[Edisi Opini] Menciptakan Dokter-dokter Sosial

Tadi sore saya diajak teman saya untuk ikutan diskusi di Fakultas Kedokteran (FK) UGM. Membahas tentang “Mengenang Prof. Sardjito”. Diadakan  oleh BEM FK UGM. Bagi saya menarik, jarang-jarang mahasiswa kedokteran bikin diskusi. Okelah. Kata teman saya, diskusi ini bertujuan untuk menanamkan kembali pemikiran-pemikiran Prof. Sardjito pada para mahasiswa kedokteran. FYI, Prof. Sardjito itu rektor pertama UGM dan pendiri RS Prof. dr. Sardjito Yogyakarta.

Sebenarnya, saya juga kurang tahu apa saja pemikiran Prof. Sardjito yang banyak dikagumi orang itu. Setelah saya cari tahu, oh ternyata semangat kesederhanaan, ulet dalam keterbatasan, dan nilai-nilai sosialnya yang begitu tinggi. Jadi, kalau dihubungkan dengan realita mahasiswa kedokteran sekarang, diskusi sore tadi bertujuan untuk menciptakan para dokter yang humanis, yang peka terhadap masyarakat sosialnya.

Mengapa diskusi ini penting? Lihat saja realita yang bisa Anda lihat sekarang. Mahasiswa kedokteran kebanyakan berasal dari keluarga yang sangat mampu secara ekonomi, sehingga kebanyakan tidak pernah merasakan keterbatasan dalam hal fasilitas. Mendaftar ke FK dengan uang pangkal ratusan juta rupiah tak menjadi masalah, kuliah bermobil mewah, Blackberry di tangan. Wis lah, semuanya serba ada.  Bandingkan dengan kondis dahulu, Prof. Sardjito, yang merupakan lulusan terbaik STOVIA (Sekolah Dokter Jawa Jaman Belanda),  seperti disebutkan dalam beberapa referensi yanga ada, membuka prakteknya di kandang kuda yang kemudian saat ini telah berdiri megah Rumah Sakit Prof. dr. Sardjito, dan mengajar kuliah di dekat kandang ayam. Dan dengan kondisi yang serba terbatas, mampu menciptakan dokter-dokter yang handal, yang mengabdi bagi masyarakat dan menjadi teladan dan acuan masyarakat.

Kalau kita kembali menilik keadaan mahasiswa kedokteran sekarang, dengan fasilitas yang serba wah, agaknya  berkebalikan dengan dahulu. Jika kita membaca salah satu artikel di KOMPAS edisi 25 September 2010 lalu, terdapat sebuah kutipan wawancara yang menggelitik. Di sana disebutkan tentang seorang mahasiswa FK UGM jalur Internasional bernama Handri yang berkomentar “Sejak kelas 2 sekolah dasar, saya sudah tinggal di Qatar. Belum bisa membayangkan bagaimana nanti melayani orang miskin,”. Bagi saya ini menarik karena peran dokter yang sangat sentral dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Saya berpikir, bagaimana seandainya semua mahasiswa kedokteran berpikiran sama seperti Handri, pastilah layanan kesehatan hanya bisa diakses oleh masyarakat yang kaya raya saja.

Orientasinya hanya melayani pasien yang benar-benar mampu untuk dilayani, yang tidak mampu, maka mati saja. Kalau Anda menonton Kick Andy beberapa minggu yang lalu, ditayangkan realita-realita tentang pasien-pasien yang menjadi korban “kekejaman” Rumah Sakit. Karena biaya, kemudian tidak bsia dirawat, dan akhirnya mereka harus kehilangan anggota keluarga yang mereka cintai.

Semuanya memang sistematis. Pendidikan di fakultas kedokteran misalnya. Sistem blok membuat mahasiswa hanya sibuk dengan kuliah, tutorial, dan praktikum di laboratorium. Dan semuanya sangat menyita waktu. Kuliah dari pagi hingga malam, malam mengerjakan laporan praktikum hingga pagi. Nyaris tak ada waktu untuk selain kuliah.

Kalau saya melihat pun, hampir tidak ada mahasiswa kedokteran yang tergabung di unit kegiatan mahasiswa di kampus. Paling tidak ini menunjukkan sebuah gejala bahwa waktu mereka telah tersita untuk kulah, dan tidak bisa diganggu dengan yang lainnya. Ditambah kehidupannya yang jauh dari kata kekurangan, akhirnya, muncullah dokter-dokter yang hanya mampu menjadi praktisi-praktisi kesehatan semata. Dokter hanya menjalani profesinya untuk mengobati orang secara medis saja, bukan lagi secara sosial. Kalau Anda miskin, ya itu berarti Anda tidak bisa berobat dan dokter tidak mau tahu keadaan Anda. Akibatnya, banyak orang-orang miskin yang mati dengan penyakit kronisnya tanpa tersentuh perawatan medis yang seharusnya.

Banyak aspek sepertinya yang membuat fenomena-fenomena seperti ini terjadi. Mulai dari sistem pendidikan di kedokteran yang menuntut mahasiswa hanya konsentrasi pada studinya. Yang terbayang hanya lulus cepat, lanjut spesialis, praktek dengan bayaran tinggi. Selain itu, karakter mahasiswa kedokteran yang didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi sangat mampu membuat mereka tidak terbiasa menghadapi fenomena sosial di masyarakat yang beragam. Tidak biasa menghadapi keterbatasan, biasa hidup di kota dengan segala fasilitas lengkapnya, membuatnya tidak lagi memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.

Jujur, sore tadi saya dan teman saya merasa minder dengan suasana yang ada di lingkungan FK UGM. Barisan mobil terparkir rapi, gedung kuliah tinggi menjulang, bersih dan asri, mahasiswa yang tampil necis dengan gadget keluaran terbaru secara langsung dapat menggambarkan “kampus ini kampusnya orang kaya”.  Sama sekali tidak akan ditemui gurat-gurat keterbatasan, apalagi kemiskinan dalam hidupnya, semuanya terfasilitasi dengan baik, sangat baik.

Keadaan yang berjalan secara sistematis inilah yang dikhawatirkan akan mencetak generasi-generasi dokter yang tidak peka sosial, tidak memiliki tanggung jawab sosial, dan menjalani profesinya dengan orientasi komersiil. Sebenarnya saya bertanya-tanya, apa para dokter itu mau mengobati pasien-pasien miskin secara gratis dan peka terhadap kondisi masyarakat yang seringkai terbentur dengan keterbatasan? Agaknya, dengan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang terbatas, perlu diciptakan dokter-dokter yang peka sosial, yang tak hanya melayani, tapi juga mengabdi bagi masyarakat.

Menjadi dokter itu baik. Menjadi pedagang pun baik. Tapi menjadi dokter yang berdagang itu tidak baik.

7 thoughts on “[Edisi Opini] Menciptakan Dokter-dokter Sosial

  1. Bismillah,
    rumah sakit dan dokter telah merubah definisi “miskin”. Dahulu ketika rumah sakit dan jasa dokter bukan barang yang mahal, maka seseorang jika mati di rumahnya sendiri gak ada masalah… tapi sekarang kalau seseorang sakit dan mati di rumahnya tanpa dibawa ke rumah sakit..ini termasuk MISKIN …rupanya definisi ‘miskin’ telah bergeser karena sistem (baca : kapitalisme) yang dibuat oleh manusia itu sendiri

  2. Hmm… terkesan memojokkan. Kesalahan bukan pada pasien miskin. Tapi pemerintah yang minim subsidi. Lihatlah pangkal masalah dari segala arah, jangan cuma dari satu sudut pandang. Semoga bisa menjadi lebih dewasa dan lebih bijak. Salam…

  3. Menurut pengalaman, kalau ada pasien datang ke sebuah RS, butuh keadaannya gawat, teman sejawat, dokter dan paramedis disana tidak jarang keluar uang untuk membelikan obat karena rumah sakit sudah tidak bisa (bukan tidak mau) ngutang lagi, ini terjadi karena hutang RS sangat tinggi, sedangkan subsidi pemerintah sangat minim.

  4. sering-sering maen ke fakultas kedokteran, tapi jangan sering bertemu dokter di ruang periksa, artinya itu tanda fadly ndak sehat..

    bila perlu sekalian cari istri di sana ya mas.. hehehe…

  5. sangat sepakat dengan opini anda. bukan tak mau menerima kalimat demi kalimat yang menyudutkan kami mahasiswa yang kelak -Insyaa Allaah- menjd dokter saat tak menindaki orang yg butuh pertolongan.
    saat semua dlm keterbatasan, uluran tangan kadang dianggap tak berguna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s