[Edisi Lebaran] Ternyata Selama Ini Kita Salah Memaknai ‘Iedul Fithri!

Dalam kesemarakan dan kesyahduan Idul Fitri banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui maknanya, dan yang selainnya ternyata justru mengetahuinya dengan pengetahuan yang salah. Sebagai amanat ilmiah untuk menempatkan pemahaman yang penting ini pada tempatnya, meluruskan kesalah-kaprahan yang turun-temurun dan dalam rangka menasihati kaum muslimin maka kami susun tulisan ini.

  1. I. Definisi Idul Fitri
  2. a. Tinjauan Bahasa Arab (Etimologis)

Idul Fitri (transliterasi yang lebih tepat sebenarnya ‘Îdul Fithri, dan karenanya, itulah yang akan digunakan selanjutnya dalam tulisan ini, -ed.) adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata, ‘Îd dan Al-Fithru. Lafazh ‘Îd berasal dari kata âda ya‘ûdu yang artinya ‘kembali’ atau ‘seakan-akan mereka kembali kepadanya.’ Dan ada yang mengatakan bahwa pecahan katanya dari al-‘âdah, yang artinya ‘karena mereka membiasakannya.’ Bentuk jamaknya, a’yâd. Dikatakan, ‘ayyâdal muslimûn, artinya, “Mereka menghadiri hari raya mereka.” Sedangkan Al-Fithru artinya ‘berbuka dari puasa’ (Lihat: Al-Mu’jamul Wasîth).

Ibnul A’rabî mengatakan, “Hari raya dinamakan ‘îd karena kegiatan itu kembali datang pada tiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru.” (Lisânul ‘Arab: 3/319). Baca lebih lanjut

Hingar Bingar Perayaan Sekaten di Jogja

masjid_agungSudah sejak sebulan yang lalu, kawasan alun-alun utara kota Jogja dipenuhi oleh ramainya pengunjung Pasar Sekaten tiap malam. Ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang datang membanjiri Pasar Malam untuk “menghibur diri “ dan bersenang-senang. Tak peduli tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, semuanya bercampur baur menjadi satu larut dalam gemerlapnya Pasar Malam Sekaten. Saya pun yang awalnya acuh tak acuh (ada beberapa alasan tentangnya) menjadi sedikit “peduli” dengan hiruk pikuk orang-orang yang hilir mudik kesana. Maklum saja, saya tinggal di sebuah rumah kost yang letaknya kurang lebih hanya 200 meter di sebelah barat alun-alun utara kota Jogja. Sehingga mau tidak mau saya pun harus ikut merasakan “dampak” dari “wabah” ramainya pengunjung Pasar Malam Sekaten. Selain dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Penghematan Nasional (Hari raya-nya anak kost), alasan saya untuk cuek dengan keramaian Pasar Malam itu lebih ke alasan prinsip (Idealist mode : ON).

Pasar Malam Sekaten merupakan event tahunan yang diadakan oleh masyarakat Jogja dan sekitarnya untuk menyambut hari Sekaten (Maulud Nabi Muhammad). Kendati berdasarkan kalender “Peringatan” Maulud Nabi Muhammad jatuh pada tanggal 9 Maret, namun gegap gempita Pasar Malam itu dapat dirasakan sejak sebulan yang lalu. Ibarat orang bilang, puncak perayaan Sekaten tinggal menghitung hari saja. Dan jika sekarang banyak orang Jogja bersiap menyambut perayaan “warisan nenek moyang” tersebut, maka berbeda halnya dengan saya. Saya justru tidak terpengaruh dengan hingar bingar perayaan menyambut hari suci nan sakral milik orang Jogja ini.

Baca lebih lanjut