Rasa Indomie dan Tanda-tanda Hari Kiamat

Kemarin saat ngobrol santai selepas makan malam dengan Ustadz Ali Basuki, Lc tentang perbedaan rasa Indomie di Indonesia dengan Indomie di luar negeri yang hambar (kurang MSGnya), sampailah pada kesimpulan bahwa orang-orang di luar negeri biasanya sangat menjaga kesehatan makanannya, khususnya di Eropa. Jangan sampai mereka mati karena makan sembarangan. Dan ini termasuk sifat baik mereka.

Ustadz menambahkan penjelasan dari Syaikh Shalih Alu Syaikh (Menteri Agama Saudi Arabia) tentang sebuah hadits dalam shahih Muslim dari shahabat ‘Amr bin Al Ash tentang tanda-tanda hari kiamat adalah bangsa Eropa dan Amerika yang keturunan Romawi menjadi bangsa yang mayoritas.

“Al-Mustawrid al-Qurasyi berkata kepada ‘Amr Ibn al-‘Ash (ketika al-Qurasyi mengunjungi kediamannya):

“Saya pernah mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Saat datang hari kiamat, orang-orang Romawi akan menjadi mayoritas.’”

Ketika ‘Amr ibn al-‘Ash -radiyallaahu ‘anhu mendengarnya, ia kaget dan berkata:

“Perhatikanlah ucapanmu!”

Al-Mustawrid al-Quraysi -radiyallaahu ‘anhu berkata: “Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar dari Rasulullah.”

‘Amr ibn al-‘Ash berkata: “Jika apa yang kamu katakan benar, itu bisa dipercaya karena mereka memiliki empat kebaikan.

1. Mereka orang yang paling tenang dan sabar dalam menghadapi fitnah dan percekcokan.
2. Mereka cepat pulih setelah mengalami musibah.
3. Mereka kembali menyerang setelah dipukul mundur.
4. Mereka bersikap baik kepada orang miskin, anak yatim, dan orang lemah dan
5. Keutamaan kelima dalam diri mereka adalah bahwa wanita-wanita mereka cantik dan menawan dan mereka tidak mendukung penindasan penguasa tiran.”

~HR. Muslim

Iklan

Teladan Menghadapi Kecelakaan

Jumat malam lalu, saat saya menjenguk Ustadz Abu Abdurrahman Musaddad (Da’i dari kota Mamuju, Sulbar) di rumah sakit Sardjito yang baru saja kecelakaan selepas maghrib, ada banyak hal yang membuat saya terkesan dari beliau -hafidzhahullah-.

Saya sampai di rumah sakit selepas Isya dan mendapati ustadz Musaddad sedang shalat di kursi. Setelah ditanya apakah sebelumnya sudah wudhu ataukah hanya tayammum, beliau menjawab: “Alhamdulillaah wudhu saya sejak Ashar tadi belum batal.” Masya Allah. Orang yang kecelakaan bisa-bisanya masih menjaga wudhu sejak Ashar.

Tak berhenti di situ. Saat perawat perempuan hendak membantu melepaskan kaos beliau untuk memasang penyangga lengan, beliau menolak. “Biar saya saja yang melepas sendiri.” Diakuinya, itu karena khawatir bersentuhan dengan tangan perawat. Padahal orang lain akana menganggap itu sebagai kondiri darurat.

Pun, saat ditanya apakah sudah memberi kabar kepada keluarga di Mamuju, beliau menjawab, “Istri saya sedang di pelosok Kolaka. Saya tidak mau membuatnya khawatir. Nanti saja kalau saya sudah sembuh (dari sini).”

Dan saat diantar ke ruangan radiologi untuk di-rontgen, beliau berkata: “Mungkin kecelakaan ini akibat maksiat yang saya lakukan. Tadi ketika saya membeli tiket kereta api di stasiun, saya lihat banyak turis wanita (dengan pakaian yang seronok). Mungkin sebab itulah kemudian saya menabrak batu di jalan. Harus banyak-banyak istighfar.”

Karena pelayanan di RS Sardjito yang terkenal lambat, akhirnya kami sepakat memindahkan beliau ke Jogjakarta International Hospital (JIH). Setibanya di JIH, saat hendak diperiksa oleh dokter jaga yang kebetulan perempuan, saya lihat beliau selalu menjaga pandangannya agar selalu menunduk.

Esok harinya Ustadz Musaddad harus menjalani operasi penyambungan pen di bahunya dan alih-alih ketakutan, beliau justru mengisahkan pengalaman para murid shahabat Rasulullah (tabi’in) saat hendak dioperasi tanpa bius. Ada sebagian mereka yang menolak dibius dan ‘cukup’ dengan membaca Al Quran. Sebagian lagi menolak dibius dan menjalani operasi dalam keadaan shalat.

Begitulah potret orang-orang yang shalih. Dalam kondisi darurat pun tetap selalu berusaha takwa kepada Tuhannya. Dekat dengannya seperti dekat dengan penjual minyak wangi. Kalaupun kita tak dapatkan minyak wangi, kita tetap bisa merasakan harum kehidupannya.

Melawan Kejumudan Sebagian Ikhwan Salafi

Akhir pekan lalu (23-24/6), saya mengikuti tabligh akbar nasional yang diselenggarakan di Bantul, Yogyakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula ulama-ulama Ahlussunnah (masyayikh) dari timur tengah sebagai pemateri. Tahun ini adalah kali kedelapan. Sudah menjadi kebiasaan saya, jika bepergian, untuk mengabadikan momen-momen yang menurut saya memiliki kesan tersendiri. Termasuk mengambil gambar syaikh, yang duduk di meja tepat di hadapan saya, melalui kamera handphone. Foto tersebut akhirnya saya unggah di facebook, sebagaimana kebiasaaan orang-orang mengunggah foto-foto mereka melalui media sosial.

Tak dinyana, foto yang menampilkan wajah syaikh Muhammad Ghalib (ulama dari Arab Saudi) dan Al Ustadz Qomar Su’aidi itu menuai banyak komentar dan kecaman dari sebagian ikhwan salafi. Seperti yang diketahui, sebagian orang mengharamkan foto yang menampilkan makhluk bernyawa (manusia/hewan) dan sebagian lagi membolehkannya. Dan saya cenderung memegang pendapat ulama-ulama yang membolehkannya. Namun, syaikh dan ustadz yang ada dalam foto saya, dikenal memegang pendapat bahwa fotografi makhluk bernyawa adalah perbuatan haram. Sebenarnya urusan saya seharusnya hanya dengan syaikh dan ustadz yang ada dalam foto tersebut, karena beliau berdua dapat dipastikan keberatan dengan foto yang saya unggah di facebook. Baca lebih lanjut

[Edisi Ramadhan] Amplop untuk Pak Kyai

Bismillah

Udah ketahuan ya dari judulnya? Hehe. Ya nih, masih seputar kultum di bulan Ramadhan. Cuma di bulan ramadhan aja orang bisa dengerin ceramah agama tiga kali sehari. Ya kan? Mulai dari kuliah shubuh, jelang berbuka, dan kultum sebelum tarawih. Tapi, kadang-kadang jadwal  yang udah disusun itu gak bisa semuanya terisi sama pembicara. Ada saja sesekali yang berhalangan hadir. Akhirnya, daripada gak ada yang ngisi ceramah, orang-orang yang difungsikan sebagai “ban serep” seringkali bermain peran. Haha. Maksudnya apa nih, kok pake istilah ban serep?

Ya, jadi ceritanya mushola deket kos saya itu cuma mushola kecil. Paling banyak menampung 50 sampe 60 orang jama’ah. Dan gak mau kalah sama Mesjid Gedhe Kauman (btw, udah tau donk kalo kos saya di Kauman? #pentingbanget ), jadwal penceramah pun udah rapi dibuat oleh panitia. Dari awal sampe akhir Ramadhan. Dari kuliah shubuh sampe kultum tarawih. Masalahnya, penceramah yang udah dijadwalin itu seringkali mangkir dari jadwalnya. Parahnya, tanpa pemberitahuan pula. Jadilah orang-orang yang menjadi ban serep itu beraksi. Menyelamatkan jama’ah dari keheningan mimbar kosong. Haha. #tunjukidungsendiri

Baca lebih lanjut