Kisah Semalam Bersama Syaikh Ibnu Jibrin

Suatu malam (di sepuluh hari bulan ramadhan), sekelompok pemuda mendatangi Syaikh selepas Isya’ sebelum shalat tarawih. Mereka bertanya manakah yang lebih baik: bermakmum untuk shalat tarawih ataukah pergi ke pasar dan memberikan nasihat dan melakukan dakwah di jalanan. Memang, sungguh disayangkan, saat waktu shalat Tarawih banyak gadis-gadis dan anak lelaki yang tidak diawasi oleh orang tuanya pergi ke Pasar untuk bercengkerama dan melakukan banyak hal yang tidak layak dilakukan di saat waktu shalat tarawih. Para remaja itu bukanlah penduduk Makkah dan mereka hanya bepergian ke Makkah agar bisa shalat dan puasa di tanah suci.

Syaikh kala itu berkata akan mejawab pertanyaan sekelompok pemuda itu keesokan harinya dan mereka bisa menemui beliau di tempat dan waktu yang sama. Setelah itu, hari terasa sangat lama bagiku karena aku sudah tidak sabar memikirkan jawaban yang akan diberikan Syaikh Ibnu Jibrin. Aku mulai berpikir tentang segala kemungkinan jawaban yang akan disampaikan Syaikh kepada mereka. Intinya, malam itu adalah malam yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Malam hari berikutnya, aku datang lebih awal agar bisa mendapatkan tempat di dekat Syaikh. Selepas isya’, para pemuda itu datang lagi dan Syaikh berkata: “Bismillah. Ayo pergi!”

“Pergi kemana wahai Syaikh?” tanya para pemuda itu.

Dengan senyum beliau yang khas, Syaikh menjawab: “Pergi ke pasar bersama-sama.”

Itulah jawaban beliau. Berda’wah di pasar dan menasihati orang-orang itu lebih dicintai Allah daripada bermakmum untuk shalat Tarawih, jika memang dilakukan dengan ikhlas mengharap pahala dari Allah.

Tentu saja aku mengikuti mereka pergi ke pasar. Pasar itu dinamakan Suuq Al Layl (Pasar malam) dan pemuda-pemuda yang bersama Syaikh Ibnu Jibrin terlihat sangat gembira Syaikh bisa bersama mereka malam itu. Di pintu masuk pasar, Syaikh memperhatikan sebuah toko yang menjual kaset-kaset musik lalu Syaikh meminta sang pemilik toko untuk keluar.

Syaikh mengingatkan sang pemilik dengan empat mata tentang larangan Islam perihal musik dan seruan yang ada dalam lirik-lirik lagu. Aku menyelinap agar bisa sedekat mungkin dengan Syaikh agar aku bisa menyaksikan apa yang disampaikan Syaikh kepada lelaki pemilik toko itu. Salah satu yang Syaikh katakan adalah fakta bahwa Abdullah Ibnu Abbas memilih untuk tidak tinggal di Makkah karena beliau takut (saat melakukan dosa) dosa-dosanya akan menjadi berlipat sebagaimana pahala kebaikan juga akan berlipat saat dilakukan di Makkah, semata karena kesucian dan kesakralan kota Makkah.

“Tokomu ini hanya 50 meter jaraknya dari Masjidil Haram. Apakah kamu siap kelak menghadap Allah dengan membawa kaset-kaset musik ini?”, tanya Syaikh dalam bahasa yang santun

10 menit berselang, aku mendengar lelaki pemilik toko itu berbicara dengan suara yang keras kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan berlinang air mata.

“Sungguh Allah menjadi saksi bagiku, malaikat-malaikatNya dan kalian semua. Aku berjanji sebelum Shubuh aku akan membuang semua kaset-kaset musik ini. Mulai sekarang, aku akan mengubah bisnisku ke jalan yang halal dengan menjual Quran, ceramah agama Islam dan nashid-nashid (yang diperbolehkan).”

Kisah tersebut masuk di koran-koran berita keeseokan harinya. Dan malam itu adalah malam yang sungguh menakjubkan di mana aku belajar pelajaran hidup yang sangat berharga yang bisa aku amalkan sampai hari ini.

1. Keteladanan lebih berpengaruh dan membekas daripada sekadar kata-kata. Jika kita ingin kata-kata yang kita sampaikan memiliki pengaruh dan dampak yang nyata,

2. Ulama dan pemimpin sejati adalah mereka yang berbaur dengan para pemuda, hidup bersama mereka, yang mudah ditemui di tempat umum. Bukanlah orang-orang yang memberikan perintah dan nasihat dari kejauhan.

3. Nasihat kepada orang yang Anda kenal maupun yang Anda tidak kenal bisa berdampak sangat besar jika dilakukan dengan santun dan lemah lembut.

4. Terkadang, kita terlalu banyak bicara tentang kondisi yang tidak bisa kita ubah namun justru tidak melakukan perubahan apa-apa pada hal yang ringan.

NB: Syaikh Abdullah ibnu Jibrin lahir tahun 1933 di sebuah desa yang bernama Al Quwai’iah. beliau tumbuh di kota Ar Riin dan memulai pendidikannya di tahun 1940. Beliau mulai menghafal Al Quran dengan bimbingan ayahnya dan menyelesaikan hafalannya di hadapan Syaikh Abdul Aziz Asy Syitsri. Beliau juga menghafal beberapa kitab referensi agama. Beliau biasa mengadiri majelis para ulama senior dalam bidang Syariah, bahasa, dan sejarah. Syaikh Ibnu Jibrin wafat di tahun 2009. Rahimahullah.

~Diringkas dari pengalaman Walid Al Basyouni, diterjemahkan dari status Green Lane Masjid

Kisah Syaikh Al Utsaimin Membangun Rumah

Tentang Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ada sebuah kisah yang menarik.

Dikisahkan, suatu kali Raja Khalid -rahimahullah- mengunjungi rumah Syaikh, sebagaimana kebiasaan para pemimpin muslimin dalam rangka menghormati para Ulama. Raja melihat rumah Syaikh yang sangat sederhana dan menawarkan untuk membangun rumah yang baru untuk Syaikh. Syaikh lalu berterima kasih dan berkata:

“Aku sedang membangun rumah di distrik As Saalihiyyah (sebuah distrik di Unaizah, Qasim). Berikan saja bantuan Anda kepada masjid-masjid dan lembaga sosial yang membutuhkan bantuan.”

Setelah Raja Khalid pergi, beberapa orang yang duduk berkumpul dalam perjamuan itu berkata kepada Syaikh:

“Wahai Syaikh, kami tidak tahu kalau engkau sedang membangun rumah di As Saalihiyyah.”

Syaikh menjawab, “Bukankah di As Saalihiyyah ada tanah pekuburan?”

(Maksud Syaikh, rumah ‘masa depan’ beliau adalah pekuburan”)

~Diterjemahkan dari https://www.facebook.com/Greenlanemasjid/posts/541456429227416 , mengutip kitab Ad Duuratsamiin fiy Tarjamti Faqiihil Ummatil ‘Allaamah Ibnu Utsaimin halaman 218

Kisah Syaikh Bin Baz: Bertakwalah Meski Hanya Lima Langkah

Seseorang pernah bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz:

“Wahai Syaikh, sesungguhnya saya memiliki sandal sebelah kanan yang ada 5 (lima) langkah (jaraknya) dari sandal kiri. Apa yang harus saya lakukan? Bolehkah saya memakai sandal yang kiri, melangkah dengannya, kemudian memakai sandal yang sebelah kanan?

Dijawab oleh Syaikh bin Baz:

“Tidak boleh. Engkau ambil sandal sebelah kirimu (dengan tanganmu) lalu kau melangkah mengambil sandal kananmu, baru kau pakai kedua sandalmu.”

Penanya menyanggah:

“Tapi wahai Syaikh, itu hanya sejarak lima langkah saja.”

Syaikh memungkasi:

“Kalau Engkau sanggup bertakwa kepada Allah dan RasulNya meski hanya satu langkah, maka lakukanlah.”

Info: Rasulullah dalam hadits yang shahih telah melarang kita memakai satu sandal sebelah saja.

~Dinukil dari ceramah Ustadz Maududi Abdullah, Pekanbaru.

Melawan Kejumudan Sebagian Ikhwan Salafi

Akhir pekan lalu (23-24/6), saya mengikuti tabligh akbar nasional yang diselenggarakan di Bantul, Yogyakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula ulama-ulama Ahlussunnah (masyayikh) dari timur tengah sebagai pemateri. Tahun ini adalah kali kedelapan. Sudah menjadi kebiasaan saya, jika bepergian, untuk mengabadikan momen-momen yang menurut saya memiliki kesan tersendiri. Termasuk mengambil gambar syaikh, yang duduk di meja tepat di hadapan saya, melalui kamera handphone. Foto tersebut akhirnya saya unggah di facebook, sebagaimana kebiasaaan orang-orang mengunggah foto-foto mereka melalui media sosial.

Tak dinyana, foto yang menampilkan wajah syaikh Muhammad Ghalib (ulama dari Arab Saudi) dan Al Ustadz Qomar Su’aidi itu menuai banyak komentar dan kecaman dari sebagian ikhwan salafi. Seperti yang diketahui, sebagian orang mengharamkan foto yang menampilkan makhluk bernyawa (manusia/hewan) dan sebagian lagi membolehkannya. Dan saya cenderung memegang pendapat ulama-ulama yang membolehkannya. Namun, syaikh dan ustadz yang ada dalam foto saya, dikenal memegang pendapat bahwa fotografi makhluk bernyawa adalah perbuatan haram. Sebenarnya urusan saya seharusnya hanya dengan syaikh dan ustadz yang ada dalam foto tersebut, karena beliau berdua dapat dipastikan keberatan dengan foto yang saya unggah di facebook. Baca lebih lanjut