Melawan Kejumudan Sebagian Ikhwan Salafi

Akhir pekan lalu (23-24/6), saya mengikuti tabligh akbar nasional yang diselenggarakan di Bantul, Yogyakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula ulama-ulama Ahlussunnah (masyayikh) dari timur tengah sebagai pemateri. Tahun ini adalah kali kedelapan. Sudah menjadi kebiasaan saya, jika bepergian, untuk mengabadikan momen-momen yang menurut saya memiliki kesan tersendiri. Termasuk mengambil gambar syaikh, yang duduk di meja tepat di hadapan saya, melalui kamera handphone. Foto tersebut akhirnya saya unggah di facebook, sebagaimana kebiasaaan orang-orang mengunggah foto-foto mereka melalui media sosial.

Tak dinyana, foto yang menampilkan wajah syaikh Muhammad Ghalib (ulama dari Arab Saudi) dan Al Ustadz Qomar Su’aidi itu menuai banyak komentar dan kecaman dari sebagian ikhwan salafi. Seperti yang diketahui, sebagian orang mengharamkan foto yang menampilkan makhluk bernyawa (manusia/hewan) dan sebagian lagi membolehkannya. Dan saya cenderung memegang pendapat ulama-ulama yang membolehkannya. Namun, syaikh dan ustadz yang ada dalam foto saya, dikenal memegang pendapat bahwa fotografi makhluk bernyawa adalah perbuatan haram. Sebenarnya urusan saya seharusnya hanya dengan syaikh dan ustadz yang ada dalam foto tersebut, karena beliau berdua dapat dipastikan keberatan dengan foto yang saya unggah di facebook.

Dalam kasus foto ini, permasalahannya ada dua hal. Hukum foto dan pemuatan wajah syaikh dan ustadz. Terkait hukum foto, permasalahan ini adalah ikhtilaf di kalangan ulama sehingga padanya ada toleransi. Sedangkan tentang pemuatan wajah syaikh dan ustadz, walhamdulillah, saya sudah dipertemukan dengan ustadz Qomar Su’aidi sehari setalah foto tersebut saya unggah. Beliau pun  memberi nasehat dengan sangat lembut agar foto tersebut dihapus. Selang beberapa jam setelah pertemuan saya dengan ustadz Qomar, foto tersebut pun saya hapus.

Namun, api sudah terlanjur meninggi. Banyak komentar bernada hinan, hardikan, dan caci maki.  Saya disebut tidak beradab, termasuk jama’ah sesat, atau bahkan pencuri. Banyak juga gunjingan-gunjingan, sehingga beritanya tersebar luas di kalangan ikhwan salafi. Anehnya, semua caci maki itu berasal dari orang-orang yang saya tidak kenal, yang menjalin pertemanan di facebook semata. Inilah yang membuat saya tidak terima. Bayangkan saja, orang yang Anda tidak kenal, tiba-tiba mencaci maki dan menghina Anda secara terbuka. Itu dilakukan di media sosial tanpa sebelumnya memberi nasehat secara pribadi atau bertemu empat mata. Ironisnya, semua itu dilakukan oleh orang-orang yang menisbahkan dirinya pada ahlussunnah wal jama’ah. Orang-orang yang menamakan dirinya salafi.

Saya menganggap kelakuan-kelakuan sebagian ikhwan salafi ini sebagai kejumudan. Kaku dan keras dalam menyikapi orang lain, yang dianggapnya terjatuh pada dosa dan kesalahan. Hardikan dan cacian  diucapkan dengan nada permusuhan. Tak peduli teman akrab, atau orang yang tidak dikenalnya, akan dibantah secara  terang-terangan. Dianggap keluar dari jalan keselamatan dan terjerumus dalam penyimpangan. Ini jelas akan membuat kesan dakwah salafi adalah dakwah yang keras, kaku, dan doyan keributan dan permusuhan. Padahal itu hanya ulah sebagian oknum dan kenyataannya tidak demikian. Saya mengenal ustadz-ustadz, yang saya hadiri kajiannya, sebagai seorang yang paling lembut tutur katanya dan paling murah dalam senyuman. Tidaklah sesuatu keluar dari lisannya kecuali kebanyakannya adalah hikmah dan kebaikan.

Saya jadi teringat sewaktu dulu pertama kali belajar agama. Tujuh tahun yang lalu, saya juga bersikap kaku dan keras terhadap orang lain yang saya anggap terjatuh dalam kesalahan. Dulu, saya tak segan-segan mencaci dan memusuhi orang-orang yang memakai pakaian melebihi mata kaki, memajang foto, tidak berjilbab, atau yang terang-terangan tergabung dalam organisasi-organisasi yang saya anggap penuh dengan kesesatan. Saya sering terlibat dalam sebuah debat kusir dengan teman, atau bahkan orang tua saya sendiri dengan dalih nasehat. Alih-alih mau mempelajari agama yang benar, orang-orang yang saya bersikap keras dengannya tersebut justru semakin jauh. Parahnya, kelakuan seperti ini membuat saya bertahun-tahun lalai menghafal Al Qur’an atau belajar bahasa Arab.

Inilah yang kemudian menjadikan saya paling tidak suka dengan ikhwan-ikhwan, yang kelihatan paham agama dengan atribut salafinya, saat bersikap jumud terhadap orang lain. Padahal Allah berfirman: “Walaw kunta fadzdzhon gholiizol qolbi, lan fadhdhuu min haulik. Jika kamu bersikap keras lagi kaku terhadap mereka, tentu mereka akan lari membelakangimu.” atau hadist nabi: “Yassiruu walaa tu’assiruu wa basysyiruu walaa tunaffiruu. Mudahkanlah (urusan orang lain) dan janganlan mempersulit. Dan berilah kabar gembira (kepada orang lain) dan janganlah membuat mereka lari.”

Sikap keras, kaku, tidak toleran, dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi orang lain adalah salah satu sebab tidak diterimanya dakwah yang benar. Dan amat disayangkan hal ini disebabkan oleh ulah sebagian oknum ikhwan-ikhwan salafi. Kejumudan-kejumudan tersebut adalah akibat dari sempitnya pergaulan. Sebagian ikhwan bergaul secara eksklusif hanya dengan orang-orang yang sependapat dengannya. Jarang bersosialisasi sehingga tidak bisa menerima perbedaan di tengah kondisi masyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Alhasil, setiap bertemu dengan orang yang berbeda pandangan dengannya dalam hal-hal yang bukan pokok agama sekalipun, ia akan bersikap keras lagi kaku. Ditambah lagi, ikhwan-ikhwan salafi yang seperti ini jarang sekali menciptakan ruang-ruang diskusi yang ilmiah, yang tanpa emosi dan amarah.

Apalagi sekarang jamannya facebook dan twitter. Pergaulan di media sosial begitu bebas sehingga setiap orang bisa dengan mudah terhubung dengan orang lain secara bebas. Kita “berjumpa” dengan orang-orang yang beraneka ragam jenisnya. Ada yang kita kenal, ada pula yang tidak. Bersikap keras dan kaku terhadap orang lain , mengajak berdebat, dan menasehati dengan keras secara terang-terangan di media sosial tentu bukanlah sesuatu yang bijak untuk dilakukan. Jika memang sungguh-sungguh memperbaiki, ingatlah apa yang dikatakan orang-orang shalih terdahulu:  “Barangsiapa memberi nasehat kepada saudaranya secara berdua saja, itulah nasehat. Adapun memperingatkannya di depan khalayak ramai, itu adalah penghinaan.”

Saya pernah terlibat dalam perdebatan yang tiada akhirnya dengan sebagian ikhwan di media sosial. Namun, saat saya secara kebetulan bertemu dengannya berdua, ia hanya terdiam. Rupanya ikhwan-ikhwan seperti ini hanya jago di facebook.  Saat ditemui langsung agar bisa berdiskui dengan lebih sehat, ia diam, tak ubahnya seorang bocah kecil yang lugu. Facebook telah menjadi sarana utamanya dalam bergaul. Saat membantah kesalahan orang, ia gunakan dalil yang ia copy – paste-kan dari google, namun saat bertemu langsung, jangankan dalil-dalil yang ia paste-kan, ia bahkan tidak hafal juz 30 atau surah Al Baqarah. Terhadap orang-orang yang seperti ini, agaknya waktu saya terlalu berharga jika harus meladeninya terus-terusan.

Parahnya, sikap keras dan jumud seperti ini akan luntur saat diri mereka sendiri yang terjatuh dalam kesalahan. Mereka akan buru-buru mencari alasan. Atau saat keluarganya sendiri dianggap terjatuh dalam kesalahan. Sudah berbusa-busa menasehati orang lain untuk mengikuti sunnah dengan keras, namun keluarganya sendiri dilupakan. Bukankah Allah berfirman: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu, quu anfusakum wa ahliikum naaroo. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Jadi, yang paling berhak untuk pertama kali mengikuti kebaikan yang kita yakini setelah diri kita sendiri adalah keluarga kita sendiri.

Jadi lemah lembutlah, wahai ikhwan-ikhwan salafi. Janganlah terkurung dalam kejumudan. Jangan kaku dan keras kepada orang lain yang dianggap terjatuh pada kesalahan, apalagi berbisik-bisik di belakang sambil menggunjing dan mencari-cari aibnya. Jika hendak menasehati seseorang, apalagi di media sosial, lakukankan dengan kata-kata yang lembut dan dilakukan empat mata.  Mari kita sibukkan diri untuk lebih merenungkan kesalahan dan aib-aib kita sendiri. Jika yang terucap hanyalah kata-kata yang kaku, keras, bernada celaan, dan hardikan, hantamkan saja ia kepada batu.  Saya meyakini bahwa nasehat dalam bentuk keteladanan yang baik melalui amal kebaikan akan lebih diterima oleh orang lain alih-alih disampaikan dengan perkataan yang keras atau sekadar kritik pedas. Jangan sampai membuat orang-orang lari dari kebaikan. Jadilah pelopor orang lain untuk berbuat kebaikan karena itu lebih baik dariapda unta merah.

Tulisan ini saya akhiri dengan doa nabi:  “Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” Semoga saya tidak menjadi ikhwan salafi yang jumud dan saya juga terhindar dari kejumudan sebagian ikhwan salafi.

Iklan

9 thoughts on “Melawan Kejumudan Sebagian Ikhwan Salafi

  1. terlepas dari permasalahan ikhtilaf di kalangan ulama terkait masalah hukum gambar, biasanya ada tata tertib pd dauroh tersebut yg menyatakan agar tidak mengambil gambar/ foto didalam majlis tersebut. klw ini mmg dibuat panitia, maka antum melanggar.
    adapun masalah sikap jumud ikhwan yg mengomentari foto yg antum upload di media sosial, ana setuju dgn antum bhw mereka terlalu berlebihan. tp ana mengenal bnyjk ikhwan yg kesehariannya disibukan oleh menuntut ilmu bhw lisan dan perbuatan mrk senantiasa terjaga dan sangat berhati2. sebaliknya yg paling tajam lisannya adalah mrk2 yg kbanyakan kebiasaanya dsibukan dgn dunia (yah ngakunya aja salafy)

  2. Bismillah.. semoga kita terus memperbaiki diri dgn menghiasinya dengan akhlak yg baik.. Ulama kita Imam An Nawawi bahkan membuat Bab tentang Lemah lembut dlm berdakwah dgn hadist2 Aisyah dan ayat yg disebutkan di atas.. jika kita ingin berakhlak mulia maka tambahkan ilmu yg telah Rasulullah tinggalkan untuk umatnya… Ayo semangat belajar dan belajar.. baarakallahu fiik..

  3. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Saya sampai di blog anda – dan sangat setuju dengan isi artikel ini.
    Bolehkah ini saya share di grup sunnah dan facebook kami? Insya Allah kami tidak akan menambah dan menguranginya sedikitpun.
    Tapi bila anda berkeberatan, saya tidak akan menampilkannya.
    جزاك الله خيرا

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s