Sudah Menikah Tapi Jadi Malas Beribadah?

Tidak diragukan lagi bahwa menikah merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan. Mengapa disebut ibadah? Karena jika dilakulan sesuai tuntunan, menikah akan menjadikan seseorang sepatutnya semakin dekat dengan Allah.

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi -rahimahullah- dalam kitab beliau Aisarut Tafasir, ketika menjelaskan mengenai firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS Ar-Ruum: 21].

Beliau -rahimahullah- menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan yang sangat jelas itu membuat kita berpikir bahwa itu merupakan petunjuk atas kekuasaan Allah, ilmu-Nya, dan rahmat-Nya.

Dan pengetahuan akan semua itu penting untuk mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya, dan mentaati-Nya, dengan melaksanakan apa yang Dia sukai dan meninggalkan apa yang Dia benci..

Sudah seharusnya orang yang sudah menikah, dengan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah ini, harusnya semakin mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, semakin semangat beribadah kepada Allah, semakin rajin berlajar agama, dan hal-hal lain yang berupa kebaikan.

Pun, seseorang yang sudah menikah tingal menanggung separuh “beban” agama. Beban berupa godaan syahwat dan perut telah ia penuhi dengan menikah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”
(HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Lihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi. Kenapa bisa dikatakan demikian?

Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah.

Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

Al Mula ‘Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “bertakwalah pada separuh yang lainnya”, maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.

Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, “Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”

Namun ada pasangan suami istri yang justru semakin jauh dari ketaatan setelah menikah. Dahulu sewaktu masih lajang ia rajin ke masjid, banyak menghafal Al Qur’an, selalu hadir di majelis-majelis ilmu, semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah, namun setelah menikah justru tak nampak lagi batang hidungnya di masjid, hafalan Qur’an pun tersisa sedikit, majelis ilmu terasa asing dalam rutinitasnya.

Menikah membuatnya sibuk dalam pusaran kehidupan dunia. Membuatnya tak sempat lagi merasakan nikmatnya sujud menghadap Tuhannya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana agar ia dan anak-istrinya bisa makan. Rutinitasnya tak ubahnya seperti kambing yang setiap hari dilepas ke padang rumput. Hanya memikirkan perut.

Inilah yang jarang dipertimbangkan kebanyakan orang. Hanya memikirkan yang enak-enak saja dari pernikahan. Makan ada yang masakin, pergi ada yang nyariin, dan tidur ada yang nemenin. Ia lupa tujuan utama dari pernikahannya. Yakni sempurna separuh agamanya.

Pilihannya menikah sepatutnya membuat pribadinya semakin baik. Semakin menjadi hamba Allah yang shalih. Bukan malah rumah tangganya memalingkannya dari semangat mengamalkan perintah agama. Alih-alih semakin sempurna agamanya, rumah tangganya justru menjadi salah satu ujian terberatnya dalam hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” ~Al Munafiquun: 9

Sudah sepatutnya bagi kita semua  selalu mengharap taufik kepada Allah agar rumah tangga kita menjadi bahtera yang mengantarkan kita ke dermaga ketaatan. Anak istri kita menjadi cahaya mata yang menuntun pandangan kita kepada jalan agama Allah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

[Edisi Bujangan] Saya Bermimpi Menikah

Bismillaah

Untukmu sang Bunga MawarMasih dalam suasana “Happy Family Syndrome” yang sekarang ini sedang mewabah di kalangan pemuda-pemuda masjid, abisnya kalau ketemu sesama jomblowan, hahahaha, pasti ujung-ujungnya akan berakhir pada sebuah pertanyaan  “udah ada rencana buat nikah ?” atau kalau yang udah duluan nikah, pasti bakalan pamer dengan bilang “makanya, cepetan nikah!” (kalau untuk yang terakhir ini, saya cuma bisa mengelus dada sambil ngebayangin indahnya orang menikah)”. Hahay. Okey okey, yang namanya obrolan menikah, selalu saja menarik, apalagi buat saya yang sudah tidak muda lagi (baca: single, ganteng, dan memesona) hahahaha. Paling tidak, di usia saya yang menginjak kepala dua ini (21 tahun per 23 Juli 2010),  saya harus memiliki rencana untuk mempersiapkannya. Ya, ganteng-ganteng gini saya juga masih normal, punya impian bahwa saya akan menikah kelak. Sehingga perlu lah kiranya dibuat rencana-rencana agar saya menjadi lebih termotivasi meraihnya. Ya kan ?

Di usia saya yang tidak muda lagi, godaan berupa perempuan ternyata lebih dahsyat dari apa yang saya rasakan ketika masih bau kencur dulu.  Dulu, contohnya saat SMA, kalau ada perempuan yang memenuhi kriteria, belum ada tuh namanya pikiran mau menikahinya atau enggak. Tapi sekarang, ngeliat yang cantik dan shalihah sedikit aja langsung mikir : “Apa saya mampu jadi suaminya yah? Apa dia mau sama saya yah ? Apa yang harus saya persiapkan ya? Kapan saatnya yang tepat ? Di mana ? Bagaimana kalau dia menolak ? Wahh.. pokoknya seringkali bikin pusing dahhh…. Hehehehe. Anda pun pasti bisa menambahkan pertanyaan yang lebih banyak dari itu.

Baca lebih lanjut

[Edisi Bujangan] Gadis-gadis Penghafal Qur’an

Bismillaah

Hmm. Judulnya bikin merem melek yah ? (atau perasaan saya saja?). Ya ya lah, obrolan tentang gadis, apalagi yang ngebahas itu laki-laki bujangan seperti saya, bakalan gak ada habisnya. Di usia saya yang bukan remaja lagi 😀 , tema perjodohan memang menjadi tema obrolan yang paling asik dan menggelitik. Hahay. Tapi ya sudah, namanya juga laki-laki, doyan sama perempuan.  Terus, apa hubungannya dengan tulisan saya kali ini ? Baiklah , mari kita kembali ke laptop. 😛

Jadi begini, saya tiap hari lewat di sebuah asrama khusus putri. Karena kebetulan lokasinya hanya sekitar 100 meter dari kos-kosan saya di Kauman, Yogyakarta. Mau gak mau, tiap saya pulang dari kampus, berangkat ke kampus, atau keluar kandang mencari apapun itu, saya pasti melewati asama putri  itu. Asrama putri apa? Gak gedhe-gedhe banget sih, cuma dihuni sekitar 20 orang gadis. Tapi, yang bikin saya takjub itu lhoh, kerjaan mereka dari waktu ke waktu cuma ngehafalin Qur’an. Padahal usia mereka masih pada remaja, antara 10 sampe 18 tahun. Apa gak hebat tuh ? Baca lebih lanjut

[Kisah Tabi’in] Rabi’ah bin Farrukh dan Ayahnya

Tersebutlah ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy, gubernur Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah bersama budaknya yang pemberani, Farrukh.

Setelah Allah memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di Balik Sungai itu.

Ar-Rabi’ bin Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.

Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan penghormatan.

Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.

Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh, mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.

Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah negeri Cina dan kerajaan Shughd. Baca lebih lanjut