[Edisi Ramadhan] Amplop untuk Pak Kyai

Bismillah

Udah ketahuan ya dari judulnya? Hehe. Ya nih, masih seputar kultum di bulan Ramadhan. Cuma di bulan ramadhan aja orang bisa dengerin ceramah agama tiga kali sehari. Ya kan? Mulai dari kuliah shubuh, jelang berbuka, dan kultum sebelum tarawih. Tapi, kadang-kadang jadwal  yang udah disusun itu gak bisa semuanya terisi sama pembicara. Ada saja sesekali yang berhalangan hadir. Akhirnya, daripada gak ada yang ngisi ceramah, orang-orang yang difungsikan sebagai “ban serep” seringkali bermain peran. Haha. Maksudnya apa nih, kok pake istilah ban serep?

Ya, jadi ceritanya mushola deket kos saya itu cuma mushola kecil. Paling banyak menampung 50 sampe 60 orang jama’ah. Dan gak mau kalah sama Mesjid Gedhe Kauman (btw, udah tau donk kalo kos saya di Kauman? #pentingbanget ), jadwal penceramah pun udah rapi dibuat oleh panitia. Dari awal sampe akhir Ramadhan. Dari kuliah shubuh sampe kultum tarawih. Masalahnya, penceramah yang udah dijadwalin itu seringkali mangkir dari jadwalnya. Parahnya, tanpa pemberitahuan pula. Jadilah orang-orang yang menjadi ban serep itu beraksi. Menyelamatkan jama’ah dari keheningan mimbar kosong. Haha. #tunjukidungsendiri

Baca lebih lanjut

[Edisi Ramadhan] Tips Mengisi Kultum buat Newbie

Ya namanya juga bulan puasa, pasti banyak banget tuntutan buat panitia kegiatan menyemarakkannya. Bikin jadwal kultum misalnya. Mulai kultum abis shubuh, menjelang berbuka, dan pas shalat tarawih. Saking abisnya stok ustadz, kamu yang notabene  bukan ustadz, santri juga kagak, alim juga kadang-kadang doank, ngerti agama cuma sedikit,  ketiban “kehormatan” dari panitia buat ngisi kultum di mushola deket rumah. Nah lo? Mau ngeles apa? Mereka udah susah-susah bikin jadwal dan nyari stok ustadz yang kira-kira lebih pantas buat ceramah, tapi   terpaksa milih kamu yang abal-abal ini buat ngisi. Hahaha. Satu kata yang mau gak mau harus kita jawab kalo udah dapet amanah (ceilee.. amanah nih yee :P) kaya gini adalah, “Insya Allah.” Tapi, jangan asal jawab juga, jangan cuma berbekal nekad tapi gak punya persiapan. Sapa bilang ngisi kultum itu sama kaya ngobrol atau orasi? Beda bro. Isi kultum itu kudu religius. Yah secara kamu ngisinya di mesjid/musholla, bukan di depan kelas atau di bunderan yang bisa seenaknya orasi ngalor ngidul.

Tips apa aja sih yang kudu kamu tau kalo mau ngisi kultum pertama kalinya? Biar jama’ah gak bubar atau minimalnya gak ngelempar sendal mereka ke mukamu, karena tiba-tiba kamu yang kutu kupret ini yang maju naik ke podium gitu. Hehehe. Biar kita semangat. Semangat ramadhan, semangat latihan jadi pildacil :D, atau latihan mengamalkan hadist “ballighuu ‘anniy walaau aayatan. Sampaikanlah (ilmu) dariku walau satu ayat). Insya Allah bakal dikasih kemudahan. Amin. Langsung aja lah. Dari tadi gak to the point nih. Okey, tips mengisi kultum buat kamu para newbie yang baru pertama kali naik podium mushola itu kira-kira begini. Baca lebih lanjut

[Edisi Lebaran] Ternyata Selama Ini Kita Salah Memaknai ‘Iedul Fithri!

Dalam kesemarakan dan kesyahduan Idul Fitri banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui maknanya, dan yang selainnya ternyata justru mengetahuinya dengan pengetahuan yang salah. Sebagai amanat ilmiah untuk menempatkan pemahaman yang penting ini pada tempatnya, meluruskan kesalah-kaprahan yang turun-temurun dan dalam rangka menasihati kaum muslimin maka kami susun tulisan ini.

  1. I. Definisi Idul Fitri
  2. a. Tinjauan Bahasa Arab (Etimologis)

Idul Fitri (transliterasi yang lebih tepat sebenarnya ‘Îdul Fithri, dan karenanya, itulah yang akan digunakan selanjutnya dalam tulisan ini, -ed.) adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata, ‘Îd dan Al-Fithru. Lafazh ‘Îd berasal dari kata âda ya‘ûdu yang artinya ‘kembali’ atau ‘seakan-akan mereka kembali kepadanya.’ Dan ada yang mengatakan bahwa pecahan katanya dari al-‘âdah, yang artinya ‘karena mereka membiasakannya.’ Bentuk jamaknya, a’yâd. Dikatakan, ‘ayyâdal muslimûn, artinya, “Mereka menghadiri hari raya mereka.” Sedangkan Al-Fithru artinya ‘berbuka dari puasa’ (Lihat: Al-Mu’jamul Wasîth).

Ibnul A’rabî mengatakan, “Hari raya dinamakan ‘îd karena kegiatan itu kembali datang pada tiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru.” (Lisânul ‘Arab: 3/319). Baca lebih lanjut

Nasehat Ulama dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah pernah ditanya: “Samahatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada kaum muslimin dan kita semua, dalam rangka menyambut datangnya bulan (Ramadhan) yang memiliki keutamaan ini?”

Beliau menjawab:

Nasehatku kepada seluruh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan adalah hendaklah mereka bertakwa kepada Allah jalla wa’ala, dan hendaklah mereka bertaubat dari semua perbuatan dosa yang telah lalu dengan taubat yang benar, serta hendaklah mereka memahami agama ini dengan baik dan mempelajari hukum-hukum tentang masalah puasa dan juga hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan pada bulan ini, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, maka ia akan difahamkan dalam masalah agama.” [Muttafaqun ‘alaihi][1] Baca lebih lanjut