Kisah Mujahidin yang Murtad Akibat Tergoda Wanita

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Al Bidayah wa An Nihayah:

 

في سنة ثمان وأربعين ومائتين توفى عبده بن عبد الرحيم قبحه الله وكان هذا الشقي من المجاهدين كثيراً في بلاد الروم!

 

فلما كان في بعض الغزوات والمسلمون محاصرو البلدة من بلاد الروم,إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن

 

Di tahun 247 H, telah wafat seseorang yang bernama Abduh bin Abdurrahim -semoga Allah membinasakannya-. Dia adalah mantan pasukan yang berjihad di negeri Romawi.

 

Suatu ketika di salah satu penyerbuan pasukan umat Islam di suatu daerah yang termasuk bagian negeri Romawi, Abduh bin Abdurrahim melihat seorang gadis Romawi dari atas bentengnya.

 

فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت:إن تتنصر وتصعد إلى!

فأجابها إلى ذلك!

Kemudian ia berkata kepada gadis itu:

 

“Bagaimanakah caranya agar aku bisa memilikimu?”

 

Gadis itu menjawab:

“Jika engkau masuk agama Nasrani, barulah engkau bisa memilikiku.”

 

Kemudian Abduh bin Abdurrahim menerima syarat tersebut dengan menjadi Nasrani -na’udzubillahi min dzalik-

 

فما راع المسلمون إلا وهو عندها؟ فاغتم المسلمون بسبب ذلك غماً شديداً,وشق عليهم مشقة عظيمة فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا :

 

يافلان ما فعل قرآنك؟مافعل عملك؟ما فعل صيامك؟ ما فعل جهادك؟

 

Tidaklah pasukan umat Islam melakukan penyerbuan, kecuali mereka mendapati Abduh bin Abdurrahman sedang bersama gadis tersebut. Melihat Abduh bin Abdurrahim terlena dengan gadis pujaannya, pasukan umat Islam menjadi sedih dengan kesedihan yang mendalam. Suatu saat dalam sebuah peperangan yang dahsyat, pasukan umat Islam melewati tempat Abduh bin Abdurrahim dan mereka mendapati ia sedang bersama gadisnya di dalam bentengnya. Pasukan umat Islam berkata:

 

“Wahai Fulan, apa yang telah engkau perbuat dengan bacaan Al Qur’anmu? Apa yang telah engkau perbuat dengan amal-amalmu? Apa yang telah engkau perbuat dengan puasamu? Apa yang telah engkau perbuat dengan jihadmu?”

 

 

قال : اعلموا أنى نسيت القران إلا قوله

 

” ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلههم الأمل فسوف يعلمون”

 

وقد صار لي فيهم مال وولد؟!”

 

البداية والنهاية لابن كثير 11/68

 

Abduh bin Abdurrahim berkata:

“Ketahuilah! Sungguh aku telah lupa bacaan Al Qur’an kecuali firmanNya:

 

“Orang-orang yang kafir itu nanti di akhirat menginginkan, kiranya mereka dahulu di dunia menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong, kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka.” ~Al Hijr 2-3

 

“Dan aku telah mendapatkan harta serta anak keturunan dari mereka orang-orang Nasrani.”

 

~Al Bidayah wa Nihayah 11/68, diterjemahkan oleh @mnmfadly

 

Kita berlindung kepada Allah dari kemurtadan dan kita memohon agar istiqomah sebagai muslim sampai akhir hayat.

Iklan

Salah Kaprah Maw’idzhatul Hasanah

Dalam berbagai kesempatan, jika seseorang diminta menyampaikan ceramah, dia menyebutnya sebagai َالْمَوْعِظَةِ الْحَسَن yang diartikan pengajaran yang baik seperti dalam surah An Nahl:125.

Ia tidak peduli pada isi ceramah yang disampaikannya. Entah sekadar berbagi kisah, cerita politik, atau hanya cerita ngalor-ngidul yang dikait-kaitkan dengan urusan agama.

Padahal, menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam menafsirkan makna َالْمَوْعِظَةِ الْحَسَن adalah:

Baca lebih lanjut

Berubah Kafir dalam Sehari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap.

Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir.

Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” ~HR. Muslim

Pelajaran dari hadits tersebut setidaknya ada dua:
Baca lebih lanjut

Aib-aib Digital

Jika Anda punya banyak aib-aib di masa lalu dan sekarang sudah berubah namun semua itu masih tercantum di internet, segaralah lakukan ‘track back’ dan hapus satu persatu. Jangan biarkan facebook, twitter, wordpress, blogspot, atau yang lain tetap menyimpan memori kelam Anda dengan rapi, bahkan sepeninggal Anda mati.

Contohnya para wanita muslimah yang sekarang sudah berjilbab, segera hapus foto-foto seronok Anda di masa lalu yang pernah dipajang di manapun di internet ini. Atau foto-foto bersama mantan pacar, posting-posting alay, dan jejak-jejak buruk yang lainnya.

Baca lebih lanjut

Kisah Jin dan Sandal Imam Ahmad bin Hanbal

Ada sebuah kisah dalam kitab Thabaqat Al Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la bahwa suatu hari Al Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- sedang berada di masjid. Kemudian datanglah khalifah Al Abbas Al Mutawakkil kepada beliau memberitahukan bahwa ada kerabatnya yang bernama Jariyah, kerasukan jin.

Khalifah Al Mutawakkil meminta Al Imam Ahmad -rahimahullah- untuk berdoa kepada Allah agar kerabatnya diberi kesembuhan. Setelah berdoa, Al Imam Ahmad -rahimahullah- menitipkan sandalnya lalu beliau berkata:

Baca lebih lanjut

Kisah-kisah Teladan Para Ulama dalam Menuntut Ilmu Agama

Kisah-kisah nyata berikut ini sebagian besar disarikan dari kitab alMusyawwaq ilal Qiro-ah wa tholabil ‘ilm karya Ali bin Muhammad al-‘Imran.

1. KESABARAN DAN KESUNGGUHAN MENUNTUT ILMU

Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku berjalan bertelanjang kaki di panas terik matahari dan tidak berkendaraan dalam menuntut ilmu hadits sambil memanggul kitab-kitab di punggungku

2. BELAJAR SETIAP HARI

Al-Imam anNawawy setiap hari membaca 12 jenis ilmu yang berbeda (Fiqh, Hadits, Tafsir, dsb..)

3. MEMBACA KITAB SEBAGAI PENGUSIR KANTUK

Ibnul Jahm membaca kitab jika beliau mengantuk, pada saat yang bukan semestinya. Sehingga beliau bisa segar kembali.

Baca lebih lanjut

Aib-aib Anda Terbongkar? Teladanilah Sikap Umar

Jika aib-aib Anda diketahui oleh orang lain, jangan buru-buru marah, resah, apalagi gelisah. Itu artinya Allah masih memberikan kesempatan kepada Anda untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan Anda.

Teladanilah sikap Umar bin Khattab -radiyallaahu anhu- saat orang-orang memberitahukan padanya kesalahan-kesalahannya, ia berkata:

رحم الله امرئ أهدى إلي عيوبي

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukan padaku aib-aibku.”

Sikap Umar bin Khattab -rahimahullah- ini juga memberikan teladan kepada kita manakala mengetahui kesalahan-kesalahan orang, beritahukanlah langsung pada yang bersangkutan secara personal agar ia bisa.memperbaiki diri, bukan malah disebarkan kepada orang lain dengan dalih sebagai peringatan/tahdzir.