[Edisi Relawan] Mengapa Saya Menjadi Freelancer

Sejak seminggu yang lalu  saya  sibuk mencari donasi ke teman-teman saya yang ada di berbagai kota untuk disalurkan ke pengungsi-pengungsi korban Merapi. Pertanyaan yang sering diajukan itu umumnya, “Kamu di bawah koordinasi siapa, Fad?” atau “Kamu jadi relawan di posko mana, Fad?”. Seringkali saya bingung hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena saya tidak mewakili siapapun dan apa yang saya lakukan murni berasal dari inisiatif saya pribadi, tanpa komando, tanpa embel-embel organisasi/lembaga manapun.

Awalnya, jum’at pagi yang lalu (5/11) saat tengah malamnya Merapi kembali “mengamuk” melontarkan hujan pasir hingga kota Jogja, saya online di facebook dan mulai men-chat kawan-kawan akrab saya di luar Jogja yang kira-kira bisa dimintai bantuan. “Assalaamu’alaykum. Mau bantu pengungsi Merapi?” begitu kira-kira kalimat pembuka yang saya tulis. Saat itu kira-kira ada 40 orang yang saya ajak chat dan di saat yang genting, bantuan yang bisa diberikan oleh orang-orang di luar Jogja hanya dalam bentuk uang. Saya pun memberanikan diri menjadikan rekening bank saya sebagai rekening tujuan penyaluran donasi secara swadaya untuk korban Merapi hingga saat ini. Dan alhamdulillaah seharian penuh hingga pukul 1 siang jum’at itu, ada uang sekitar 4  juta yang masuk ke rekening saya. Saya pun bergegas mengambil motor menuju Makro  untuk membelanjakan habis uang 4 juta yang saya pegang. Jujur, baru kali ini saya belanja sampai berjuta-juta.  Hari itu saya belanja 40 dus Aqua, alat-alat mandi, dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang kira-kira dibutuhkan pengungsi. Ya, singkatnya saya habiskan 4 juta itu dan saya angkut ke stadion Maguwoharjo (21.000 orang) dan Gelanggang UGM (1048 orang) hingga malam hari.

Saya pun tidak menyangka sejak saat itu sampai sekarang hari-hari saya disibukkan dengan menghubungi kawan-kawan saya untuk menyumbang apapun bagi para pengungsi, dan kemudian mengantarkannya langsung ke barak pengungsian. Tanpa komando lembaga apapun, tanpa embel-embel organisasi manapun. Ya, apa yang saya lakukan murni aksi swadaya. Cara ini saya pilih karena dalam penanganan korban bencana seperti ini dibutuhkan aksi yang cepat dan tepat. Cepat artinya dalam situasi darurat seperti ini, bantuan haruslah disalurkan kepada para pengungsi secara cepat tanpa menunggu waktu lama. Dan tepat artinya saya menyalurkan bantuan yang saya kumpulkan kepada para pengungsi yang benar-benar membutuhkan dan tidak terekspos ke khalayak.

Saya memilih menjadi freelancer karena beberapa hal. Pertama, saya bisa selalu berpindah-pindah dari posko satu ke posko yang lain dalam satu hari dan tidak perlu menetap di satu posko saja. Hal ini memungkinkan saya untuk mengetahui kondisi banyak pengungsian yang perlu kiranya diberi bantuan yang mendesak. Dalam satu hari, saya bisa memantau tiga atau empat posko bahkan lebih dan mencatat kebutuhan apa saja yang kira-kira mendesak. Dalam menerima bantuan, tentunya semua posko pun membutuhkan bantuan. Namun perlu dicatat bahwa “butuh” di sini pun beragam tingkatannya. Ada yang kurang butuh, butuh, lebih butuh,  atau sangat butuh. Pada intinya, mobilitas saya dari posko ke posko membuat saya tahu betul kebutuhan pengungsi di berbagai posko pengungsian secara lebih cepat dari hari ke hari, alih-alih saya mendaftar di bawah koordinasi lembaga atau organisasi tertentu.

Contohnya, pada hari pertama, beras dan makanan siap saji serta kebutuhan-kebutuhan primer masih dibutuhkan di semua posko yang ada di Jogja, namun sampai hari ini, kebutuhan di Jogja sudah beralih ke kebutuhan sekunder seperti alat-alat kebersihan, peralatan mandi,  pakaian dalam, dan lain-lain, sementara di posko di luar Jogja, kebutuhan primer seperti beras, air mineral, sayuran, lauk pauk, bahan dapur, obat-obatan, dan lain-lain yang sifatnya mendesak masih sangat dibutuhkan di daerah-daerah seperti Klaten, Muntilan, bahkan Boyolali. Ekstremnya, seseorang bisa saja bertahan tidak mandi atau tidak ganti baju selama tiga hari berturut-turut, namun jika disuruh untuk tidak makan dan minum selama tiga hari berturut-turut, matilah dia. Inilah yang saya maksud dengan ketepatan dalam memberi bantuan. Tepat diberikan pada orang yang sangat membutuhkannya.

Kedua, dengan menjadi freelancer saya tidak terikat oleh perintah-perintah komando sebuah institusi/lembaga. Hal ini memungkinkan saya bertindak secara cepat tanpa perlu aturan main yang resmi. Saya akui, aturan resmi atau koordinasi itu mutlak diperlukan, namun saat koordinasi itu berubah menjadi sebuah birokrasi yang berbelit-belit dan terkesan mempersulit, semuanya justru membuat nasib pengungsi tidak bisa ditangani secara cepat. Banyak kasus terjadi berupa penimbunan logistik bantuan berupa kebutuhan primer di posko-posko pusat dengan jumlah pengungsi yang besar di Jogja, Klaten, Magelang, dan Boyolali, sementara posko-posko kecil justru tidak tersentuh.

Apa yang saya kumpulkan dalam sehari di rekening saya, itulah yang saya belanjakan habis untuk membeli logistik kebutuhan primer pengungsi dalam hari itu. Sebagai bukti logistik telah disalurkan, saya scan struk pembeliannya, saya upload ke facebook, saya tag kawan-kawan saya yang mengkonfirmasi memberikan donasi, dan selesai. Karena aksi saya hanya swadaya, saya bekerja berdasarkan asas saling percaya saja. Saya tekankan, di saat-saat darurat seperti ini, tidaklah pada tempatnya jika harus mencurigai aksi orang per orang yang berniat membantu para pengungsi. Sebagai bukti, tengoklah  akun twitter jalinmerapi, sebagai salah satu media teraktual untuk melihat kebutuhan-kebutuhan pengungsi di seluruh posko yang tersebar. Di sana, akan Anda dapati bantuan-bantuan yang disalurkan hampir semuanya berasal dari aksi orang per orang atau swadaya, jarang sekali yang mengatasnamakan lembaga atau institusi pemerintah.

Yang saya lakukan, saat donasi sudah terkumpul hingga sore hari, saya akan sibuk merekap kebutuhan di beberapa daerah melalui twitter jalinmerapi di internet, atau mengirim sms ke kawan-kawan saya yang juga menjadi relawan di berbagai posko,  saya rangkum posko mana saja yang masih membutuhkan kebutuhan primer makanan, minuman, pakaian, dan lainnya, saya hubungi kontak person posko tersebut dan mengkonfirmasi kebutuhannya, saya belanja kebutuhan pengungsi, dan saya distribusikan. Sistemnya 1 day 1 delivery. Itu saja aturan mainnya. Lebih cepat, tepat, dan aktual.

Banyak pihak di luar Jogja dan sekitarnya  yang telah mengumpulkan bantuan untuk korban Merapi, namun kebingungan hendak menyalurkannya ke siapa secara cepat dan tepat. Cepat artinya bantuan yang diberikan tidak akan menumpuk dan menjadi timbunan di gudang, dan tepat yakni tersalurkan ke pengungsi yang amat membutuhkan bantuan yang terkumpul itu. Berdasarkan pengalaman saya beberapa hari ini, posko-posko besar macam stadion maguwoharjo-yang ditangani Pemda DIY-, Gelanggang UGM -ditangani UGM melalui DERU (Disaster Emergency Response Unit) dan GER (Gelanggang Emergency Rescue, DPRD dan GOR Klaten, GOR Boyolali dan beberapa posko besar lainnya, logistik justru menumpuk dan tertimbun di gudang sementara di posko kecil di pelosok daerah justru kekurangan. Inilah yang saya coba hindari karena dalam pembagian logistik primer, semuanya harus sama rasa dan sama rata. Tidak boleh ada kesenjangan yang semakin menambah penderitaan di barak-barak pengungsian.

Ketiga, dengan menjadi freelancer, saya bisa bekerja optimal dalam sehari. Pagi saya bisa mengumpulkan donasi lewat facebook, telepon, atau sms, siangnya saya bisa langsung pergi menuju pengungsian menyalurkan bantuan, dan malamnya saya bisa bekerja di balik meja dengan menjaga stand pendataan, mengurusi logistik, atau di dapur umum di posko-posko besar. Berbeda halnya jika saya berada di bawah komando institusi lembaga, saya hanya akan diberi satu macam tugas seharian, dan waktunya pun bergantian. Saya merasakan betul bagaimana menjemukannya hanya duduk di balik meja mencatat kebutuhan pengungsi tanpa bisa berbuat banyak saat permintaan pengungsi tak kunjung diberikan. Kerjaan saya hanya mencatat, duduk dan diam. Statis, padahal saya bsia berbuat banyak hal dalam sehari. Saya harus mengikuti birokrasi yang seringkali justru mempersulit alur bantuan itu sendiri karena saya berada di bawah komando dan pengarahan sistematis.

Itulah beberapa alasan mengapa saya memilih menjadi relawan swadaya atau freelancer selama beberapa hari ini. Saya bisa bergerak cepat berdasarkan pantauan di lapangan secara langsung, menyalurkan bantuan ke pengungsi yang sangat membutuhkan, dan bekerja secara optimal semampu yang saya bisa, Insya ALLAH. Aktual, cepat, dan tepat agaknya menjadi tiga kata yang harus menjadi pedoman dalam bertindak membantu ratusan ribu pengungsi akibat bencana kali ini. Semoga ALLAH memudahkan langkah kita semua dalam membantu korban bencana ini yang dengannya akan segera sirnalah penderitaan saudara-saudara kita yang ada di barak-barak pengungsian. Amin. Mari membantu!

Yogyakarta, 14 November 2010, pukul 03.25 WIB.

3 thoughts on “[Edisi Relawan] Mengapa Saya Menjadi Freelancer

  1. Tinggal di Jogja ya pak.
    Saya di Jakarta jadi gak bisa banyak membantu Merapi.
    Semoga Alloh membantu kita menghadapi cobaan ini.
    Salam kenal juga pak. Terimakasih atas kunjungannya ke blog saya.

    ya, pak.. saya tinggal di jogja…. ya, apapun yang bsia kita bantu, termasuk doa, ya kita lakukan….

    salam kenal juga sesama blogger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s