[Edisi Kisah] Tentang Buang Air Besar di Surga

Dikisahkan bahwa salah seorang tabi’in yang bernama Iyas bin Mu’awiyah Al Muzanni – Rahimahullah-  terkenal dengan kecerdasannya. Beliau  berguru kepada banyak shahabat Rasulullaah -Shalallaahu ‘alayhi wasallam-. Di waktu kecil, beliau belajar ilmu hisab di sekolah yang diajar oleh seorang Yahudi ahli dzimmah (orang kafir yang hidup berdampingan dengan muslimin). Pada suatu hari, guru tersebut sedang asyik membicarakan agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas sedang turut mendengarkannya.

Guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas: “Tidakkah kalian heran kepada orang-orang Islam? Mereka berkata bahwa mereka akan makan di surga, namun tidak akan buang air besar?”

Iyas menoleh kepadanya dan berkata,”Bolehkah aku ikut campur dalam perbincangan kalian, wahai guru?” Baca lebih lanjut

[Kisah Tabi’in] Rabi’ah bin Farrukh dan Ayahnya

Tersebutlah ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy, gubernur Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah bersama budaknya yang pemberani, Farrukh.

Setelah Allah memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di Balik Sungai itu.

Ar-Rabi’ bin Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.

Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan penghormatan.

Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.

Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh, mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.

Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah negeri Cina dan kerajaan Shughd. Baca lebih lanjut