George, who Celebrates Adha Eid [A Must Read & Must Share Story]

Let’s read the story of George, who celebrates Adha Eid

George is an American man who is over 50 years old. He lives in Washington with his wife, his son & his daughter.

When Dhul Hijja was coming near, George started to catch the news to know when Dhul Hijja will start exactly. He watched the TV, his wife listened to the radio & his son surfed the internet and checked some Islamic sites.

When they knew when Dhul Hijja would start, they prepared themselves for Adha Eid which is on the 10th of Dhul Hijja.

On the second day, they went & bought a sheep (according to Islamic rulings) to slaughter it on the first day of Eid.

They took the sheep in their car, and on the way, the little girl was expressing her joy of having Eid. She was happy that she’ll wear her new dress & go with her peers to play. She wished that all days are Eid.

When they got home, the wife told George: “I’ve read that we should cut the sheep into three parts (according to Sunnah of the Prophet Mohammad – Peace & Blessings be Upon Him). We should give the first part to the poor, second part to our neighbors (Elizabeth, David & Mark) and the third is ours.” Baca lebih lanjut

Iklan

[Edisi Relawan] Mengapa Saya Menjadi Freelancer

Sejak seminggu yang lalu  saya  sibuk mencari donasi ke teman-teman saya yang ada di berbagai kota untuk disalurkan ke pengungsi-pengungsi korban Merapi. Pertanyaan yang sering diajukan itu umumnya, “Kamu di bawah koordinasi siapa, Fad?” atau “Kamu jadi relawan di posko mana, Fad?”. Seringkali saya bingung hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena saya tidak mewakili siapapun dan apa yang saya lakukan murni berasal dari inisiatif saya pribadi, tanpa komando, tanpa embel-embel organisasi/lembaga manapun. Baca lebih lanjut

[Edisi Relawan] Setengah Jam di Boyolali

Malam ini (10/11), seperti biasanya saya kembali menyalurkan bantuan dari kawan-kawan saya yang menyumbangkan donasinya untuk para pengungsi Merapi. Kali ini tujuannya adalah Boyolali, tepatnya di dusun Candisari, desa Ngegek, kecamatan Ampel. Mengapa? Karena berdasarkan informasi yang saya dapat dari akun twitter jalinmerapi, pengungsi di sana tidak tersentuh bantuan. Definisinya macam-macam, ada yang kekurangan, atau bahkan sejak Jum’at yang lalu sama sekali tidak menerima bantuan apapun.

Saya berangkat bersama dua kawan saya dengan memakai mobil pinjaman. Dengan membawa logistik senilai satu juta rupiah berupa kebutuhan-kebutuhan yang sudah kami catat sebelumnya, kami bertolak dari Yogyakarta sekitar jam 22.00, dan tiba di tempat tujuan sekitar tengah malam. Medannya agak berat, karena jalanan yang menanjak ke arah pengunungan. Saya disambut oleh bapak-bapak yang sedang duduk di teras rumah kecil yang dijadikan posko. Tanpa basa-basi, saya pun langsung memberikan bantuan yang saya bawa dari Jogja, berupa sembako,bumbu dapur, susu bayi, dan alat-alat kebersihan lainnya. Setelah semua barang telah diturunkan dari mobil, saya dan kawan-kawan sempat mengobrol sejenak untuk mengetahui kondisi pengungsi di desa ini. Baca lebih lanjut

[Edisi Renungan] Memahami Arti Merapi

Sabtu pagi yang lalu (30/10) semua orang pada heboh. Gimana nggak, jalanan di jogja diselimuti debu vulkanik hasil hujan abu dini harinya. Apotek langsung diserbu orang-orang yang pada mau beli masker. Itu yang kedua kalinya Merapi beraktivitas sangat agresif sejak selasa (26/10) lalu. Dan sekarang walaupun udah gak hujan abu lagi, efeknya masih terasa. Tadi pagi aja jam 10.10 juga Merapi melepaskan wedhus gembelnya lagi.

Kemaren sabtu saya bener-bener merasa tersiksa. Gak cuma saya sih sebenernya, orang-orang juga, pada sesek napas lah, bersin-bersin lah, alergi debu lah. Ya, alergi debu. Penyakit yang baru beberapa bulan ini saya sadari hinggap dalam tubuh saya. Kontan, sabtu kemaren adalah hari di mana saya bersin-bersin sepanjang hari. Selesai ujian tengah semester, saya langsung capcus pulang ke rumah karena kepala pusing dan hidung bersin-bersin gak keruan. Baca lebih lanjut

[Edisi Mahasiswa] Agar Menjadi Guru Les yang Sukses

Sebenarnya judul tulisan ini kayaknya sedikit mengada-ada dehh.  Mana ada guru les yang hidup sukses ? Di mana-mana juga yang namanya guru les, apalagi mahasiswa, itu sebuah pekerjaan sampingan, paruh waktu. Dan berdasarkan teori kewirausahaan (iih, apaan sih?), tidak ada seseorang yang sukses jika hanya melakoni sebuah pekerjaan di paruh waktunya. hahaha. Jadi, kalau mau bisnis, ya harus sepenuh waktu, bukan separuh. 😀

Okey okey. Mari kita masuki topik yang akan saya tulis di kesempatan kali ini. Menjadi guru les. Guru les yang saya maksud adalah guru les privat. Pekerjaan ini banyak dlakoni para mahasiswa yang berusaha hidup mandiri. Tapi, saya beberapa kali menemui kawan-kawan saya yang justru desperado (kata ini artinya putus asa kan yah ?) saat terjun dalam dunia privat-privatan. Kok bisa yah, padahal khan enak lho bisa dapet uang sendiri. Tanya kenapa ?

Bagi seorang mahasiswa, saya contohnya, menjadi guru les privat itu adalah pekerjaan pilihan yang, paling tidak, lebih baik daripada pekerjaan yang mampu dilakukan seorang mahasiswa. Kenapa ? Karena menjadi guru privat itu tidak terlalu menyita waktu, manajemen keuangan sendiri (duitnya langsung ke kantong), melatih kemandirian, atau menjalin relasi kerja, atau mungkin mencari calon mertua. hahaha. (alasan yang terakhir ini patut dicoba).

Baca lebih lanjut

Berganti Aliran

Haha. Mungkin sudah banyak orang yang bosan melihat blog saya yang sudah 1 bulan lebih tidak pernah update. Maklumlah, banyak yang bikin saya jadi males update. Sok sibuk lah, sok gak ada ide lah, sok maunya yang berkualitas lah, dan sok-sok-an yang lainnya. Intinya, blog ini agak mampet dikit. Selain karena kegiatan sehari-hari yang menyita waktu,  masalah pribadi yang tak kunjung usai pun menjadi penyebab kenapa saya berhenti blogging (lebih baik saya tulis blogging saja yah, daripada memaksakan diri dengan  bahasa “nge-blog” :D). Untuk yang satu ini, saya memohon maaf bagi para blogwalker semuanya.

Oke oke. Bagi yang selama ini mengikuti perkembangan blog saya (kalo gak salah umur blog saya ini hampir  2 tahun), tulisan saya memang diarahkan untuk memotivasi dan menginspirasi para pembaca setia saya (emang ada yang setia ?).  Mencoba inspiratif, memberi motivasi, kritis, analitis, dan istilah-istilah yang kedengarannya ilmiah lainnya,  dengan gaya bahasa yang baku, serius, atau apalah. Kesannya saya gak bisa becanda apa yah? hahaha. Namun, apa jadinya kalau si empunya blog justru bukanlah sosok yang inspiratif? Maka Anda dapat lihat akibatnya pada blog ini yang mati suri. Ya kan ? Baca lebih lanjut

Cara Belajar Yang Baik Untuk Ujian

1. Belajar Kelompok

Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut Baca lebih lanjut