Ketentuan Jama’ Shalat Ketika Hujan

Pertanyaan:

عند نزول المطر نرى اختلاف الناس في الجمع بين المغرب والعشاء في المساجد. فماهو ضابط الجمع بين الصلاتين عند نزول المطر ؟

“Ketika turun hujan, kami melihat terjadi perbedaan di antara manusia dalam hal menjama’ shalat Maghrib dan ‘Isya’ di masjid-masjid. Bagaimana ketentuan yang benar dalam menjamak dua shalat ketika turun hujan?”

Syaikh Sa’ad Al Khatslan -hafizhahullah- menjawab:

لايشرع الجمع بين الظهر والعصر وبين المغرب والعشاء عند نزول المطر إلا عند وجود الحرج والمشقة بترك الجمع ، ولما استسقى النبي صلى الله عليه وسلم في خطبة الجمعة مطر الناس أسبوعاكاملا ولم ينقل أنه صلى الله عليه وسلم كان يجمع طيلة أيام الأسبوع ، ومن علامة وجود المشقة أن يكون لنزول هذا المطر أثر في دنيا الناس فتقل حركة الناس والسيارات في الشوارع مثلا، وتغلق بعض المحلات التجارية بسب المطر ونحو ذلك

“Tidaklah disyari’atkan menjama’ shalat Zhuhur Ashar dan Maghrib Isya’ kecuali akan timbul kesulitan dan halangan jika tidak menjama’ shalat. Dahulu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ber-istisqa’ (memohon hujan) ketika khutbah Jum’at, kemudian hujan selama seminggu. Namun tidak ada nukilan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjama’ shalat terus menerus setiap hari selama satu minggu penuh.

Dan termasuk tanda kesulitan atau halangan yang membolehkan menjama’ adalah turunnya hujan sampai membuat orang-orang sedikit keluar rumah, sedikitnya mobil yang hilir mudik di jalan-jalan, hingga sebagian toko tutup, dan yang semisal itu disebabkan turunnya hujan tersebut.”

~Diterjemahkan oleh @mnmfadly dari http://www.saad-alkthlan.com/text-814

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s