Saya Rindu Setahun yang Lalu

Hari ini tanggal 26 Oktober 2011. Bagi saya, sudah setahun berlalu sejak Merapi mulai meletus di utara Jogja 2010 silam. Di jam-jam seperti ini, saya ingat masih sedang sibuk men-chat teman-teman saya di facebook untuk membantu para korban letusan. Saya juga masih ingat tentang hujan abu yang begitu tebal dari pagi hingga malam tiada henti. Menutup jalanan dengan lapisan debu yang beraroma khas belerang. Ketika apotek-apotek kehabisan stok masker. Pun saya masih ingat, ketika orang-orang berbondong-bondong tinggalkan Jogja karena khawatir keadaan Merapi semakin memburuk. Kala itu, saya memilih tinggal di sini. Berkawan dengan abu Merapi.

Hari itu saya menelepon ibu saya di rumah untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa pulang. Ibu waktu itu hanya berpesan, “Yang penting kamu sehat di sana dan selamat”. Ahh, pesan yang membuat buliran air mata saya jatuh tak tertahan. Sebegitu mengkhawatirkan kah? Seakan ini adalah akhir kehidupan?  Saya tak juga berhenti berpikir, “Kalau saya pulang seperti halnya ribuan orang lain tinggalkan Jogja, siapa yang akan membantu orang-orang di sini?” Berat memang.  Tapi naluri saya berkata lain. Satu per satu kawan, saya hubungi. Di saat seperti kala itu, butuh lebih dari sekadar doa untuk membantu ringankan beban. Dari hari ke hari, saya banyak terima bantuan melalui apapun bagi korban di sini. Dari pagi hingga sore, saya masih ingat membawa uang tiga juta rupiah di saku celana untuk pergi ke Hypermart membeli sembako. Sejak hari itu hingga dua minggu setelahnya, aktivitas saya praktis berubah. Kuliah diliburkan dan Jogja ditinggal para perantaunya. Di pagi hari saya catat kebutuhan pengungsi sembari menunggu nominal yang cukup untuk belanja, di sore hari saya ke supermarket dekat kampus untuk membeli kebutuhan pengungsi dan saya antarkan seketika itu juga.

Saya lakukan semuanya itu sendirian. Kepuasan melakukan aktivitas positif bagi orang lain sendirian rasanya melampaui apapun. Kesana kemari, sibuk mencatat posko mana yang masih kekurangan. Atau saat pada akhirnya saya hafal letak barang-barang di supermarket karena setiap hari selama dua minggu nyaris tak berhenti belanja berkardus-kardus. Saya pun pada akhirnya berkenalan dengan banyak orang yang mengabdikan dirinya untuk mereka para korban  Merapi. Juga orang-orang yang bahkan saya tidak kenal dan mereka pun tidak kenal saya, serta merta mau memberikan bantuan lewat aksi swadaya untuk Merapi. Memang benar, Merapi kala itu membuat saya dan semua orang menjadi pribadi yang humanis.

Setahun yang lalu, memberi itu bukan berarti kita punya sesuatu dan orang lain tidak punya sesuatu itu. Kala itu, memberi bermakna berempati dengan apa yang pengungsi alami. Mencoba sedikit merasakan nikmatnya bersyukur dengan apa yang didapati selama ini. Nasib orang lain yang tak seberuntung kita dan membayangkan akankah kita setegar mereka jika diuji dengan musibah yang sama. Tentu tak banyak dari kita yang kehilangan sanak saudara dan kampung halaman dalam waktu bersamaan, bukan? Lebih jauh dari itu, bayang-bayang yang menyelimuti mareka tentang kehidupan nyaris pupus karena Merapi meletus. Rutinitas yang biasanya saya lakukan setelah selesai antarkan bantuan  adalah duduk di sudut barak pengungsian mengamati orang-orang dengan nasibnya masing-masing. Memang benar kata Allah, semua yang terjadi di dunia itu bukanlah sia-sia. Ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak terkecuali musibah. Kesabaran, mungkin?

Setahun yang lalu, saya masih ingat saat saya ke sebuah posko di lereng Merapi di Boyolali antarkan bantuan, saya menangis sesenggukan. Ratusan orang yang ternyata belum tersentuh bantuan hanya berbekal 1 liter beras dan sekardus indomie. Atau saat saya ke posko pengungsi di Sleman melihat orang-orang tua dengan tatapan kosong akan harapan. Atau bayi-bayi yang kehabisan sarapan di Muntilan?  Semua itu mengajarkan saya arti ketulusan. Betapa saya hidup di atas kecukupan dan tidak sepantasnya mengeluh saat kekurangan. Agaknya saya kini terlalu sering menjadi manusia pelupa. Dan perlu untuk kembali mengingat saat-saat kehidupan itu juga ada saatnya menderita. Dan saya berpikir, ada kalanya musibah itu perlu datang sesekali agar saya bisa ingat nikmatnya bersyukur dan introspeksi diri.

Setahun yang lalu juga saya mulai sering merenung tentang makna musibah. Sebagai ujian, peringatan, atau adzab dari langit? Ujian tentu bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhannya. Peringatan juga maknanya sebagai kesempatan untuk kembali kepada jalan Allah. Atau justru adzab karena banyaknya dosa yang telah saya lakukan di dunia ini. Apapun, kala itu saya hanya berdoa agar Allah gantikan setelah ini kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ahh, saya rindu sekali suasana seperti itu. Bukan hiruk pikuk hujan abu atau letusan Merapi. Tapi rindu menjadi seseorang yang tegar di tengah musibah. Yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang sama. Bukankah tidak ada yang lebih nikmat dibanding menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan bersabar dalam waktu yang  sama? Saya rindu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saya pun rindu dengan tatapan-tatapan kosong para jompo dan pecah tangis bayi-bayi di barak pengungsian yang mengajarkan saya arti ketulusan.Dan puncaknya, saya rindu menangis syukur kala berkunjung dari satu posko ke posko antarkan bantuan. Rasanya saya ingin kembali ke saat-saat di mana saya begitu sibuk perhatikan sekitar. Menjadi manusia sosial seutuhnya.

Kini setahun telah berlalu. Semuanya berganti dengan hari-hari penuh harapan. Harapan bagi saya dan harapan bagi para korban Merapi yang sampai saat ini masih berjuang merajut kehidupan yang baru. Yang terjadi setahun yang lalu sepantasnya menjadikan kita pribadi yang bijak dari masa ke masa.  Toh intinya bukan tentang berapa kali kita terjatuh dalam ujian, melainkan seberapa tegar kita mampu bertahan dan bangun dari keterpurukan. Selamat tinggal, Merapi. Semoga  engkau tak hanya jadi kenangan.

 

 

Lorong Bengkel Jurusan Fisika, Yogyakarta. 26 Oktober 2011.

Iklan

[Edisi Relawan] Setengah Jam di Boyolali

Malam ini (10/11), seperti biasanya saya kembali menyalurkan bantuan dari kawan-kawan saya yang menyumbangkan donasinya untuk para pengungsi Merapi. Kali ini tujuannya adalah Boyolali, tepatnya di dusun Candisari, desa Ngegek, kecamatan Ampel. Mengapa? Karena berdasarkan informasi yang saya dapat dari akun twitter jalinmerapi, pengungsi di sana tidak tersentuh bantuan. Definisinya macam-macam, ada yang kekurangan, atau bahkan sejak Jum’at yang lalu sama sekali tidak menerima bantuan apapun.

Saya berangkat bersama dua kawan saya dengan memakai mobil pinjaman. Dengan membawa logistik senilai satu juta rupiah berupa kebutuhan-kebutuhan yang sudah kami catat sebelumnya, kami bertolak dari Yogyakarta sekitar jam 22.00, dan tiba di tempat tujuan sekitar tengah malam. Medannya agak berat, karena jalanan yang menanjak ke arah pengunungan. Saya disambut oleh bapak-bapak yang sedang duduk di teras rumah kecil yang dijadikan posko. Tanpa basa-basi, saya pun langsung memberikan bantuan yang saya bawa dari Jogja, berupa sembako,bumbu dapur, susu bayi, dan alat-alat kebersihan lainnya. Setelah semua barang telah diturunkan dari mobil, saya dan kawan-kawan sempat mengobrol sejenak untuk mengetahui kondisi pengungsi di desa ini. Baca lebih lanjut

[Edisi Renungan] Memahami Arti Merapi

Sabtu pagi yang lalu (30/10) semua orang pada heboh. Gimana nggak, jalanan di jogja diselimuti debu vulkanik hasil hujan abu dini harinya. Apotek langsung diserbu orang-orang yang pada mau beli masker. Itu yang kedua kalinya Merapi beraktivitas sangat agresif sejak selasa (26/10) lalu. Dan sekarang walaupun udah gak hujan abu lagi, efeknya masih terasa. Tadi pagi aja jam 10.10 juga Merapi melepaskan wedhus gembelnya lagi.

Kemaren sabtu saya bener-bener merasa tersiksa. Gak cuma saya sih sebenernya, orang-orang juga, pada sesek napas lah, bersin-bersin lah, alergi debu lah. Ya, alergi debu. Penyakit yang baru beberapa bulan ini saya sadari hinggap dalam tubuh saya. Kontan, sabtu kemaren adalah hari di mana saya bersin-bersin sepanjang hari. Selesai ujian tengah semester, saya langsung capcus pulang ke rumah karena kepala pusing dan hidung bersin-bersin gak keruan. Baca lebih lanjut