Hingar Bingar Perayaan Sekaten di Jogja

masjid_agungSudah sejak sebulan yang lalu, kawasan alun-alun utara kota Jogja dipenuhi oleh ramainya pengunjung Pasar Sekaten tiap malam. Ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang datang membanjiri Pasar Malam untuk “menghibur diri “ dan bersenang-senang. Tak peduli tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, semuanya bercampur baur menjadi satu larut dalam gemerlapnya Pasar Malam Sekaten. Saya pun yang awalnya acuh tak acuh (ada beberapa alasan tentangnya) menjadi sedikit “peduli” dengan hiruk pikuk orang-orang yang hilir mudik kesana. Maklum saja, saya tinggal di sebuah rumah kost yang letaknya kurang lebih hanya 200 meter di sebelah barat alun-alun utara kota Jogja. Sehingga mau tidak mau saya pun harus ikut merasakan “dampak” dari “wabah” ramainya pengunjung Pasar Malam Sekaten. Selain dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Penghematan Nasional (Hari raya-nya anak kost), alasan saya untuk cuek dengan keramaian Pasar Malam itu lebih ke alasan prinsip (Idealist mode : ON).

Pasar Malam Sekaten merupakan event tahunan yang diadakan oleh masyarakat Jogja dan sekitarnya untuk menyambut hari Sekaten (Maulud Nabi Muhammad). Kendati berdasarkan kalender “Peringatan” Maulud Nabi Muhammad jatuh pada tanggal 9 Maret, namun gegap gempita Pasar Malam itu dapat dirasakan sejak sebulan yang lalu. Ibarat orang bilang, puncak perayaan Sekaten tinggal menghitung hari saja. Dan jika sekarang banyak orang Jogja bersiap menyambut perayaan “warisan nenek moyang” tersebut, maka berbeda halnya dengan saya. Saya justru tidak terpengaruh dengan hingar bingar perayaan menyambut hari suci nan sakral milik orang Jogja ini.

Baca lebih lanjut

Iklan