[Edisi Ramadhan] Luput Mensyukuri Angin

Bismillah.

fadhlyoke.wordpress.com

Kemarin (6/8) petang, saat saya hendak pergi ke mesjid favorit saya untuk shalat tarawih,(oh ya, FYI, saya punya beberapa mesjid favorit yang saya shalat tarawih di sana karena bacaan imamnya bagus,tidak terlalu cepat juga tidak lambat) saya kembali hrus menuntun motor saya di sepanjang jalan ke alun-alun Jogja. Apa mau dikata, baru saja 50 meter saya naik di atas motor, tau-tau bzzzzz… ban motor saya kempes. Awalnya saya berpikir, ini pasti kempes saja, bukan bocor , mengingat baru kemarinnya saya ganti ban dalam baru. Okey. Masih sempat lah kalo ngisi angin duu. Saya tuntun motor saya sejauh 300 mete ke tambal ban berniat isi angin saja. Singkatnya, setelah diperiksa oleh tukang tambal ban, ban motor saya kembali bocor. Kembali bocor karena sudah 3 kali itu dalam 3 hari berturut-turut ban motor saya bocor. Qadarullaah wa maa syaa fa’al.

Kebetulan tukang tambal ban malam itu tergolong ramah. (Setelah saya kenalan, namanya Pak Doel). Dijelaskan lah saya tentang serba-serbi ban motor yang bagus, tukang tambal ban yang kompeten, dan bagaimana cara menambal ban yang baik. Hmm, lumayan, saya dapat ilmu tentang pengalaman pak Doel yang sudah puluhan tahun jadi penambal ban. Singkat memang proses nambalnya, karena Pak Doel menambal ban secara otomatis, tidak pakai dibakar segala. Tiga hari itu memang saya akrab dengan tambal ban karena berturut-turut ban saya bocor. Awalnya malam-malam di dekat kampus, esoknya di jalan hendak ke mesjid berburu ta’jil (dan akhirnya saya gak buka gratis di mesjid😀 ), dan terakhir ini di dekat alun-alun utara jogja saat hendak tarawih. Ahh, saya anggap biasa. Semua orang pun pernah mengalaminya.

Namun kemudian saya jadi berpikir betapa inilah salah satu peringatan yang Allah berikan kepada saya, betapa hal-hal sepele seperti angin dalam ban motor itu harus kita syukuri. Bayangkan, tentu kita kesal setengah mati saat tiba-tiba ban kendaraan kita bocor. Kita harus menuntunnya ke penambal ban, ya kalo ada, kalo udah malem dan semua tutup? Ya udah deh, pegel sampe rumah. Menambal ban itu memang sepele. Kita tinggal bawa ke tukang tambal ban seperti pak Doel itu, kita duduk manis, bayar lima ribu rupiah, selesai.Tapi, dari insiden seperti ban bocor itulah kita diajari ari bersyukur dan bersabar sekaligus. Bersyukur saat angin masih menghuni ban motor kita, dan bersabar saat menuntunnnya ke penambnal ban. Luar biasa, kan? *sedikit lebay*

Selain mensyukuri eksistensi angin dalam ban, nampaknya kita juga bersyukur tidak harus repot-repot nambal ban sendiri. Ada orang yang dengan murah bisa kita bayar. Mulai dari melepas ban dalam dari ban luarnya, memeriksa apa ada yang bocor, menambal dengan dibakar atau otomatis tadi, dan menyiapkan kendaraan kita hingga siap pakai. Dan orang-orang seperti pak Doel itulah yang mengajari kita bersyukur pada apa yang kita dapatkan. Pekerjaan yang kita lakukan dibayar mahal, ringan dilakukan, tanpa perlu bercemong-cemong ria dengan hitamnya ban motor. Dan uang yang kita bayarkan memang kita anggap kecil, tapi bagi mereka itu mampu menghidupi dirinya dan keluarganya.

Dengan apa yang sudah pak Doel dan rekan sejawatnya sesama penambal ban itulah kita seharusnya berpikir ulang betapa kita lebih sering mengeluh. Luput mensyukuri yang kita dapatkan. Hmm. Padalah kalo kata Rosuullah dalam sebuah hadist, “pandanglah orang yang ada di bawahmu dalam masalah harta dunia dan jangan kau pandang orang yang berada di atasmu”. Hadist shahih riwayat imam Muslim. Artinya apa, kita harusnya bersyukur pada hal-hal yang kecil yang kita peroleh. Kata Rosul juga, “barangsiapa tidak mampu mensyukuri hal-hal yang kecil, maka ia pun tidak akan mampu mensyukuri hal-hal yang besar”. Hadist shahih yang saya lupa periwayatnya.😀

Ungkapan syukur itu simple saja. Kalo apa yang kita miliki itu mampu mengantarkan kita untuk lebih taat kepada Allah, artinya kita sudah mampu menjadi hambaNya yang bersyukur. Seperti misalnya, jika saya hendak mensyukuri nikmat Allah berupa angin dalam ban motor saya, maka saya harus menggunakan motor saya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Bukan malah mengantarkan saya kepada tempat-tempat yang di dalamnya saya akan berbuat dosa. Dengan itu Allah akan menambah kenikmatan yang lain karena sikap syukur tersebut. Amin. Insya Allah. Okey. Lantas, hal kecil apa yang telah Anda syukuri hari ini?

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

One thought on “[Edisi Ramadhan] Luput Mensyukuri Angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s