Shalat Maghrib Bersama Fans JKT48

Ada pemandangan yang tidak biasa di mushola saya malam ini. Saat hujan deras, biasanya mushola tempat saya biasa sholat itu sepi, kali ini tidak. Saat saya datang, mushola sudah dipenuhi para ABG-ABG berkaos merah yang duduk menanti iqomah. Dari tulisan di kaosnya, terlihat dengan jelas mereka itu fans JKT48 (Girlband/group vokal) yang manggung di alun-alun utara Jogja.

Mushola kami memang termasuk moshola kecil yang hanya bisa menampung 100an orang jamaah. Namun karena lokasinya yang dekat dengan alun-alun utara Jogja, saat ada acara di alun-alun, biasanya mendadak penuh sesak.

Saya lumayan kaget dibuatnya. ABG-ABG labil seperti mereka biasanya tidak lagi menghiraukan kewajiban shalat. Walaupun masih pakai kaos oblong, setidaknya pakaian mereka tidak sampai menyingkap aurat.

Alhamdulillaah sekarang sedang hujan deras. Semoga hujan deras menahan mereka tetap di mushola sampai Isya’, alih-alih joget-joget di alun-alun menyaksikan barisan paha wanita. Lebih dari itu, semoga mereka lekas diberi hidayah dan taufiq untuk menjadi pemuda-pemudi yang shalih dan shalihah serta tidak menyia-nyiakan masa muda dalam hal yang tidak berguna.

Rasa Indomie dan Tanda-tanda Hari Kiamat

Kemarin saat ngobrol santai selepas makan malam dengan Ustadz Ali Basuki, Lc tentang perbedaan rasa Indomie di Indonesia dengan Indomie di luar negeri yang hambar (kurang MSGnya), sampailah pada kesimpulan bahwa orang-orang di luar negeri biasanya sangat menjaga kesehatan makanannya, khususnya di Eropa. Jangan sampai mereka mati karena makan sembarangan. Dan ini termasuk sifat baik mereka.

Ustadz menambahkan penjelasan dari Syaikh Shalih Alu Syaikh (Menteri Agama Saudi Arabia) tentang sebuah hadits dalam shahih Muslim dari shahabat ‘Amr bin Al Ash tentang tanda-tanda hari kiamat adalah bangsa Eropa dan Amerika yang keturunan Romawi menjadi bangsa yang mayoritas.

“Al-Mustawrid al-Qurasyi berkata kepada ‘Amr Ibn al-‘Ash (ketika al-Qurasyi mengunjungi kediamannya):

“Saya pernah mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Saat datang hari kiamat, orang-orang Romawi akan menjadi mayoritas.’”

Ketika ‘Amr ibn al-‘Ash -radiyallaahu ‘anhu mendengarnya, ia kaget dan berkata:

“Perhatikanlah ucapanmu!”

Al-Mustawrid al-Quraysi -radiyallaahu ‘anhu berkata: “Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar dari Rasulullah.”

‘Amr ibn al-‘Ash berkata: “Jika apa yang kamu katakan benar, itu bisa dipercaya karena mereka memiliki empat kebaikan.

1. Mereka orang yang paling tenang dan sabar dalam menghadapi fitnah dan percekcokan.
2. Mereka cepat pulih setelah mengalami musibah.
3. Mereka kembali menyerang setelah dipukul mundur.
4. Mereka bersikap baik kepada orang miskin, anak yatim, dan orang lemah dan
5. Keutamaan kelima dalam diri mereka adalah bahwa wanita-wanita mereka cantik dan menawan dan mereka tidak mendukung penindasan penguasa tiran.”

~HR. Muslim

Penjual Peyek dari Imogiri

image

Namanya Atmo Wiyono. Umurnya sekira 80 tahun, tinggal di Imogiri, Bantul. Tadi saya menemui beliau saat sedang duduk di sudut depan Bakso Idola, Jalan Taman Siswa, berjualan peyek kacang di atas bakul.

Jika Anda menemui orang-orang seperti Pak Atmo Wiyono, yang berjualan makanan-makanan yang mungkin Anda anggap tidak penting, segeralah beli dagangannya dalam jumlah banyak atau borong sekalian.

Dengan berjualan, orang-orang seperti Pak Atmo Wiyono ini jauh lebih mulia dan lebih layak Anda hargai jerih payahnya dibandingkan pengemis, pengamen, atau bahkan mahasiswa yang tiap bulan minta jatah orang tuanya

Rasululllaah bersabda:

“Andai seseorang di antara kalian pergi mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggung­nya, sehingga dengannya ia dapat bersedekah dan mencukupi kebutuhannya (sehingga tidak meminta kepada) orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik akhirnya orang itu memberinya atau menolak permintaannya.

Karena sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah. Dan mulailah (nafkahmu dari) orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu.” ~ HR. Al Bukhari

Teladan Menghadapi Kecelakaan

Jumat malam lalu, saat saya menjenguk Ustadz Abu Abdurrahman Musaddad (Da’i dari kota Mamuju, Sulbar) di rumah sakit Sardjito yang baru saja kecelakaan selepas maghrib, ada banyak hal yang membuat saya terkesan dari beliau -hafidzhahullah-.

Saya sampai di rumah sakit selepas Isya dan mendapati ustadz Musaddad sedang shalat di kursi. Setelah ditanya apakah sebelumnya sudah wudhu ataukah hanya tayammum, beliau menjawab: “Alhamdulillaah wudhu saya sejak Ashar tadi belum batal.” Masya Allah. Orang yang kecelakaan bisa-bisanya masih menjaga wudhu sejak Ashar.

Tak berhenti di situ. Saat perawat perempuan hendak membantu melepaskan kaos beliau untuk memasang penyangga lengan, beliau menolak. “Biar saya saja yang melepas sendiri.” Diakuinya, itu karena khawatir bersentuhan dengan tangan perawat. Padahal orang lain akana menganggap itu sebagai kondiri darurat.

Pun, saat ditanya apakah sudah memberi kabar kepada keluarga di Mamuju, beliau menjawab, “Istri saya sedang di pelosok Kolaka. Saya tidak mau membuatnya khawatir. Nanti saja kalau saya sudah sembuh (dari sini).”

Dan saat diantar ke ruangan radiologi untuk di-rontgen, beliau berkata: “Mungkin kecelakaan ini akibat maksiat yang saya lakukan. Tadi ketika saya membeli tiket kereta api di stasiun, saya lihat banyak turis wanita (dengan pakaian yang seronok). Mungkin sebab itulah kemudian saya menabrak batu di jalan. Harus banyak-banyak istighfar.”

Karena pelayanan di RS Sardjito yang terkenal lambat, akhirnya kami sepakat memindahkan beliau ke Jogjakarta International Hospital (JIH). Setibanya di JIH, saat hendak diperiksa oleh dokter jaga yang kebetulan perempuan, saya lihat beliau selalu menjaga pandangannya agar selalu menunduk.

Esok harinya Ustadz Musaddad harus menjalani operasi penyambungan pen di bahunya dan alih-alih ketakutan, beliau justru mengisahkan pengalaman para murid shahabat Rasulullah (tabi’in) saat hendak dioperasi tanpa bius. Ada sebagian mereka yang menolak dibius dan ‘cukup’ dengan membaca Al Quran. Sebagian lagi menolak dibius dan menjalani operasi dalam keadaan shalat.

Begitulah potret orang-orang yang shalih. Dalam kondisi darurat pun tetap selalu berusaha takwa kepada Tuhannya. Dekat dengannya seperti dekat dengan penjual minyak wangi. Kalaupun kita tak dapatkan minyak wangi, kita tetap bisa merasakan harum kehidupannya.

Imam Shalat Juga Manusia

Bismillah.

Kita semua pasti pernah lupa atau salah waktu baca ayat-ayat dari Al Quran selepas Al Fatihah dalam shalat. (Iya kan? Hayoo ngaku!) Baik waktu jadi imam maupun shalat sendirian.  Nah kalo kejadian lupanya pas kita jadi imam, bakal jadi awkward moment banget (sial, saya gak nemu padanan frasa yang tepat untuk ‘awkward moment’). Antara malu sama Allah dan merasa bersalah sama jama’ah. #pukpuk.  Mending kalo jama’ah di belakang kita bisa ngingetin kelanjutannya. Nah kalo kagak? Matilh awak.  Jadilah untuk beberapa detik, suasana shalat yang tadinya khusyuk dengan bacaan Quran, #kemudianhening. Tet  tot.

Manusiawi sih sebenernya kalo kita lupa hafalan Al Quran yang kta baca waktu shalat. Semua orang pernah ngalamin hal itu. Entah karena emang pikiran lagi gak tenang (banyak utang. :D), ngantuk, atau cuma grogi karena calon mertua sama calon istri ada di belakang jadi makmum (kaya gitu dibilang ‘cuma’? Hahahaha :p). Biasanya terlihat dengan kaki yang gemetaran, wajah pucat pasi, keringat dingin, dan suara yang berubah seketika.

Imam shalat Maghrib, Isya atau Shubuh di mushola deket kosan saya itu biasanya gantian. Ada tiga sampai lima orang yang biasa maju jadi imam karena memang aktif shalat jamaah dan dianatara jamaah yang lain, bacaan dan hafalannya bagus. Saya kadang-kadang kebagian yang shubuh karena di shalat-shalat lainnya, saya belum pulang ke kosan. Masih ngelayab. Hehehe. Kalo ada seorang dari kami yang salah-salah waktu baca surah dalam shalat, biasanya kami saling mengingatkan.  Tapi seringnya juga saling terdiam karena memang gak hafal surah yang dibaca imam waktu itu, atau memang lagi ngantuk dan gak merhatiin betul ayat demi ayat yang lagi dibaca. Atau ada makmum cantik yang lagi digebet. Eh enggak ding, becanda. Baca lebih lanjut

Saya Rindu Setahun yang Lalu

Hari ini tanggal 26 Oktober 2011. Bagi saya, sudah setahun berlalu sejak Merapi mulai meletus di utara Jogja 2010 silam. Di jam-jam seperti ini, saya ingat masih sedang sibuk men-chat teman-teman saya di facebook untuk membantu para korban letusan. Saya juga masih ingat tentang hujan abu yang begitu tebal dari pagi hingga malam tiada henti. Menutup jalanan dengan lapisan debu yang beraroma khas belerang. Ketika apotek-apotek kehabisan stok masker. Pun saya masih ingat, ketika orang-orang berbondong-bondong tinggalkan Jogja karena khawatir keadaan Merapi semakin memburuk. Kala itu, saya memilih tinggal di sini. Berkawan dengan abu Merapi.

Hari itu saya menelepon ibu saya di rumah untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa pulang. Ibu waktu itu hanya berpesan, “Yang penting kamu sehat di sana dan selamat”. Ahh, pesan yang membuat buliran air mata saya jatuh tak tertahan. Sebegitu mengkhawatirkan kah? Seakan ini adalah akhir kehidupan?  Saya tak juga berhenti berpikir, “Kalau saya pulang seperti halnya ribuan orang lain tinggalkan Jogja, siapa yang akan membantu orang-orang di sini?” Berat memang.  Tapi naluri saya berkata lain. Satu per satu kawan, saya hubungi. Di saat seperti kala itu, butuh lebih dari sekadar doa untuk membantu ringankan beban. Dari hari ke hari, saya banyak terima bantuan melalui apapun bagi korban di sini. Dari pagi hingga sore, saya masih ingat membawa uang tiga juta rupiah di saku celana untuk pergi ke Hypermart membeli sembako. Sejak hari itu hingga dua minggu setelahnya, aktivitas saya praktis berubah. Kuliah diliburkan dan Jogja ditinggal para perantaunya. Di pagi hari saya catat kebutuhan pengungsi sembari menunggu nominal yang cukup untuk belanja, di sore hari saya ke supermarket dekat kampus untuk membeli kebutuhan pengungsi dan saya antarkan seketika itu juga.

Saya lakukan semuanya itu sendirian. Kepuasan melakukan aktivitas positif bagi orang lain sendirian rasanya melampaui apapun. Kesana kemari, sibuk mencatat posko mana yang masih kekurangan. Atau saat pada akhirnya saya hafal letak barang-barang di supermarket karena setiap hari selama dua minggu nyaris tak berhenti belanja berkardus-kardus. Saya pun pada akhirnya berkenalan dengan banyak orang yang mengabdikan dirinya untuk mereka para korban  Merapi. Juga orang-orang yang bahkan saya tidak kenal dan mereka pun tidak kenal saya, serta merta mau memberikan bantuan lewat aksi swadaya untuk Merapi. Memang benar, Merapi kala itu membuat saya dan semua orang menjadi pribadi yang humanis.

Setahun yang lalu, memberi itu bukan berarti kita punya sesuatu dan orang lain tidak punya sesuatu itu. Kala itu, memberi bermakna berempati dengan apa yang pengungsi alami. Mencoba sedikit merasakan nikmatnya bersyukur dengan apa yang didapati selama ini. Nasib orang lain yang tak seberuntung kita dan membayangkan akankah kita setegar mereka jika diuji dengan musibah yang sama. Tentu tak banyak dari kita yang kehilangan sanak saudara dan kampung halaman dalam waktu bersamaan, bukan? Lebih jauh dari itu, bayang-bayang yang menyelimuti mareka tentang kehidupan nyaris pupus karena Merapi meletus. Rutinitas yang biasanya saya lakukan setelah selesai antarkan bantuan  adalah duduk di sudut barak pengungsian mengamati orang-orang dengan nasibnya masing-masing. Memang benar kata Allah, semua yang terjadi di dunia itu bukanlah sia-sia. Ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak terkecuali musibah. Kesabaran, mungkin?

Setahun yang lalu, saya masih ingat saat saya ke sebuah posko di lereng Merapi di Boyolali antarkan bantuan, saya menangis sesenggukan. Ratusan orang yang ternyata belum tersentuh bantuan hanya berbekal 1 liter beras dan sekardus indomie. Atau saat saya ke posko pengungsi di Sleman melihat orang-orang tua dengan tatapan kosong akan harapan. Atau bayi-bayi yang kehabisan sarapan di Muntilan?  Semua itu mengajarkan saya arti ketulusan. Betapa saya hidup di atas kecukupan dan tidak sepantasnya mengeluh saat kekurangan. Agaknya saya kini terlalu sering menjadi manusia pelupa. Dan perlu untuk kembali mengingat saat-saat kehidupan itu juga ada saatnya menderita. Dan saya berpikir, ada kalanya musibah itu perlu datang sesekali agar saya bisa ingat nikmatnya bersyukur dan introspeksi diri.

Setahun yang lalu juga saya mulai sering merenung tentang makna musibah. Sebagai ujian, peringatan, atau adzab dari langit? Ujian tentu bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhannya. Peringatan juga maknanya sebagai kesempatan untuk kembali kepada jalan Allah. Atau justru adzab karena banyaknya dosa yang telah saya lakukan di dunia ini. Apapun, kala itu saya hanya berdoa agar Allah gantikan setelah ini kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ahh, saya rindu sekali suasana seperti itu. Bukan hiruk pikuk hujan abu atau letusan Merapi. Tapi rindu menjadi seseorang yang tegar di tengah musibah. Yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang sama. Bukankah tidak ada yang lebih nikmat dibanding menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang  sama? Saya rindu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saya pun rindu dengan tatapan-tatapan kosong para jompo dan pecah tangis bayi-bayi di barak pengungsian yang mengajarkan saya arti ketulusan.Dan puncaknya, saya rindu menangis syukur kala berkunjung dari satu posko ke posko antarkan bantuan. Rasanya saya ingin kembali ke saat-saat di mana saya begitu sibuk perhatikan sekitar. Menjadi manusia sosial seutuhnya.

Kini setahun telah berlalu. Semuanya berganti dengan hari-hari penuh harapan. Harapan bagi saya dan harapan bagi para korban Merapi yang sampai saat ini masih berjuang merajut kehidupan yang baru. Yang terjadi setahun yang lalu sepantasnya menjadikan kita pribadi yang bijak dari masa ke masa.  Toh intinya bukan tentang berapa kali kita terjatuh dalam ujian, melainkan seberapa tegar kita mampu bertahan dan bangun dari keterpurukan. Selamat tinggal, Merapi. Semoga  engkau tak hanya jadi kenangan.

 

 

Lorong Bengkel Jurusan Fisika, Yogyakarta. 26 Oktober 2011.

[Edisi Mahasiswa] Hedonisme Ala Kami

Kayaknya udah jadi rahasia umum kalo yang namanya mahasiswa itu, terutama yang hidup di perantauan plus  indekos dan jauh dari orang tua, tidak memiliki cukup uang buat hidup boros, atau paling gak, hidup dengan tingkat pengeluaran yang berlebih. Kecuali beberapa orang yang dikaruniai banyak rizki oleh Allah. :D. Kami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran bulanan agar tidak jebol. Uang yang kami peroleh di awal bulan harus kami atur dengan baik untuk cukup makan sebulan, jajan seperlunya, beli buku, fotokopi, transport,dan kebutuhan rumah tangga ala mahasiswa lainnya yang sudah cukup menguras pikiran. Ya ya lah, siapa juga yang gak pusing ngeliat duit di dompet tinggal berwarna merah tua atau hijau beberapa lembar saja? Hahaha.

Tapi, dengan hidup yang pas-pasan sebagai anak kos, hal itu gak bikin kami patah arang untuk sesekali mencicipi gaya hidup ala hedonis. Tentu saja hedonisme di sini ya versi mahasiswa. Gak wah wah amat. Ef Ye I (For Your Info), hedonisme itu semacam gaya hidup yang menjadikan  kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidupnya. Jadi, karena mahasiswa juga manusia yang memiliki hasrat sama yang bisa bikin ati seneng, kami pun mengenal istilah hedon ala kami sendiri. Baca lebih lanjut