Fisika Dasar dalam Mindset Bisnis Saya

Udah tau kan kalo saya jualan kaos? Hehehe. Nah, di suatu kelas kuliah ‘Metode Pengukuran Fisika’, dosen saya berkata “Itu mas Fadly, stress belajar fisika, malah sekarang jualan kaos. Umm, saya sih senyum-senyum saja mendengar apa yang beliau sampaikan dan menjadi bahan tertawaan teman-teman di kelas. Atau ada teman saya berkata, “Kamu kan mahasiswa fisika, kok gak nyambung banget, malah jualan kaos? Ya ilmunya gak bermanfaat“. Seringnya sih saya gak mau ambil pusing dengan apa yang orang lain sampaikan, utamanya asumsi-asumsi negatif tentang aktivitas saya. Selama saya senang menjalaninya, halal, dan tidak merugikan orang lain, ya sah-sah saja. 😀 Namun belakangan, saya pun jadi ikut berpikir, “Apa benar ilmu fisika yang saya pelajari di kelas itu sama sekali tidak bermanfaat jika saya terjun menjadi pengusaha?” Let me think for a while. Halah. 😀

Saya lantas mencoba merenungi perkataan dosen saya tadi. Saya bertanya dalam hati. “Apakah aktivitas saya berbisnis itu karena saya stress belajar fisika? atau ada sebab lain?”. Pertama yang harus diketahui, belajar fisika memang seringkali membuat saya stress. Seringkali.  Bukan selalu. Itu tak lain karena saya tidak terlalu suka dengan hal-hal yang abstrak. Dan Anda tahu betapa banyak hal yang abstrak dalam mata kuliah fisika?  :p (Sebenarnya bukan abstrak, hanya saja penglihatan kita belum mampu menjangkaunya. Hehehehe) Jawabannya seperti lapisan dalam Wafer Tango, yaa.. ratusaaaannnn.. lebiiih….. :p   Dan setelah agak lama saya merenung, ahaaa.. saya temukan juga jawabnya. Dosen saya tadi tidak mutlak salah. Bukankah sudah menjadi tabiat manusia saat dirinya merasa jenuh dengan satu hal, ia akan beralih kepada hal lain? (termasuk hubungan percintaan? :-P) Umm.. jadi saya jenuh nih belajar  fisika? Kadang sih. 😀 . Lebih jauh lagi, sejak remaja (FYI, usia saya sekarang sudah 22 tahun, jadi dapat dimengerti donk kenapa saya sertakan kata ‘sejak’ 😀 ) saya suka dengan uang.  (Anda juga kan?) Bagi saya, ada u-a-n-g dalam kata ‘peluang’.  Tapi nampaknya pragmatis sekali kalau saya menjadikan uang sebagai alasan saya berbisnis. Terus apa donk?

Jujur, saya memutuskan (halah, emangnya ini sebuah keputusan?) untuk berbisnis sendiri adalah karena saya teringat dengan hadist nabi, “Tidaklah seseorang makan sesuap makanan yang lebih daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” [HR. Bukhari]. Itu salah satu saja. Lebih dari itu, saya juga kepengen meringankan beban orang lain. Simple saja, orang tua saya. 🙂 Dan, saya percaya bahwa berbisnis sekaligus kuliah bukanlah dua hal yang bertentangan. Pintar-pintar mengatur waktu dan pikiran saja. Kapan harus fokus belajar, kapan harus mikir uang agar tetap lancar. Dan alhamdulillah, selama ini kuliah saya lancar. Indeks prestasi saya juga masih tiga koma (penting ya ini disebut?) Ya walaupun gak pinter-pinter amat, tapi saya merasa masih bisa membagi waktu dan pikiran dengan fair. Karena saya punya tanggung  jawab kepada orang tua untuk menyelesaikan studi, dan saya punya tanggung jawab kepada Allah untuk mengamalkan hadist RasulNya tadi. Jadi wahai pak Dosen saya, saya gak stress belajar fisika kok pak, dan ‘jualan kaos’ adalah hobi saya, alih-alih sebuah pelarian. Bukankah pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar? 😀 Terjawab sudah ya alasan saya berwirausaha? Semoga sih.

Terus terus, saya ini kan mahasiswa fisika? Kalo saya berwirausaha, apa ilmu fisika saya menjadi tidak bermanfaat? Wahh.. ini pernyataan yang suudzon sekaligus menghakimi sekali. Berwirausaha atau orang menyebutnya entrepreneurship itu tidak melulu tentang jual beli. Saya beli ini, terus saya jual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Wallahi bukan cuma ini. Bagi saya, ini dunia yang full of strategy. Dan sangatlah sempit jika fisika hanya diartikan dengan ilmu yang mempelajari atom-atom, elektron, benda bergerak jatuh,  integral dan terapannya,  listrik, dan hal-hal yang menurut orang lain membuat dunianya semakin ruwet? (do you think so?) Saya memandang fisika sebagai ilmu yang mempelajari tentang seluruh aspek kehidupan saya. Nyata ataupun maya. All my world is about physics. Saya mampu mentadabburi apa yang terjadi di sekeliling saya. Termasuk bisnis. Karena ia adalah dunia yang penuh strategi, fisika pun demikian. Di fisika, saya diajari tentang strategi mengungkap setiap fenomena menjadi sesuatu yang masuk akal dan dapat dipahami. Entah dengan common sense biasa, ataukah dengan bantuan persamaan-persamaan fisika. Bisnis pun demikian, bukan? Saat saya menulis ini, ada bisikan (serem amat pake istilah ‘bisikan’ Hahaha) yang berkata, “lantas, mas fadly. Bisa tolong disebutkan contoh penerapan ilmu fisika dalam dunia bisnis?” Wow. Pertanyaan yang sangat cerdas dari regu A! :p Akhirnya saya pun terpaksa mengingat-ingat konsep dasar fisika yang saya pelajari untuk dikaitkan dengan praktek bisnis. Semoga bukan sesuatu yang dibuat-buat apalagi dipaksakan. Hehe.

Pertama, tentang mengawali bisnis. Kebanyakan orang gagal berbisnis adalah karena ia tidak mau letih berusaha. Saat menemui kegagalan di langkah pertama, ia akan mundur dan menyerah. Tapi, alhamdulillaah yah saya sudah belajar tentang konsep kinematika gerak benda di Fisika Dasar 1. Hukum Newton 1 dan 2. Sesuatu banget.  Saya juga belajar bahwa benda bergerak selalu ada gaya gesek yang menjadi rintangan suatu benda untuk bergerak. Dan kalau Anda berkenan meluangkan waktu mengingat mata pelajaran fisika di SMA, gaya gesek terbesar adalah gaya gesek statis maksimum tepat saat ia akan bergerak. Dan saat gaya yang kita keluarkan  lebih besar dari gaya gesek statis maksimum itu, benda akhirnya akan bergerak juga. Saya analogikan bisnis adalah benda tadi. Kita banyak temui rintangan di masa-masa awal berbisnis. Tidak punya modal lah, ragu dengan pangsa pasar lah, bikin gak konsen lah, rugi di awal-awal lah.  Itu semua adalah rintangan atau ‘gaya gesek’ yang merintangi memulai bisnis. Nah sekarang, tinggal bagaimana saya mengeluarkan gaya yang besarnya lebih dari gaya gesek tadi. Pun saat sudah bergerak, masih akan ada gaya gesek karena benda bergerak bukan di atas permukaan yang licin. Dunia ini gak mulus. Selalu ada tanjakan setelah turunan. Selalu ada kerikil yang siap menghadang. All you need to do is just to make sure your things keep moving. Toh Sandiaga S. Uno itu pernah tiga tahun mengalami kebangkrutan di awal-awal mendirikan PT Saratoga. Lantas, apakah dia menyerah begitu saja? Gak kan? Itu karena ia yakin bahwa ‘benda’ akan terus bergerak selama ada ‘gaya’ yang lebih besar dari ‘gaya gesek’ yang melawannya. Dan akhirnya Pak Sandi menjadi salah satu dari orang terkaya di Indonesia. Semoga saya menjadi Sandiaga S. Uno berikutnya. Amiiiiiiin. (huruf ‘i’-nya ada sejuta). 😀

Kedua, saya pun tahu bahwa saat benda bergerak, ia harus memilih untuk mengalami percepatan ataukah perlambatan lalu berhenti. Maka yang perlu saya lakukan saat berbisnis adalah membuat bisnis saya terus mengalami percepatan. Bukan perlambatan. Percepatan dalam fisika banyak definisinya. Simpelnya, ia adalah hasil bagi antara jarak dengan kuadrat waktu. Satuannya m/s2. Artinya, dalam berbisnis, saya harus membagi jarak yang akan saya tempuh dalam waktu yang sifatnya kuadratis. Harus gerak cepat, istilahnya. Bisnis adalah tentang bertindak tepat dalam waktu yang cepat, kan? Percepatan juga bermakna hasil bagi antara gaya dengan massa. Semakin besar gaya dan semakin kecil massa benda, maka percepatan yang dihasilkan akan semakin besar. Ingat rumus F = m . a , kan? Saya butuh gaya yang semakin besar dan berupaya merampingkan muatan yang dibawa. Jangan sampai terlalu berat. Sehingga percepatan yang dihasilkan semakin besar.  Dengannya, semoga bisnis saya terus bergerak dan mengalami percepatan. Do you get what i mean, right?

Ketiga,  saya pun teringat tentang hukum kekekalan energi mekanik. Oh iya, salah satu dosen saya menyunting istilah ‘kekal’ ini menjadi ‘lestari’. Karena yang kekal hanya Allah Subhanahu wa ta’ala, katanya. Hehe.  Sederhananya, dalam hukum kekekalan energi disebutkan, “tidak ada sesuatu yang hilang dengan sia-sia dan tidak ada sesuatu yang tercipta dengan percuma.” Artinya saat energi itu “hilang” ia akan berubah menjadi energi yang lain. Dan untuk menciptakan sesuatu, dibutuhkan energi pula. Dalam bisnis juga sama. Apa yang saya lakukan diupayakan menghasilkan sesuatu yang bermakna, agar tidak hilang sia-sia.  Toh bermakna di sini artinya tidak selalu materi. Bahkan jauh dari itu, pengalaman masih saja menjadi guru yang terbaik semenjak dahulu, kan? Dan rugi (contohnya) dalam berbisnis pun adalah sesuatu yang bermakna. Bukankah dari kerugian kita belajar tentang solusi kegagalan? 🙂 Artinya selalu ada siklus energi. Pun juga, saya meyakini bahwa untuk menciptakan sesuatu, butuh energi. Kalau mau untuk besar, ya harus siap menanggung risiko yang besar pula. Saya berbisnis, bukan dukun pengganda uang. Untuk menciptakan keberhasilan yang besar, saya butuh energi yang besar pula. Ujung-ujungnya, agar bisnis saya tetap lestari. Seperti halnya energi. Loh kok? :p
Keempat,  dalam hukum termodinamika, saya pun belajar bahwa tekanan pada sebuah sistem harus diseimbangkan agar ia tetap teratur bekerja. Ya, dalam bisnis pun sama. Saya acapkali menemui tekanan dari sana-sini. Lagi-lagi yang sifatnya menghambat gerak sistem. 😀 .  Namun, kadang-kadang tekanan ini dibutuhkan untuk menciptakan sebuah gaya atau force. Yang perlu saya lakukan adalah mengatur tekanan itu agar tetap seimbang dan mampu dikendalikan dengan baik. Agar sistem bisnis saya tetap berkerja. 🙂
Aaaaaaaaahhhhh.. banyak sekali sih sebenernya tentang  fisika yang bisa saya terapkan dalam bisnis saya. Ntar kalo disebutin semua, malah jadi buku. Hahahaha.  Atau Anda mau menyebutkan tambahannya? Lantas jika sudah begini, apakah pantas bagi saya memisahkan ilmu fisika yang saya dapat dengan aktivitas bisnis dan menganggap ilmu yang saya dapat tidak bermanfaat dalam bisnis saya? Hehe. Enggak kan ya? Saya nulis ginian juga bukan berarti bisnis saya sudah berhasil. Jauuuh belum. Tapi saya yakin, dengan mindset yang sederhana ini saya akan terus berbisnis dan berwirausaha. Bukankah Dawud ‘alayhissalam makan dari keringatnya sendiri? Maka beruntunglah para wirausahawan yang juga fisikawan. Hahaha. Last but not least, mari belajar fisika agar sukses berwirausaha! 😀

5 thoughts on “Fisika Dasar dalam Mindset Bisnis Saya

  1. “Itu mas Fadly, stress belajar fisika, malah sekarang jualan kaos“…seems like you are not under-stress. You wrote too much as a stressed person. Perhaps, your lecturer was wrong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s