[Edisi Relawan] Setengah Jam di Boyolali

Malam ini (10/11), seperti biasanya saya kembali menyalurkan bantuan dari kawan-kawan saya yang menyumbangkan donasinya untuk para pengungsi Merapi. Kali ini tujuannya adalah Boyolali, tepatnya di dusun Candisari, desa Ngegek, kecamatan Ampel. Mengapa? Karena berdasarkan informasi yang saya dapat dari akun twitter jalinmerapi, pengungsi di sana tidak tersentuh bantuan. Definisinya macam-macam, ada yang kekurangan, atau bahkan sejak Jum’at yang lalu sama sekali tidak menerima bantuan apapun.

Saya berangkat bersama dua kawan saya dengan memakai mobil pinjaman. Dengan membawa logistik senilai satu juta rupiah berupa kebutuhan-kebutuhan yang sudah kami catat sebelumnya, kami bertolak dari Yogyakarta sekitar jam 22.00, dan tiba di tempat tujuan sekitar tengah malam. Medannya agak berat, karena jalanan yang menanjak ke arah pengunungan. Saya disambut oleh bapak-bapak yang sedang duduk di teras rumah kecil yang dijadikan posko. Tanpa basa-basi, saya pun langsung memberikan bantuan yang saya bawa dari Jogja, berupa sembako,bumbu dapur, susu bayi, dan alat-alat kebersihan lainnya. Setelah semua barang telah diturunkan dari mobil, saya dan kawan-kawan sempat mengobrol sejenak untuk mengetahui kondisi pengungsi di desa ini.

Di desa Ngegek ini, terdapat sekitar 2100 pengungsi yang dibagi-bagi menjadi beberapa titik. Umumnya mereka menghuni rumah-rumah warga karena tidak adanya barak pengungsian yang luas. Menurut keterangan bapak Siswanto (koordinator posko tersebut), hanya 200 orang yang mengungsi di balai desa setempat, sisanya hanya di rumah-rumah warga. Seperti hari-hari sebelumnya saat saya mendistribusikan logistik pengungsi, saya menanyakan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak bagi pengungsi agar kiranya saya tahu apa yang paling urgent yang mereka butuhkan.

Saya terhenyak saat pak Siswanto kemudian menunjukan persediaan logistik yang mereka miliki. Ya, saya lihat sendiri saat beliau menunjukkan sekantong beras yang hanya tersisa 2 liter, padahal jumlah pengungsi ada 400 orang yang dia tangani. Mie instan tinggal 2 dus, roti sobek 1 dus, alat-alat mandi sama sekali tidak ada, alat-alat kebersihan habis, dan pakaian pantas pakai hanya 1 dus. Mata saya pun berkaca-kaca mendengar penjelasan pak Siswanto yang menyebutkan sejak hari pertama Merapi beraktivitas begitu dahsyat, hanya ada dua mobil (termasuk mobil kami tadi malam) yang datang memberikan bantuan, selebihnya mereka bertahan dalam keterbatasan.

Betapa untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum pengungsi saja mereka tidak mampu. Dibandingkan dengan di Jogja , bantuan yang diberikan kepada pengungsi di sini jauh dari kata cukup. Malam tadi hanya ada 6 orang yang menjaga posko kecil itu. Jadi, kalau ditanya apa kebutuhan yang paling dibutukan oleh pengungsi di desa tersebut, maka tentunya semua kebutuhan logistik menjadi prioritas. Bisa Anda bayangkan, mau makan apa 400 orang pengungsi di pagi hari ini, saat beras yang tersedia hanya 2 liter saja? Dan sungguh-sungguh air mata saya hampir pecah saat mendengar ada seorang ibu yang melahirkan di pengungsian. Masya ALLAH.

Saya pun akhrinya menyesal, saat  malam tadi “hanya” membawa logistik senilai satu juta hasil pengumpulan hari ini. Seandainya saja hasil donasi hari ini cukup, tentu saya bisa membawa kebutuhan para pengungsi di desa Ngegek itu lebih banyak lagi. Saya hanya bisa terenyuh melihat kondisi mereka, bertahan dalam keterbatasan, bahkan ketiadaan. Saya tidak bisa membayangkan sekiranya saya yang mengungsi di desa itu.

Betapa selama ini kita kurang memperhatikan kondisi pengungsian di pelosok-pelosok wilayah seperti di Ngegek ini. Banyak faktor, memang, seperti susahnya akses kendaraan ke lokasi (terjal dan menanjak), minimnya SDM (relawan), tidak adanya koordinasi penanganan bantuan ) karena mayoritas adalah masyarakat pedesaan yang tidak terpelajar), dan  jauhnya jangkauan mereka ke sumber-sumber logistik yang berlebih di kota-kota macam Jogja.

Selama ini, bantuan mengalir deras ke kota Jogja hingga persediaan berlebih di banyak barak pengungsian macam Gelanggang mahasiswa UGM (1048 orang), stadion Maguwoharjo (21.000 orang), atau UPN Condongcatur (1200 orang). Posko-posko kecil di daerah pedalaman seperti di desa Ngegek kecamatan Ampel Boyolali ini agaknya “terlupakan” dari jangkauan para relawan dan suplai bantuan. Dengan keterbatasan dalam segala hal yang para pengungsi dapati, mungkin baiknya relawan-relawan yang menumpuk di satu tempat di pusat-pusat kota dan bantuan-bantuan yang dikoordinasi oleh masing-masing posko harus dipecah ke pengungsian-pengungsian di pedalaman.

Kalau pengungsian di kota berkutat pada kebutuhan sekunder macam alat-alat kebersihan, masker, kesehatan dan kebutuhan primer mereka macam makan dan minum sudah tercukupi dengan baik, maka para penguungsi di pelosok-pelosok ini masih berkutat dalam susahnya memenuhi kebutuhan primer mereka. Sungguh ironis saat pengungsian di pusat kota macam di Gelanggang UGM itu “menahan” persediaan logistik agar terpenuhi untuk tiga hari berikutnya, sedangkan pengungsi di Boyolali ini bahkan kebingungan memikirkan apa yang harus dimakan untuk satu kali sarapan pagi para pengungsi. Dan kondisi seperti ini tidak bsia dibiarkan dan didiamkan begitu saja. harus ada tindakan cepat yang harus dilakukan.

Maka dengan tulisan ini, saya kembali mengetuk hati Anda untuk segera meringankan penderitaan para pengungsi yang ada di wilayah pedalaman. Sangguh setiap kali saya melihat kondisi barak pengungsian setiap harinya, hampir-hampir saya kehilangan kemampuan untuk tertawa bahkan tersenyum karena melihat bayi-bayi yang menangis kelaparan dan orang-orang jompo yang melamun dengan tatapan kosong. Hati saya tergugah untuk bisa membantu  mereka semaksimal yang saya bisa, karena saat melihat mereka, saya membayangkan berada di posisi yang sama. harus meninggalkan rumah, kehilangan sanak saudara, hidup susah di pengungsian, dan nasib hidup mereka pascabencana selanjutnya yang masih buram. Agaknya bantuan yang diberikan adalah sebagai wujud rasa syukur kita karena masih bisa hidup berkecukupan tanpa kurang suatu apapun.

Butuh lebih dari doa untuk mengentaskan mereka dari penderitaan yang belum tentu kapan akana berakhir ini. Dan adalah kewajiban kita untuk membantu saudara-saudara kita yang bahkan untuk satu kali  makan saja tidak ada. Sekali lagi, mari bantu mereka! Saatnya “mengungsikan” shadaqah kita untuk para pengungsi korban bencana! Jadikan hal ini sebagai ladang pahala Anda karena hanya ALLAH sajalah yang akan membalasnya kelak di akhirat.Amiin.

Yogyakarta, 11 Novemer 2010 pukul 04.52 WIB.

One thought on “[Edisi Relawan] Setengah Jam di Boyolali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s