Sudah Lama ‘Ngaji’ Tapi Kok Pesta Pernikahannya Tidak Syar’i?

Tadi malam sehabis bubaran kelas fiqih PSDI, seperti biasanya saya ngobrol dengan ustadz kami. Ustadz bercerita bahwa ada salah satu murid pengajiannya yang besok akan menikah, namun ustadz tidak berkenan menghadiri pestanya, lantaran akan diselenggarakan secara tidak syar’i.

Lalu ustadz pun mengeluhkan fenomena yang banyak terjadi di kalangan orang yang sudah lama ‘ngaji’ tentang lemahnya mereka dalam mempertahankan idealisme agamanya di hadapan calon mertua ketika merencanakan pesta pernikahan. Baca lebih lanjut

Iklan

Sudah Menikah Tapi Jadi Malas Beribadah?

Tidak diragukan lagi bahwa menikah merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan. Mengapa disebut ibadah? Karena jika dilakulan sesuai tuntunan, menikah akan menjadikan seseorang sepatutnya semakin dekat dengan Allah.

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi -rahimahullah- dalam kitab beliau Aisarut Tafasir, ketika menjelaskan mengenai firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS Ar-Ruum: 21].

Beliau -rahimahullah- menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan yang sangat jelas itu membuat kita berpikir bahwa itu merupakan petunjuk atas kekuasaan Allah, ilmu-Nya, dan rahmat-Nya.

Dan pengetahuan akan semua itu penting untuk mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya, dan mentaati-Nya, dengan melaksanakan apa yang Dia sukai dan meninggalkan apa yang Dia benci..

Sudah seharusnya orang yang sudah menikah, dengan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah ini, harusnya semakin mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, semakin semangat beribadah kepada Allah, semakin rajin berlajar agama, dan hal-hal lain yang berupa kebaikan.

Pun, seseorang yang sudah menikah tingal menanggung separuh “beban” agama. Beban berupa godaan syahwat dan perut telah ia penuhi dengan menikah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”
(HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Lihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi. Kenapa bisa dikatakan demikian?

Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah.

Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

Al Mula ‘Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “bertakwalah pada separuh yang lainnya”, maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.

Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, “Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”

Namun ada pasangan suami istri yang justru semakin jauh dari ketaatan setelah menikah. Dahulu sewaktu masih lajang ia rajin ke masjid, banyak menghafal Al Qur’an, selalu hadir di majelis-majelis ilmu, semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah, namun setelah menikah justru tak nampak lagi batang hidungnya di masjid, hafalan Qur’an pun tersisa sedikit, majelis ilmu terasa asing dalam rutinitasnya.

Menikah membuatnya sibuk dalam pusaran kehidupan dunia. Membuatnya tak sempat lagi merasakan nikmatnya sujud menghadap Tuhannya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana agar ia dan anak-istrinya bisa makan. Rutinitasnya tak ubahnya seperti kambing yang setiap hari dilepas ke padang rumput. Hanya memikirkan perut.

Inilah yang jarang dipertimbangkan kebanyakan orang. Hanya memikirkan yang enak-enak saja dari pernikahan. Makan ada yang masakin, pergi ada yang nyariin, dan tidur ada yang nemenin. Ia lupa tujuan utama dari pernikahannya. Yakni sempurna separuh agamanya.

Pilihannya menikah sepatutnya membuat pribadinya semakin baik. Semakin menjadi hamba Allah yang shalih. Bukan malah rumah tangganya memalingkannya dari semangat mengamalkan perintah agama. Alih-alih semakin sempurna agamanya, rumah tangganya justru menjadi salah satu ujian terberatnya dalam hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” ~Al Munafiquun: 9

Sudah sepatutnya bagi kita semua  selalu mengharap taufik kepada Allah agar rumah tangga kita menjadi bahtera yang mengantarkan kita ke dermaga ketaatan. Anak istri kita menjadi cahaya mata yang menuntun pandangan kita kepada jalan agama Allah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Poligami Bukan Sunnah

Serius kepengen punya istri lebih dari satu? Nih baca hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Barangsiapa yang memiliki dua orang istri, lalu ia condong kepada salah seorang dari keduanya, ia akan datang pada hari kiamat sedangkan bahunya dalam keadaan miring sebelah.”

~HR. Abu Daud, Nasa’i, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

Al Ustadz Abu Zakariyya Riskhi Ariesta menjelaskan tentang hadits ini bahwa sebenarnya memiliki istri lebih dari satu itu menanggung konsekuensi yang berat dan tidak mudah, yang tidak akan ditanggung jika istrinya hanya satu. Ketika seseorang memutuskan menikah untuk yang kedua, ketiga, dan keempat, berarti dia sudah menyanggupi ancaman dalam hadits dari Abu Hurairah tadi (pundaknya miring di hari kiamat jika tidak adil terhadap istri-istrinya).

Dan madzhab Imam Ahmad berpendapat poligami bukanlah termasuk sunnah. Dan kebanyakan ahli fiqih dari berbagai madzhab berpendapat poligami hanya rukhshah (keringanan) bagi siapa yang tidak bisa menahan syahwatnya kecuali dengan menikah lagi.

Ini berbeda dengan kenyataan yang ada sekarang ini saat seorang lelaki meminang seorang perempuan, dia mensyaratkan calon istrinya agar kelak membolehkannya poligami. Ini keliru. Dia bermudah-mudahan memasukkan dirinya ke dalam orang-orang yang bisa terancam dalam hadits nabi tersebut, yang jika seandainya dia tidak berpoligami, tentu dia tidak akan terkena ancaman berpundak miring di hari kiamat nanti.

Kalau ada yang menyanggah, “Bukankah Nabi memiliki banyak istri?”, maka jawabnya adalah karena ada tujuan-tujuan tertentu di dalamnya, bukan asal poligami.

Dan jika ada lagi yang menyanggah, “Bukankah para shahabat dulu juga berpoligami?” Maka jawabnya adalah banyak juga para shahabat yang tidak berpoligami. Dan bahkan banyak dari para ulama Islam yang tidak sempat menikah.

Sehingga dalam persoalan ini, yang dilihat bukanlah perbuatannya (dilakukan atau tidak), namun yang dilihat adalah acuan hukumnya apakah itu sunnah, sunnah muakkadah, atau hanya mubah.

Wallaahu ta’ala a’lam.