[Kisah Nyata] Rohim dan Penipu Seratus Ribu

Pagi ini (2/12) temen saya, Rohim, cerita tentang dirinya yang hampir jadi korban penipuan, bahkan sudah jadi korbannya. Langsung saja. Ceritanya semalam ada orang nelpon dia, nomer henpon asal Jakarta. Kebetulan suara si penipu itu mirip banget sama temen kuliahnya, si Fauzi. Fauzi yang kemarin siang masih kami temui di kantin kampus, tiba-tiba ngasih tau kalo dirinya sekarang lagi ditahan di kantor polisi di daerah jakarta karena kecelakaan. Awalnya Rohim kaget, sempet gak percaya gitu karena gimana mungkin tiba-tiba fauzi ada di Jakarta? cepet amat? Gitu mikirnya. Tapi karena si Rohim ini orang baik, ditambah sedikit sifat lugu tentunya, percaya saja kalau “Fauzi” ini sedang dalam kesulitan dan butuh pertolongan.

“Fauzi” bilang kalau dia kecelakaan dan sekarang ditahan di kantor polisi, dan polisinya gak ngebolehin dia pulang sebelum bayar “denda” seratus ribu. Awalnya si Rohim ngira kalau dia harus transfer duit seratus ribu malam-malam ke rekening polisi itu. Karena bank udah tutup, plus dia gak punya ATM, Rohim nawarin ke “Fauzi” gimana kalo besok aja transfernya. Tapi emang dasar penipu, ada aja akalnya. Dengan nada memaksa, “Fauzi” bilang kalau polisinya minta dikirim dalam bentuk pulsa nominal seratus ribu aja, sampe ngeyakinin si Rohim dengan menyerahkan teleponnya ke “polisi”. Kontan saja keterangan palsu “polisi” itu semakin membuat Rohim yakin kalau ‘Fauzi ” ini butuh pertolongannya.

Mereka berdua berdialog panjang. Setelah sempat beradu mulut dengan “Fauzi” (karena emang “Fauzi” ini kok gak biasanya minta tolong pake nyolo dan maksa bangett), Rohim akhirnya ngalah jalan deh ke konter pulsa niatnya mau beli pulsa seratus ribu buat dikirim ke nomer henpon “polisi” itu, biar dia ngebebasin “Fauzi” dan gak perlu nginep di polsek. Hahaha. Jarang-jarang ada pemuda baik hati kaya Rohim ini, saking baiknya sampe-sampe mau beliin pulsa seratus ribu buat temennya yang “ditahan polisi” ini. Seakan dihipnotis, Rohim pun menuruti apa yang diperintahkan “Fauzi”.

Di konter, Rohim sempet cerita sama mas-mas yang jualan pulsa kalo temennya,  si “Fauzi” ini lagi di Jakarta dan ditahan di Polisi akibat kecelakaan, dan minta seratus ribu dalam bentuk pulsa. Mendengar penuturan si Rohim, penjual pulsa pun curiga kalau Rohim sedang berhadapan dengan penipu yang pura-pura jadi temennya. Berbekal nasehat dari sang penjual pulsa, Rohim nelpon balik ke “Fauzi”, suruh dia ngirim nomer henpon polisi yang mau dikirimin pulsa lewat nomer M3 yang biasa dia pake. Bukan lewat nomer hape yang sekarang dipake buat nelpon. Merasa terpojok, “Fauzi” beralasan kalau susah ngirim lewat nomer M3 biasanya.

Perdebatan antara Rohim pun berlangsung sengit. Akhirnya Rohim pun menyadari kemungkinan dirinya sedang ditipu. Dia pun menelepon Fauzi yang asli -temen kuliah kami- di nomer handphone yang biasanya sudah tersimpan, bukan nomer henpon asal Jakarta yang tadi. Rohim nanya ke Fauzi, di mana dia sekarang, lagi ngapain? -co ciittt banget deh pertanyaannya-. Dan Anda tahu apa jawab Fauzi yang asli ini? Ya, dia di Jogja, di kos temennya tadi malam. Hahahaha. Jadi Rohim pun geleng-geleng kepala karena sadar dirinya hampir menjadi korban penipuan berkedok minta pulsa akibat kecelakaan si “Fauzi” ini.

Tapi, malam tadi mungkin menjadi malam yang beruntung buat “Fauzi” ini. Rohim memang lolos dari akal bulusnya, tapi tidak dengan temennya Rohim. Saat Rohim sibuk berpikir di depan konter pulsa merenungi nasehat sang penjual pulsa, “Fauzi” ini nelpon temen si Rohim yang bernama Gunawan. Kebetulan Gunawan sedang dalam tempat yang terpisah dari Rohim. Gunawan yang ternyata lebih lugu dan baik hati dari Rohim akhirnya meluncur ke konter pulsa yang berbeda dengan Rohim buat beli pulsa. Ya, seratus ribu. Tanpa ba bi bu, dikirimlah pulsanya ke nomer henpon “Polisi” tadi. Dan Gunawan pulang  ke kosannya, dan bertemu Rohim, yang akhirnya memberitahu kalau Gunawan  telah tertipu. :shakehand :hammer. Gubrakkkk!

Dan asal Anda tahu, kesialan tidak berhenti di situ saja. Setelah Fauzi gadungan itu menerima pulsa dari Gunawan, dia balik nelpon. Kontan saja si Gunawan itu murka semurka murkanya, tapi justru dibalas dengan makian ala kebun binatang sama penipu itu. Malah, penipu itu nyanyi di akhir pembicaraan mereka dengan nyanyian ala Broery Marantika, sekaraaang terserah padamuuu kamu tertipu seratus ribuuu. Aaaaaa… tidaakk… mungkin itulah yang bakalan diterakin sama Gunawan. Dengan lugunya dia termakan bualan dan hipnotis Fauzi gadungan ini.Seratus ribunya melayang ke Jakarta bersama nasib sialnya malam tadi.

Rohim, melihat temannya menjadi korban, dan dirinya yang juga hampir bernasib sama, tak tinggal diam. Dia melapor ke kantor polisi terdekat dan malah disuruh lapor ke Polres Sleman. Yah, beginilah nasibnya. Kalo orang kecil lagi kena masalah, pasti bakalan susah ngurusnya ke kantor polisi. Akhirnya Rohim dan temen-temennya pulang dengan kedongkolan yang amat sangat. Bisa-bisanya dia dan Gunawan tertipu sama ulah kutu kupret sialan itu.  Dunia memang kejam. Gumamnya.

Akhirnya, saya cuma mau berpesan. Jaman sekarang, jangan mudah percaya sama orang. Apalagi yang ujung-ujungnya duit. Ampun deh. Lewat telepon yang mencurigakan kaya yang di ceritanya Rohim ini. Kalo kemaren-kemaren heboh ada sms “mama minta pulsa”, sekarang para penipu lebih frontal lagi, pake nelpon segala, biar lebih meyakinkan korbannya. Ajegilee. Udah kaitannya sama kemampuan hipnotis ini mah. Gawat. Dan selalu ingat apa kata bang Napi. Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah. Waspadalah!

2 thoughts on “[Kisah Nyata] Rohim dan Penipu Seratus Ribu

  1. sma ak pun pernah brnasib sama sialnya, crtanya jg panjang kejadiannya dr jm 5 /8 mlam bru beres ketpu lg, 150000 wah ak dasar apes.. Tp mu gmana lg…udah terjadi dwet dah raib.,d pkr bkanya baik tp kpla tmbh 7akit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s