[Edisi Mahasiswa] Hedonisme Ala Kami

Kayaknya udah jadi rahasia umum kalo yang namanya mahasiswa itu, terutama yang hidup di perantauan plus  indekos dan jauh dari orang tua, tidak memiliki cukup uang buat hidup boros, atau paling gak, hidup dengan tingkat pengeluaran yang berlebih. Kecuali beberapa orang yang dikaruniai banyak rizki oleh Allah.😀. Kami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran bulanan agar tidak jebol. Uang yang kami peroleh di awal bulan harus kami atur dengan baik untuk cukup makan sebulan, jajan seperlunya, beli buku, fotokopi, transport,dan kebutuhan rumah tangga ala mahasiswa lainnya yang sudah cukup menguras pikiran. Ya ya lah, siapa juga yang gak pusing ngeliat duit di dompet tinggal berwarna merah tua atau hijau beberapa lembar saja? Hahaha.

Tapi, dengan hidup yang pas-pasan sebagai anak kos, hal itu gak bikin kami patah arang untuk sesekali mencicipi gaya hidup ala hedonis. Tentu saja hedonisme di sini ya versi mahasiswa. Gak wah wah amat. Ef Ye I (For Your Info), hedonisme itu semacam gaya hidup yang menjadikan  kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidupnya. Jadi, karena mahasiswa juga manusia yang memiliki hasrat sama yang bisa bikin ati seneng, kami pun mengenal istilah hedon ala kami sendiri.

Saya amati dan saya lakoni, setelah dua tahun kuliah di Jogja, hedon menurut kami ya berkorelasi positif degan hura-hura. Hura-hura ala mahasiswa itu ada paket-paketannnya, mulai dari paket satu hingga paket empat. Hahaha. Oh ya, tempat buat hedon ya di sekitaran kampus saja ya. Hemat bensin juga. Hahaha. Okey, berikut daftarnya yang berhasil dihimpun oleh redaksi kami. Halaahh. #abaikan

Pertama, Hedon paket satu. Pada paket ini, pelaku (atau justru disebut korban yah? Alah, gak penting, yang penting sama-sama orang) sesekali gaul ke tempat gaulnya mahasiswa. Sekadar kongkow-kongkow dengan tetap menatap isi dompet dalam-dalam. Gak sering-sering amat, paling sebulan sekali,dan gak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Itu pun patungan sana temen-temennya.Perginya bertiga atau berlima. Biar hemat. Yang satu bayar minum, yang satu bayarin makan. Adil.

Doi masih inget sama orang tua yang ngasih duit ke dia dengan susah payah. Hahahaha. Dan pada level ini, lifecost untuk sekali hedon itu dari 10 ribu sampe 50ribu. Ya cukuplah buat makan kenyang di Hokben paket hemat di siang hari, makan di KFC sore harinya, ato nonton hemat di hari senin sambil bawa popcorn yang small. Itu saja. Prinsipnya kaya lagunya Rhoma Irama terbaru, “Hedon janganlah hedooon, kalau tiada artinya. Hedon boleh saja, asal ada perlunya”.

Oh ya, ada satu hal. Karena jarang hedon, setiap kali doi pergi pasti bawa kamera buat jeprat-jepret foto narsis biar bsia diupload di facebook, dan di-tag ke temen-temennya. Mau nunjukin kali dirinya juga eksis gituu. Biar pun tampang kampung tapi bisa juga makan di resto. Hahaha.

Kedua, Hedon paket dua. Kalo di paket satu itu mainnya ke tempat-tempat yang masih wajar-wajar aja dan gak sering-sering amat, pelaku hedon pada paket ini sudah melewati masa-masa di paket satu. Mungkin karena dia selain dapet duit dari orang tua, dia juga usaha sendiri nyari-nyari kerja sampingan ala mahasiswa. Jadi, udah bosen lah namanya makan di Waroeng Steak aja. Murah sih, tapi ya sekali-kali nyobain yang agak mahalan dikit lah.

Kalo di level satu, life cost sekali hedon paling banter 50 ribu, pada tingkat ini rate-nya dari 50ribu sampe 100ribu. Kok bisa? ya bisa donk. Sekali hedon itu pergi makannya ke Foodfezt, ngerjain tugasnya di Cafe Coklat di jalan Cik Di Tiro, ngobrol sama temennya di Dunkin Donut’, nonton, atau karaokean rame-rame. Sip deh. Intensitasnya pun paling dua kali dalam sebulan. Artinya, kalau dua minggu lalu udah ke makan di Foodfezt, Pizza Hut, Cafe Coklat, sama Dunkin, ya dua minggu berikutnya gilirannya nonton di bioskop 21 dilanjut karaokean di Happy Puppy. Yuhuu.

Next, Hedon paket tiga. Paket ini merupakan gabungan dari opsi-opsi yang ada di paket dua. Dan dilakukan lebih sering, mungkin bisa seminggu sekali di hari sabtu atau minggu. Artinya, makan pagi di KFC, makan siang di Hokben, nonton sore hari di XX1, lanjut makan malam di Pizza Hut (walaupun cuma pesen garlich bread aja, yang penting mentereng), dan diakhiri dengan karaoke atau ngerjain tugasnya yang gaul dikit di kafe-kafe kopi deket kampus. Ohya, life cost sekali hedonnya sekitar 100 ribu sampe 200 ribu. Mahal emang, tapi bagi para oknum ini (ceileee.. sebutannya oknum), uang segitu gak sebanding sama kepuasan yang didapatnya. Hahahaha.

Terakhir, Hedon paket empat. Seseorang yang udah nyampe ke paket empat itu udah gak levelnya lagi maen-maen ke tempat-tempat yang disebutin di level-level berikutnya. Atau bisa disebut gini, level empat adalah kombinasi dan komplikasi antara level satu dikalikan level tiga. Karena udah nyampe ke level empat, doi maennya ke tempatnya para eksekutif muda biasa nongkrong. Sambil nyalain laptop atau pencet-pencet BB pesen espresso. Hahaha.

Resto-resto sering dijamahinya, belanja kemeja, sepatu, atau celana ke mall, perawatan ke salon (buat cewek aja yaa), dan yang paling suhu adalah pergi ajeb-ajeb ke klub malam. Widiiiw. Lifecostnya tentu paling mahal donk. Antara 200 sampe tak terhingga. Ya ya lah tak terhingga. Hidup si doi gak mikirin duit, abis tinggal ambil, abis tinggal ambil. Melihara tuyul kali dia ini. Hahaha.

Okey, kayaknya itu saja hasil  pengamatan yang saya lakukan tentang gaya hidup hedon ala mahasiswa. Tempat hedonnya pun di sekitaran kampus aja. Gak jauh-jauh, dan gak terlalu mahal. Masih banyak sebenernya variasi hidup yang lain, atau mungki luput dari pengamatan saya. Maklum, saya masih cupu. Sesekali hedon pun paling di level dua, dan paling banter di level tiga. Mungkin Anda punya pengamatan lain tentang hedonisme ala mahasiswa yang tidak saya ketahui? Intinya, hedon atau gak hedon, yang penting sesuai aturan. Sesuai kondisi masing-masing. Dan jangan lupa, yang penting gak ngelakuin hal-hal yang melanggar aturan agama. Karena prinsipnya, Innal Mubadzdziriina kaanu ikhwaana asysyayaathiin. Sesungguhnya orang-orang yang berlaku boros itu kawannya syaithan. Titik.

4 thoughts on “[Edisi Mahasiswa] Hedonisme Ala Kami

  1. sempet2nya km ya merhatiin beginian..
    btw, ajarin ak wordpress donkk… =D

    hahaha. hidup kan bersosialisasi, fit. kudu peka sama fenomena sosial yang ada di sekitar.

    bagian mana di wordpress yang susah, fit? kalo pasang2 gambar, kudu pake kode html sedikit di widgetnya😀

  2. hho..sudah saya laksanakan ajaran Anda Mbah..dan yaa..lumayan berhasil, berkali2 nyoba, sedikit nyontek html sana sini,,hhihi.. nuhun..😛

    alamat blogmu apa, fit? tukeran link laah…

  3. Ping-balik: [Edisi Mahasiswa] Membolang Itu Men(y)enangkan « Muhammad Nikmatul Mu'minin Fadly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s