ini Rasûlullâh memberi nama Zakâtul Fithri dengan ‘zakat berbuka puasa’. Di antara hikmahnya, bagi si pelaku merupakan pensuci dari kotoran mental dan hikmah sosialnya adalah memberi makan kepada orang-orang miskin untuk bisa berbuka pada Hari Raya ‘Îdul Fithri.

III. Meluruskan Arti-Makna yang Keliru tentang ‘Îdul Fithri

Hari Raya ‘Îdul Fithri dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin, baik dai, mubaligh, kyai, ustadz, dan para penceramahnya—apalagi orang awamnya—sebagai ‘hari kembali suci’, ada juga yang memahaminya sebagai ‘hari kemenangan’. Ini merupakan suatu pemahaman yang keliru. Pemahaman orang terhadap ‘Îdul Fithri sebagai hari kemenangan tidak perlu dibantah karena tidak mempunyai sandaran dan dasar sama sekali, hanya latah dan terbawa semangat semata.

Adapun yang mengatakan Hari Raya ‘Îdul Fithri sebagai hari suci karena menganggap orang yang telah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan berarti telah kembali suci sebagaimana bayi dilahirkan. Lafazh ‘fithrî’ disamakan dengan lafazh ‘fithrah’ pada hadits,

«كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

“Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Pemahaman ini, yakni ‘Îdul Fithri berarti hari kembali suci, dapat dibantah dari beberapa sisi,

  1. a. Sisi Bahasa

Dalam kaidah bahasa Arab, sungguh tidak tepat menyamakan arti lafazh fithri dengan lafazh fithrah. Fithri (tanpa ta’ marbuthah) berarti ‘berbuka’ dan ini bahkan sudah menjadi istilah umum para ahli fiqih, sedangkan fithrah (dengan ta’ marbuthah) berarti ‘pembawaan asli’.

Jadi tidak benar arti fithri berarti suci. Hal ini sangat mencolok salahnya ketika kita melihat kalimat ‘zakâtul fithri’. Zakat sendiri secara bahasa berarti ‘pensucian’, sedangkan kalau fithri di sini diartikan suci juga maka maknanya menjadi sangat janggal dan ganjil. Bagaimana mungkin kata majemuk berasal dari dua kata yang mempunyai makna sama?!

  1. b. Sisi Dalil Naqli

Dari sisi ini mereka yang mengartikan ‘Îdul Fithri sebagai ‘hari kembali suci’ tidak mempunyai dalil. Kalau memang ada, coba datangkan dan itu sebagai ilmu baru bagi penulis. Bahkan dalil-dalil yang ada malahan menguatkan paparan kami di sini.

  1. c. Sisi Realita dan Logika

Realita saat ini menggambarkan bahwa banyak kaum muslimin yang tidak patuh kepada ajaran agamanya. Di siang hari bulan Ramadhan kita lihat banyak muslim, dalam keadaan tidak sakit, juga tidak sedang bepergian dengan seenaknya makan dan minum secara terang-terangan seolah-olah tanpa beban dosa dan tanpa takut adzab. Tetapi saat ‘Îdul Fithri tiba, mereka paling semangat mudik, paling giat membikin kue dan ketupat, paling keras bertakbir, dan begitu menikmati ‘Îdul Fithri. Apakah yang demikian bisa disebut kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan?

Di antara mereka juga ada yang berpuasa tanpa batal sehari pun, namun puasanya tidak menghalangi dia untuk berbuat kemungkaran, puasanya tidak mencegah mulutnya untuk dusta. Apakah di saat ‘Îdul Fithri orang tersebut bisa dikatakan kembali suci seperti bayi baru dilahirkan?! Padahal Rasûlullâh r telah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta/batil dan perbuatan dusta/batil, maka Allah tidak butuh padanya dalam meninggalkan makan dan minum.” (H.R. Al-Bukhârî dari Abû Hurairah t).

Dan dalam hadits yang lain Rasûlullâh r bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan betapa banyak orang yang beribadah malam hari tidak mendapatkan dari ibadah malam harinya kecuali begadangnya.” (H.R. Ibnu Mâjah dan Ahmad dari Abû Hurairah t. Al-Albânî mengatakan dalam Shahîh Ibnu Mâjah, “Hasan shahîh”). Siapakah dari kaum muslimin yang mampu berpuasa begitu mendalamnya, hingga puasanya bukan hanya untuk berlapar dan berhaus ria. Ditambah lagi banyak/kebanyakan kaum muslimin masih berkubang dengan kesyirikan dalam berbagai bentuknya. Bahkan di awal bulan Syawal banyak digelar seremonial kelas teri sampai kolosal yang pasti tidak lepas dari kesyirikan. Hal ini terutama di daerah pesisir pantai. Sungguh dosa ini dapat menyebabkan seseorang kekal dalam neraka dan dosanya tidak akan diampuni apabila ia tidak bertaubat sebelum ajal menjemputnya.

Ditambah lagi banyaknya amalan ibadah kaum muslimin di bulan Ramdhan ini yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Rasûlullâh r dan tentunya yang demikian pasti tertolak. Bahkan di awal bulan Syawal, pada perayaan ‘Îdul Fithri itu sendiri banyak/kebanyakan kaum muslimin terjerumus dalam berbagai praktek kekeliruan dan dosa, campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahrâm-nya dalam satu tempat, bersalaman-bersentuhannya lelaki dan perempuan dengan lawan jenisnya yang tidak halal. Juga kita saksikan pemborosan dan jiwa materialisme yang sangat berlebihan.

Ditambah lagi banyaknya kaum muslimin yang berdosa kepada Allah dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak manusia, yang tidak terampuni hanya sekadar dengan berpuasa dan meminta maaf, namun harus diselesaikan dengan mengembalikan hak-hak yang diambil dari orang lain. Jika demikian, apakah pantas kita namakan ‘Îdul Fithri dengan hari kembali suci?! Sungguh sangat jauh sekali.

IV. Dampak dari Kesalahpahaman terhadap Arti dan Makna ‘Îdul Fithri

Semakin meluas dan turun-temurunnya pemahaman yang salah ini dalam masyarakat menunjukkan kadar kebodohan para dai, kyai, ustadz, dan mubaligh dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam. Karena bagaimanapun juga pemahaman masyarakat tidak lepas dari peran dan pengaruh mereka. Ini sesuai dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasûlullâh r jauh-jauh hari sebelum terjadinya. Beliau r bersabda dalam suatu hadits,

«إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعَلْمَ بِقَبْضِ الْعِلَمَاءِ حَتىَّ إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُو فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

Dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Âsh C, ia berkata, “Saya mendengar Rasûlullâh r bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu (agama) dengan sekaligus dari dada hamba-hambanya, akan tetapi Dia mengangkat ilmu itu dengan mewafatkan para ulama. Sampai apabila tidak tersisa satu orang ulama pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka ditanya dan mereka pun memberi fatwa dengan tanpa ilmu, maka meraka itu sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pemahaman yang salah kaprah ini ternyata meninggalkan pengaruh yang sangat buruk terhadap banyak dari muslimin dalam menyikapi dan meyakini hari raya. Dengan pemahaman yang salah ini mereka merasa sudah suci dengan mengalami Hari Raya ‘Îdul Fithri, seolah tanpa dosa laksana bayi yang baru dilahirkan. Hingga mereka kurang dalam beribadah (yang sebelumnya juga kurang dan belum tentu benar) dan merasa sebagai orang yang telah mendapatkan sesuatu yang luar biasa, padahal bukan tidak mungkin mereka masih berlumur dengan kesyirikan, kebid‘ahan, dan dosa, baik yang diketahui maupun tidak. Wallâhu a’lam.

Iklan

Satu pemikiran pada “[Edisi Lebaran] Ternyata Selama Ini Kita Salah Memaknai ‘Iedul Fithri!

  1. “Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Taqabbalallahu yaa kariim”

    triiz a.k.a Catatan SederhaNa mengucapkan

    Selamat Idul Fitri 1431H, Mohon Maaf Lahir Batin

    maaf jika selama perjalanan blog ini goresan Catatan SederhaNa pernah melukai hati para sahabat sekalian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s