Sudah Lama ‘Ngaji’ Tapi Kok Pesta Pernikahannya Tidak Syar’i?

Tadi malam sehabis bubaran kelas fiqih PSDI, seperti biasanya saya ngobrol dengan ustadz kami. Ustadz bercerita bahwa ada salah satu murid pengajiannya yang besok akan menikah, namun ustadz tidak berkenan menghadiri pestanya, lantaran akan diselenggarakan secara tidak syar’i.

Lalu ustadz pun mengeluhkan fenomena yang banyak terjadi di kalangan orang yang sudah lama ‘ngaji’ tentang lemahnya mereka dalam mempertahankan idealisme agamanya di hadapan calon mertua ketika merencanakan pesta pernikahan.

Saat dia menikah, pestanya diselenggarakan dengan mencampur-baurkan tamu laki-laki dan perempuan, ada musiknya, mempelai wanitanya berdandan seronok, ada banyak wanita yang membuka auratnya di hadapan laki-laki bukan mahram, dipajang berdua dengan suami/istrinya di pelaminan, dan lain-lain. Padahal suami/istrinya pun dikenal alim dan shalih, bukan orang ‘abangan’.

Pesta pernikahan yang diselenggarakan secara tidak syar’i -oleh orang-orang yang notabene sudah memahami hukum-hukumnya- terjadi karena banyak sebab. Bisa jadi karena kedua mempelai tidak bisa memberikan pemahaman yang baik kepada kedua pihak orang tua tentang bagaimana penyelenggaraan pesta pernikahan yang syar’i.

Bisa juga karena paksaan orang tua (kalau tidak mau dibuat meriah, batal menikah), tidak punya biaya dan kuasa, atau memang karena lemahnya iman dan amalnya sehingga beranggapan “yaa sekali-kali ikhtilath nggak papa. Sekali-kali nyetel musik nggak papa. Sekali-kali didandani seronok nggak papa.”

Padahal, pernikahan adalah ‘starting point’ seseorang dalam memulai mahligai rumah tangga. Bagaimana mungkin rumah tangganya akan berlanjut ‘sakinah mawaddah warahmah’ jika belum apa-apa sudah diawali dengan melanggar larangan Allah tanpa risih di hadapan ribuan tamu undangannya? Bagaimana mungkin seseorang akan berusaha menjadi menantu yang shalih di hadapan mertua, jika disuruh bermaksiat mau-mau saja dengan alasan ‘nggak enak’, ‘terpaksa’, ‘daripada nggak jadi menikah’.

Pesta pernikahan itu mubah. Boleh-boleh saja diselenggarakan. Jangan sampai perbuatan yang mubah membuat kita sampai melakukan perbuatan yang haram. Apalagi di momen-momen bersejarah seperti menikah. Jangan sampai rumah tangga yang diharapkan darinya ada sakinah, mawaddah, warahmah diawali dengan melanggar larangan Allah di hari pertamanya. Jangan sampai pula seorang calon menantu kehilangan kewibawaan mempertahankan idealisme agamanya di hadapan mertua.

Solusinya, berilah pemahaman yang baik kepada keluarga calon istri/suami jauh-jauh hari. Atau agar lebih bisa mengontrol, seluruh biaya pernikahan ditanggung sendiri. Toh kedua mempelai yang menjalani.

Semoga kita semua dihindarkan oleh Allah dari menyelenggarakan pesta pernikahan yang tidak syar’i. Dan semoga nantinya jika saya menikah, saya tidak termakan omongan sendiri. Amiin.

2 thoughts on “Sudah Lama ‘Ngaji’ Tapi Kok Pesta Pernikahannya Tidak Syar’i?

  1. gini yaa… sy tau kmu “ikhwan salafi” dan sy juga termasuk dr salafi keluarga sy salafi semuanya , pernyataan kmu itu salah, klo orng tua blm paham dan mau mengadakan pesta untuk anaknya menikah dan maunya kehendak orng tua yg bukan “syar’i” kt kmu td, apakah berani melawan ortu? klo ortu blm paham dan keras kepala biarkan sj ikuti saja kemuannya, dr pd batal nikah? klo kita sdh jelaskan k ortu dan ttp saja ortu tdk mengerti kita serahkan segala sesuatunya kpd Allah krn kita tlh menasihati ortu tp mrk ttp sj keras kpl, ridho ortu itu ridho Allah, klo blm menikah sj sdh melawan ortu dlm mslh sepele gini, gmn nnt klo udh menjalani rmh tangga? sy sebal dngn ikhwan&akhwat salafi mrk kaku2, sy akhwat salafi, pke jilbab lebar, ayah sy celana cingkrang tp sy sebaal dngn salafi, knp mrk kaku sekali, sy orng nya free sprti ya sy tertekan dngn manhaj ini, klo memang islam ya islam sj tdk usah manhaj salaf/ ini lah itu lah.. wasalam!!

  2. ingat selalu firman Allah dalam Surat Ath Thalaq, mbak: “barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya akan diberi jalan keluar.”

    Permasalahan perniakhan yang tidak syar’i bukanlah masalah sepele. Tidak ada masalah sepele dalam kompromi dengan pelanggaran syari’at, apalagi pelakunya sudah mengenal dakwah Al Qur’an dan Sunnah.

    Jika orang tua menentang dan belum memahami masalah prinsip agama ini, solusi praktisnya adalah dengan menanggung biaya pernikahan semuanya oleh kedua mempelai.

    Terserah mau dibilang kaku, keras, fanatik..apa yang disampaikan hanyalah dalam rangka usaha kita menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa. Semoga Allah memberi taufiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s