Teladan Menghadapi Kecelakaan

Jumat malam lalu, saat saya menjenguk Ustadz Abu Abdurrahman Musaddad (Da’i dari kota Mamuju, Sulbar) di rumah sakit Sardjito yang baru saja kecelakaan selepas maghrib, ada banyak hal yang membuat saya terkesan dari beliau -hafidzhahullah-.

Saya sampai di rumah sakit selepas Isya dan mendapati ustadz Musaddad sedang shalat di kursi. Setelah ditanya apakah sebelumnya sudah wudhu ataukah hanya tayammum, beliau menjawab: “Alhamdulillaah wudhu saya sejak Ashar tadi belum batal.” Masya Allah. Orang yang kecelakaan bisa-bisanya masih menjaga wudhu sejak Ashar.

Tak berhenti di situ. Saat perawat perempuan hendak membantu melepaskan kaos beliau untuk memasang penyangga lengan, beliau menolak. “Biar saya saja yang melepas sendiri.” Diakuinya, itu karena khawatir bersentuhan dengan tangan perawat. Padahal orang lain akana menganggap itu sebagai kondiri darurat.

Pun, saat ditanya apakah sudah memberi kabar kepada keluarga di Mamuju, beliau menjawab, “Istri saya sedang di pelosok Kolaka. Saya tidak mau membuatnya khawatir. Nanti saja kalau saya sudah sembuh (dari sini).”

Dan saat diantar ke ruangan radiologi untuk di-rontgen, beliau berkata: “Mungkin kecelakaan ini akibat maksiat yang saya lakukan. Tadi ketika saya membeli tiket kereta api di stasiun, saya lihat banyak turis wanita (dengan pakaian yang seronok). Mungkin sebab itulah kemudian saya menabrak batu di jalan. Harus banyak-banyak istighfar.”

Karena pelayanan di RS Sardjito yang terkenal lambat, akhirnya kami sepakat memindahkan beliau ke Jogjakarta International Hospital (JIH). Setibanya di JIH, saat hendak diperiksa oleh dokter jaga yang kebetulan perempuan, saya lihat beliau selalu menjaga pandangannya agar selalu menunduk.

Esok harinya Ustadz Musaddad harus menjalani operasi penyambungan pen di bahunya dan alih-alih ketakutan, beliau justru mengisahkan pengalaman para murid shahabat Rasulullah (tabi’in) saat hendak dioperasi tanpa bius. Ada sebagian mereka yang menolak dibius dan ‘cukup’ dengan membaca Al Quran. Sebagian lagi menolak dibius dan menjalani operasi dalam keadaan shalat.

Begitulah potret orang-orang yang shalih. Dalam kondisi darurat pun tetap selalu berusaha takwa kepada Tuhannya. Dekat dengannya seperti dekat dengan penjual minyak wangi. Kalaupun kita tak dapatkan minyak wangi, kita tetap bisa merasakan harum kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s