Kisah Jin dan Sandal Imam Ahmad bin Hanbal

Ada sebuah kisah dalam kitab Thabaqat Al Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la bahwa suatu hari Al Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- sedang berada di masjid. Kemudian datanglah khalifah Al Abbas Al Mutawakkil kepada beliau memberitahukan bahwa ada kerabatnya yang bernama Jariyah, kerasukan jin.

Khalifah Al Mutawakkil meminta Al Imam Ahmad -rahimahullah- untuk berdoa kepada Allah agar kerabatnya diberi kesembuhan. Setelah berdoa, Al Imam Ahmad -rahimahullah- menitipkan sandalnya lalu beliau berkata:

Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah-kisah Teladan Para Ulama dalam Menuntut Ilmu Agama

Kisah-kisah nyata berikut ini sebagian besar disarikan dari kitab alMusyawwaq ilal Qiro-ah wa tholabil ‘ilm karya Ali bin Muhammad al-‘Imran.

1. KESABARAN DAN KESUNGGUHAN MENUNTUT ILMU

Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku berjalan bertelanjang kaki di panas terik matahari dan tidak berkendaraan dalam menuntut ilmu hadits sambil memanggul kitab-kitab di punggungku

2. BELAJAR SETIAP HARI

Al-Imam anNawawy setiap hari membaca 12 jenis ilmu yang berbeda (Fiqh, Hadits, Tafsir, dsb..)

3. MEMBACA KITAB SEBAGAI PENGUSIR KANTUK

Ibnul Jahm membaca kitab jika beliau mengantuk, pada saat yang bukan semestinya. Sehingga beliau bisa segar kembali.

Baca lebih lanjut

Aib-aib Anda Terbongkar? Teladanilah Sikap Umar

Jika aib-aib Anda diketahui oleh orang lain, jangan buru-buru marah, resah, apalagi gelisah. Itu artinya Allah masih memberikan kesempatan kepada Anda untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan Anda.

Teladanilah sikap Umar bin Khattab -radiyallaahu anhu- saat orang-orang memberitahukan padanya kesalahan-kesalahannya, ia berkata:

رحم الله امرئ أهدى إلي عيوبي

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukan padaku aib-aibku.”

Sikap Umar bin Khattab -rahimahullah- ini juga memberikan teladan kepada kita manakala mengetahui kesalahan-kesalahan orang, beritahukanlah langsung pada yang bersangkutan secara personal agar ia bisa.memperbaiki diri, bukan malah disebarkan kepada orang lain dengan dalih sebagai peringatan/tahdzir.

Sudah Menikah Tapi Jadi Malas Beribadah?

Tidak diragukan lagi bahwa menikah merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan. Mengapa disebut ibadah? Karena jika dilakulan sesuai tuntunan, menikah akan menjadikan seseorang sepatutnya semakin dekat dengan Allah.

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi -rahimahullah- dalam kitab beliau Aisarut Tafasir, ketika menjelaskan mengenai firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS Ar-Ruum: 21].

Beliau -rahimahullah- menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan yang sangat jelas itu membuat kita berpikir bahwa itu merupakan petunjuk atas kekuasaan Allah, ilmu-Nya, dan rahmat-Nya.

Dan pengetahuan akan semua itu penting untuk mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya, dan mentaati-Nya, dengan melaksanakan apa yang Dia sukai dan meninggalkan apa yang Dia benci..

Sudah seharusnya orang yang sudah menikah, dengan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah ini, harusnya semakin mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, semakin semangat beribadah kepada Allah, semakin rajin berlajar agama, dan hal-hal lain yang berupa kebaikan.

Pun, seseorang yang sudah menikah tingal menanggung separuh “beban” agama. Beban berupa godaan syahwat dan perut telah ia penuhi dengan menikah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”
(HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Lihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi. Kenapa bisa dikatakan demikian?

Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah.

Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

Al Mula ‘Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “bertakwalah pada separuh yang lainnya”, maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.

Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, “Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”

Namun ada pasangan suami istri yang justru semakin jauh dari ketaatan setelah menikah. Dahulu sewaktu masih lajang ia rajin ke masjid, banyak menghafal Al Qur’an, selalu hadir di majelis-majelis ilmu, semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah, namun setelah menikah justru tak nampak lagi batang hidungnya di masjid, hafalan Qur’an pun tersisa sedikit, majelis ilmu terasa asing dalam rutinitasnya.

Menikah membuatnya sibuk dalam pusaran kehidupan dunia. Membuatnya tak sempat lagi merasakan nikmatnya sujud menghadap Tuhannya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana agar ia dan anak-istrinya bisa makan. Rutinitasnya tak ubahnya seperti kambing yang setiap hari dilepas ke padang rumput. Hanya memikirkan perut.

Inilah yang jarang dipertimbangkan kebanyakan orang. Hanya memikirkan yang enak-enak saja dari pernikahan. Makan ada yang masakin, pergi ada yang nyariin, dan tidur ada yang nemenin. Ia lupa tujuan utama dari pernikahannya. Yakni sempurna separuh agamanya.

Pilihannya menikah sepatutnya membuat pribadinya semakin baik. Semakin menjadi hamba Allah yang shalih. Bukan malah rumah tangganya memalingkannya dari semangat mengamalkan perintah agama. Alih-alih semakin sempurna agamanya, rumah tangganya justru menjadi salah satu ujian terberatnya dalam hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” ~Al Munafiquun: 9

Sudah sepatutnya bagi kita semua  selalu mengharap taufik kepada Allah agar rumah tangga kita menjadi bahtera yang mengantarkan kita ke dermaga ketaatan. Anak istri kita menjadi cahaya mata yang menuntun pandangan kita kepada jalan agama Allah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Kisah Syuraih bin Harits al Kindi, Seorang Hakim yang Adil

Suatu hari Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berharga baginya. Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafir dzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah. Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata, “Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, i tempat anu.”
Lalu kafir Dzimmi itu berkata, “Ini adalah baju besiku dan sekarang ada di tanganku, wahai Amirul mu’minin.”Lalu Ali berkata,“Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu.”

Lalu orang kafir itu berkata, “Mari kita putuskan melalui seorang Hakim kaum Muslimin.”Lalu Ali berkata, “Kamu benar, mari kita ke sana.”Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanya telah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali, “Ada apa wahai Amirul mu’minin?.”

Lalu Ali menjawab, “Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu. Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah.”

Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu, “Dan apa jawabmu, wahai orang laki-laki?.”
Lalu dia menjawab, “Baju besi ini adalah milikku dan ia ada di tanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu’minin berdusta.”Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata,“Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul mu’minin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang anda klaim tersebut.”

Lalu Ali berkata, “Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akan bersaksi untukku.”
Maka Syuraih berkata,“Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirul mu’minin.”
Lalu Ali berkata, “Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya!! Apakah anda tidak mendengar bahwasanya Rasulullah bersabda, “al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemuda ahli surga.”

Lalu Syuraih berkata, “Benar wahai Amirul mu’minin! namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya.”Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata,“Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya.”Maka kafir Dzimmi itu berkata,“Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul mu’minin.”

Kemudian dia meneruskan perkataannya,“Ya Allah! Kok ada Amirul mu’minin menggugatku di hadapan hakim yang diangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkaraku terhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah.”
Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirul mu’minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin (Suatu daerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali dan Muawiyah ) lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarna abu-abu, lalu memungutnya.”

Maka Ali berkata kepadanya,“Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu, dan aku memberimu juga seekor kuda.”

Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukan mati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawah bendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalam berperang hingga dia mati syahid.”

~Disalin dari buku “Mereka Adalah Tabi’in” karya Syaikh Muhammad Rafat Basya’

Teladanilah Dzulqarnain

Sesukses apapun pencapaian hidup Anda sekarang dan sekeras apapun perjuangan Anda meraihnya, yakinilah bahwa itu semata-mata karena rahmat dari Allah saja.

Teladanilah Dzulqarnain. Yakni saat ia telah sukses membangun tembok besi setinggi gunung, ia pun berucap penuh syukur:

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. ~Al Kahfi:98

Janganlah seperti Qarun. Manakala dirinya sukses mengumpulkan harta, dia berucap penuh sombong:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. ~Al Qashash:78

Lalu Allah tenggelamkan Qarun bersama seluruh hartanya ke dalam perut bumi. Tak ada gunanya harta yang selama ini ia banggakan.

Setinggi apapun posisi Anda sekarang, Allah akan dengan mudah mengambilnya dari tangan Anda.