[Edisi Renungan] Memahami Arti Merapi

Sabtu pagi yang lalu (30/10) semua orang pada heboh. Gimana nggak, jalanan di jogja diselimuti debu vulkanik hasil hujan abu dini harinya. Apotek langsung diserbu orang-orang yang pada mau beli masker. Itu yang kedua kalinya Merapi beraktivitas sangat agresif sejak selasa (26/10) lalu. Dan sekarang walaupun udah gak hujan abu lagi, efeknya masih terasa. Tadi pagi aja jam 10.10 juga Merapi melepaskan wedhus gembelnya lagi.

Kemaren sabtu saya bener-bener merasa tersiksa. Gak cuma saya sih sebenernya, orang-orang juga, pada sesek napas lah, bersin-bersin lah, alergi debu lah. Ya, alergi debu. Penyakit yang baru beberapa bulan ini saya sadari hinggap dalam tubuh saya. Kontan, sabtu kemaren adalah hari di mana saya bersin-bersin sepanjang hari. Selesai ujian tengah semester, saya langsung capcus pulang ke rumah karena kepala pusing dan hidung bersin-bersin gak keruan.

Baru kali ini saya merasakan dampak langsung bencana alam. Sebelumnya, saya gak pernah ngerasain banjir sampe bermeter-meter, gempa bumi pun masih wajar-wajar aja gak sampe ketimpa bangunan. 😀 . Sebenernya apa yang saya rasakan itu belum seberapa dibanding apa yang saudara-saudara saya di dekat Merapi sana alami. Kalo cuman bersin-bersin mah enteng, lah mereka, ada yang harus ngungsi, ada yang sapinya mati, sanak saudaranya meninggal diterjang wedhus gembel. Itulah yang kemudian membuat saya sedikit bersyukur dan gak mengeluh-mengeluh amat dengan alergi debu yang saya rasakan selama dua hari ini. Hehe.

Selain bersyukur, saya juga berpikir loh. Kok begitu dahsyatnya musibah yang menimpa akhir-akhir ini.  Bener-bener bikin kalang kabut semua orang. Mulai dari banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, dan akhirnya merapi di Jogja dan sekitarnya. Terlepas dari penjealasan secara sains bahwa Indonesia adalah jalur gunung berapi yang paling aktif sedunia, atau berada di atas lempengan tektonik yang labil yang menyebabkan gunug meletus gak ada abisnya, begitu juga gempa bumi.

Yang saya pahami, musibah yang datang dari ALLAH itu bisa bermakna banyak. Minimalnya tiga hal. Ujian, peringatan, atau adzab. Ujian bagi keimanan seseorang, peringatan bagi orang-orang yang selama ini masih terlalaikan, dan adzab bagi orang-orang yang mendustakan perintah-perintah ALLAH.

ALLAH kan udah bilang di surat Al Baqarah, Walanab luwannakum bi syai’in minal khoufi wal juu’i wa naqshim minal amwaali watstsmarooti wa basysyirisshoobiriin. Dan sungguh kami akan uji kalian dengan ujian berupa rasa takut, lapar, kekurangan harta, dan rusaknya hasil pertanian, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Artinya, semua yang menimpa kita, itu udah ditentuin sama ALLAH. Udah ditulis di buku taqdir sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan gak akan berubah.Yang mesti digede-gedein itu rasa sabar kita biar bisa tahan ngadepin semuanya.

Yang sekarang kudu dipikirin itu ya musibah yang menimpa kita berupa abu merapi itu termasuk yang mana. Ujian, peringatan, atau justru adzab? Kalo ujian, berarti memang kita kudu sabar, karena konsekuensinya orang beriman tuh memang harus selalu diuji agar bisa naik derajatnya di hadapan ALLAH. Ibarat orang belajar di sekolah, kalo mau naik kelas ya kudu ngelewatin ujian semester dulu. Masa iya mau naik kelas tanpa tes? namanya nyogok itu mah. :D. Kaya yang udah disebutin di dalam Al Qur’an juga, akhasibannaasu ayyutrokuu ay yaquulu aamannaa wahum laa yuftanuun? Apakah manusia mengira akan ditinggalkan saat mengatakan ‘Aku beriman’ namun mereka tidak diberi cobaan?. Jadi, sebagai orang yang beriman, insya ALLAH, kita mesti sabar ngadepin konsekuensi ini. Hidup itu penuh konsekuensi, bung. Baik yang bikin kita seneng maupun yang bikin puyeng.

Lain lagi kalo misalnya musibah abu merapi yang menghujani jogja -oh ya, FYI, hujan abu sekarang udah nyampe Solo dan sekitarnya- itu sebagai peringatan, berarti kita selama ini lalai dari perintah-perintah ALLAH. Ibadahnya kurang rajin, makanya ALLAH negur. Makanya buruan yuk kita jadi orang yang memperbaiki kondisi agama kita. Kudu lebih alim lagi. Jangan sampe peringatan itu diabaikan, karena akan mendatangkan peringatan-peringatan berikutnya. Mohon ampun juga kayaknya perlu.

Dan yang terakhir, makna musibah yang paling menyeramkan adalah yang bermakna adzab. Karena penduduk suatu daerah itu terlalu banyak bermaksiat kepada ALLAH, makanya ALLAH kasih adzab, sebagai balasan. Dalam kasusnya Merapi, terlihat jelas, secara berkala ada yang namanya upacara labuhan sesajen buat Kyai Sapu Jagat yang dianggap menghuni Merapi dan iblis-iblis yang kata orang-orang ‘merajai’ Merapi. Astaghfirullah, yang beginian nih yang kudu diberantas. Pantes aja ALLAH marah, lha wong Dia dipersekutukan dengan syaithan.

Ibaratnya orang berbuat syirik itu  analoginya mirip majikan dan pembantu. Jika anda punya pembantu, yang semua biaya hidupnya anda tanggung, anda beri makan, anda kasih hadiah, anda ksih gaji bulanan yang diatas UMR, tapi kemudian pembantu Anda itu nggak melayani Anda, justru melayani tetangga Anda, pasti Anda marah kan? Itulah, kita udah dikasih rejeki dari masa saja, bahkan semua hidup kita ini adalah rejeki dari ALLAH, lantas jika kemudian kita menyekutukan ALLAH dengan yang selainNya, contohnya si Kyai Sapu Jagat iblis Merapi (saya kok aneh, kenapa namanya gak Mak Lampir aja yang jelas-jelas udah ada sinetronnya dulu di Indosiar), jangan salahkan ibu mengandung jika ALLAH mendatangkan adzabNya.

Makanya kita kudu banyak merenung, jangan-jangan kita baik secara tidak langsung maupun tidak, ikut terlibat dalam perilaku-perilaku syirik yang ada dibiasanya diadakan di kawasan Merapi. Kudu introspeksi. Buruan deh yuk kita mohon ampun sama ALLAH, beruntung juga kita gak jadi korban yang meninggal kaya Mbah Maridjan -Semoga ALLAH mengampuni Mbah Maridjan- atau korban lainnya. Selagi masih ada kesempatan untuk memohon ampun dan berbuat baik, pasti ALLAh akan kasih ampunannya. Ingat kata Rosul, Wattabi’ sayyi’atal khasanata tamkhuuhaa. Dan perturutkanlah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik. Niscaya perbuatan buruk yang pernah kita lakukan akan segera diahpuskan dosanya.

Ternyata ada hikmahnya  juga musibah itu datang pada kita, bikin ada kesempaan buat merenung, terlepas dari segala kesusahan yang kita alami. ALLAh masih kasih kita kesempatan untuk kembali, memohon ampun atas segala yang kita alami dari musibah Merapi. Sekarang kita cuma bisa berusaha semampu kita, agar semua korban bisa segera kita bantu, ditangani secara tanggap dan cepat oleh semua pihak, dan juga diberi kesabaran atas apa yang menimpanya. Semoga setelah musibah ini berlalu, ada ganti yang ALLAh turunkan, yang lebih baik, yang membuat kita menjadi hamba-hamba ALLAH yang bersyukur. Amiin.

Iklan

2 thoughts on “[Edisi Renungan] Memahami Arti Merapi

  1. bagus akh, jazakallahu khair…
    ana kagak bisa ngeblog jadi ana g copy..

    Wa anta jazakallaahu khayran…. semoga ermanfaat ya akhy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s