[Edisi Mahasiswa] Hedonisme Ala Kami

Kayaknya udah jadi rahasia umum kalo yang namanya mahasiswa itu, terutama yang hidup di perantauan plus  indekos dan jauh dari orang tua, tidak memiliki cukup uang buat hidup boros, atau paling gak, hidup dengan tingkat pengeluaran yang berlebih. Kecuali beberapa orang yang dikaruniai banyak rizki oleh Allah. :D. Kami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran bulanan agar tidak jebol. Uang yang kami peroleh di awal bulan harus kami atur dengan baik untuk cukup makan sebulan, jajan seperlunya, beli buku, fotokopi, transport,dan kebutuhan rumah tangga ala mahasiswa lainnya yang sudah cukup menguras pikiran. Ya ya lah, siapa juga yang gak pusing ngeliat duit di dompet tinggal berwarna merah tua atau hijau beberapa lembar saja? Hahaha.

Tapi, dengan hidup yang pas-pasan sebagai anak kos, hal itu gak bikin kami patah arang untuk sesekali mencicipi gaya hidup ala hedonis. Tentu saja hedonisme di sini ya versi mahasiswa. Gak wah wah amat. Ef Ye I (For Your Info), hedonisme itu semacam gaya hidup yang menjadikan  kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidupnya. Jadi, karena mahasiswa juga manusia yang memiliki hasrat sama yang bisa bikin ati seneng, kami pun mengenal istilah hedon ala kami sendiri. Baca lebih lanjut

[Edisi Hafizh] Di Atas Bumi Masih Ada Langit

Hari ini, minggu (31/10) saya bergegas berangkat ke masjid kampus buat ikutan MTQ Mahasiswa tingkat universitas. Cabang yang saya ikuti itu hifzhil qur’an 1 juz. Hehe, saya bukan siapa-siapa kalo kudu ngikut yang cabang tilawatil quran, maklum, belum bisa ngaji pake lagu yang bagus, baru sebisanya. Khusus di cabang hifzhil qur’an, sebenernya ada 2 cabang yaitu cabang 1 juz dan 2 juz. Saya tau diri lah, belum banyak ngapalin quran, jadi ngikut yang 1 juz aja, juz 1 (Al Baqarah ayat 1-141).

 

Di posting kali ini saya gak mau ngomongin gimana serunya lomba dan bagaimana hasilnya karena emang nyatanya masih hari rabu nanti (3/10) pengumumannya. Saya mau cerita tentang  jenis orang-orang yang saya temui di ‘arena’ perlombaan kali ini. Ya, saya bener-bener kagum sama orang-orang yang saya liat. Mereka bener-bener jauh di atas saya. Ya kemampuannya, ya semangatnya juga. Terutama sama yang ikutan lomba hifzhil 2 juz, juz 2 dan juz 3. Oh ya, juz yang diperlombakan di MTQ kali ini udah ditentuin sama panitia. Contohnya, untuk lomba 1 juz, juz yang diperlombakan itu cuma juz 1 atau juz 30.  Dan untuk yang 2 juz, ditentuin juz 2 dan juz 3. Gak bisa milih. T_T.

Baca lebih lanjut

[Edisi Opini] Menciptakan Dokter-dokter Sosial

Tadi sore saya diajak teman saya untuk ikutan diskusi di Fakultas Kedokteran (FK) UGM. Membahas tentang “Mengenang Prof. Sardjito”. Diadakan  oleh BEM FK UGM. Bagi saya menarik, jarang-jarang mahasiswa kedokteran bikin diskusi. Okelah. Kata teman saya, diskusi ini bertujuan untuk menanamkan kembali pemikiran-pemikiran Prof. Sardjito pada para mahasiswa kedokteran. FYI, Prof. Sardjito itu rektor pertama UGM dan pendiri RS Prof. dr. Sardjito Yogyakarta.

Sebenarnya, saya juga kurang tahu apa saja pemikiran Prof. Sardjito yang banyak dikagumi orang itu. Setelah saya cari tahu, oh ternyata semangat kesederhanaan, ulet dalam keterbatasan, dan nilai-nilai sosialnya yang begitu tinggi. Jadi, kalau dihubungkan dengan realita mahasiswa kedokteran sekarang, diskusi sore tadi bertujuan untuk menciptakan para dokter yang humanis, yang peka terhadap masyarakat sosialnya. Baca lebih lanjut

[Edisi Bujangan] Gadis-gadis Penghafal Qur’an

Bismillaah

Hmm. Judulnya bikin merem melek yah ? (atau perasaan saya saja?). Ya ya lah, obrolan tentang gadis, apalagi yang ngebahas itu laki-laki bujangan seperti saya, bakalan gak ada habisnya. Di usia saya yang bukan remaja lagi 😀 , tema perjodohan memang menjadi tema obrolan yang paling asik dan menggelitik. Hahay. Tapi ya sudah, namanya juga laki-laki, doyan sama perempuan.  Terus, apa hubungannya dengan tulisan saya kali ini ? Baiklah , mari kita kembali ke laptop. 😛

Jadi begini, saya tiap hari lewat di sebuah asrama khusus putri. Karena kebetulan lokasinya hanya sekitar 100 meter dari kos-kosan saya di Kauman, Yogyakarta. Mau gak mau, tiap saya pulang dari kampus, berangkat ke kampus, atau keluar kandang mencari apapun itu, saya pasti melewati asama putri  itu. Asrama putri apa? Gak gedhe-gedhe banget sih, cuma dihuni sekitar 20 orang gadis. Tapi, yang bikin saya takjub itu lhoh, kerjaan mereka dari waktu ke waktu cuma ngehafalin Qur’an. Padahal usia mereka masih pada remaja, antara 10 sampe 18 tahun. Apa gak hebat tuh ? Baca lebih lanjut